Ulama Tidak Pernah Takut Kepada Kemungkaran Penguasa

Ulama Tidak Pernah Takut Kepada Kemungkaran Penguasa

Mustanir.com – Mengingkari para penguasa yang berbuat kemunkaran merupakan bagian yang sangat penting dalam menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar. Terlebih ketika bahaya kemunkaran tersebut menimpa umat Islam. Dalam kondisi seperti ini, para ulama wajib untuk mengumumkan ketidaksetujuan dan pengingkaran mereka. Karena dengan begitu, umat tidak mengira bahwa diamnya mereka berarti menyetujui dan mengesahkan perbuatan para penguasa.

Tidak Selalu Harus Sembunyi-Sembunyi

Para salaf —baik dari shahabat Nabi SAW maupun generasi setelah mereka—tidak pernah keberatan atau gentar menghadapi para raja dan penguasa untuk menyeru kepada yang makruf dan mencegah yang munkar, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan sesuai tuntutan maslahatnya.

Misalnya, tatkala Marwan bin Hakam mengeluarkan mimbar pada hari raya dan  berkhutbah terlebih dahulu sebelum shalat dengan menyelisihi sunnah Nabi SAW, tiba-tiba seorang lelaki berdiri di hadapannya seraya berkata dengan suara yang tegas, “Wahai Marwan! Engkau telah menyelisihi sunnah, dan mengeluarkan mimbar pada hari raya, padahal hal itu tidak pernah dicontohkan dan engkau memulai khutbah sebelum shalat.”

Lantas, Abu Said Al-Khudri mendukung lelaki tersebut dengan berkata, “Sungguh, lelaki ini telah menunaikan tugasnya.” (HR. Abu Dawud)

Artinya, ia telah melaksanakan kewajiban yang diperintahkan dalam hadits Nabi SAW, “Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim)

Syaikh Salman Al-Audah dalam kitab Min Wasa’il daf’I Al-Ghurbah menjelaskan bahwa lelaki tersebut telah mengingkari penguasa secara terang-terangan dengan berlandaskan pada beberapa sebab. Di antaranya:

  • Pada saat itu, kemunkaran dilakukan secara terang-terangan dan diketahui oleh seluruh rakyat. Sebab hal itu berkenaan dengan syiar agama yang terlihat secara kasat mata.
  • Kemunkaran ketika itu memungkinkan untuk segera diubah, yakni agar Marwan shalat terlebih dahulu, baru kemudian berdiri di atas mimbar untuk berkhu
  • Barangkali juga disebabkan sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Nawawi,“Sesungguhnya lelaki tersebut didukung oleh keluarga besarnya dan ia mampu berlindung di belakang mereka, sehingga hal itu tidak membuatnya takut terhadap tindakan yang akan diambil oleh Marwan.” (Imam Nawawi, Syarh Shahih Muslim, 2/22)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abu Said sendiri pernah menunjukkan sikap yang lebih tegas daripada lelaki tersebut. dan ini diceritakan sendiri oleh beliau, “Dahulu,” kata Abu Said Al-Khudri,“setiap Rasulullah SAW keluar menuju tempat lapang untuk shalat Idul Fitri atau Idul Adha, hal pertama yang beliau lakukan ialah shalat dua rekaat. Kemudian beliau berdiri di hadapan manusia, sedangkan mereka semua duduk di dalam shaf-shaf mereka. Beliau menasihati mereka, berwasiat dan menyampaikan perintah kepada mereka. Jika beliau berkehendak untuk memberhentikan pasukan, maka beliau langsung memberhentikan mereka. Atau, berkehendak memerintahkan sesuatu, maka beliau akan langsung memerintahkan. Kemudian beliau pergi.”

Abu Said Al-Khudri melanjutkan, “Kaum muslimin masih terus melaksanakan sunnah Nabi SAW ini hingga aku keluar bersama Marwan—ketika itu ia menjabat sebagai gubernur Madinah—pada hari raya Idul Fitri atau Idul Adha.

Tatkala kami telah sampai di tanah lapang, ternyata mimbar yang dibangun oleh Katsir bin Al-Shalt telah disediakan. Tiba-tiba Marwan hendak menaikinya untuk berkhutbah. Lantas, aku tarik bajunya dan ia pun menarik tanganku, lalu ia naik mimbar dan berkhutbah sebelum shalat.

Lantas, aku berkata kepadanya, ‘Wallahi, kamu telah mengubah sunnah!’ Ia berkata, ‘Wahai Abu Said, apa yang engkau ketahui telah ditinggalkan.’ Maka, aku berkata kepadanya, ‘Demi Allah, apa yang aku ketahui lebih baik daripada yang tidak aku ketahui.’

Lalu, ia berkata, ‘Sesungguhnya manusia tidak akan mendengarkan khutbah kami setelah shalat, maka aku dahulukan khotbah sebelum shalat’.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dalam hadits ini, Ibnu Hajar berkata, “Terdapat contoh pengingkaran para ulama terhadap para penguasa manakala mereka menyelisihi sunnah.” (Ibnu Hajar, Fathul Bari, 2/450)

Sikap yang sama juga pernah disampaikan oleh Hasan Al-Bashri, ia meriwayatkan, “Sesungguhnya Aidz bin Amra—salah seorang shahabat Nabi SAW—pernah mendatangi Ubaidullah bin Ziyad (gubernur Irak pada masa pemerintahan Yazid bin Muawiyah), lalu berkata, ‘Wahai anakku (maksudnya adalah Ubaidullah bin Ziyad), sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya, sejelek-jelek penguasa ialah para penguasa yang kejam terhadap rakyatnya. Karena itu, janganlah engkau termasuk dari mereka.”

Ubaidullah berkata kepadanya, ‘Duduklah, sesungguhnya engkau hanyalah salah seorang sahabat Muhammad yang rendahan (bukan dari termasuk yang mulia, para pemimpin ataupun ulama mereka).’ Lantas, Aidz berkata dengan tegas, ‘Adakah di antara sahabat Nabi yang rendahan! Sesungguhnya orang-orang rendahan hanya ada pada generasi setelah mereka atau selain mereka!’.” Artinya, orang yang rendah ialah kamu dan orang yang semisal dengan kamu! (HR. Muslim)

Ulama Tidak Pernah Takut dengan Penguasa

Sepanjang sejarah generasi Islam, para pemimpin dan ulama senantiasa mengawasi para khalifah, penguasa, dan raja. Caranya ialah dengan menasihati, mengarahkan, dan mencegah dari perbuatan yang tidak sesuai dengan syariat, baik secara sembunyi-sembunyi, jika maslahat yang dicapai tersembunyi dan dengan terang-terangan jika maslahat yang dicapai terang-terangan.

Sejak dulu umat Islam tak pernah sepi dari para ulama yang pemberani. Mereka tidak gentar meneriakkan kebenaran dan mengingkari orang-orang yang berbuat batil, baik itu para penguasa maupun rakyat biasa. di antara para pelopor mereka sebut saja misalnya, Atha’ bin Abi Rabah, Hasan Al-Bashry, Al-Auza’i, Sufyan Ats-Tsauri, Sa’id bin Al-Musayyib, Sa’id bin Jubair, Malik, Syafi’i, Ahmad, Al-Bukhari, Al-’Izz bin Abdissalam, Ibnu Taimiyah dan yang lainnya

Dengan banyaknya para lelaki pemberani pada abad-abad yang mulia, baik dari kalangan shahabat Nabi SAW maupun orang-orang yang mengikuti mereka, akhirnya mereka menjadi sebaik-baik pengawas atas tindak-tanduk yang dilakukan oleh pemerintah. Karenanya, para pemimpin mereka secara umum merupakan para pemimpin yang lurus, berpegang teguh terhadap syariat, dan mau menerima nasihat.

Imam Al-Ghazali telah menuturkan beberapa kisah yang baik dari kehidupan mereka. Lalu, ia membandingkan mereka dengan para ulama pada zamannya. Ia berkata, “Itulah sepenggal dari sejarah para ulama dan kebiasaan mereka dalam beramar ma’ruf dan nahi munkar. Mereka tidak peduli dengan kekuatan para penguasa. Sebab mereka bertawakal kepada Allah untuk menjaga mereka, dan mereka rela dengan ketetapan Allah jika memberi mereka rezeki kesyahidan. Karena lantaran niat mereka ikhlas hanya untuk Allah semata, ucapan mereka mampu melunakkan hati sekalipun hati yang keras.

Sementara pada zaman ini, lisan para ulama tak lepas dari ketamakan sehingga mereka hanya diam. Andaikata mereka berbicara, maka kehidupan mereka bertolak belakang dengan yang mereka ucapkan, sehingga mereka pun gagal. Andai saja mereka jujur dan mengharapkan ilmu yang hak, niscaya mereka akan berhasil.

Rusaknya rakyat disebabkan oleh rusaknya para pemimpin, sedangkan rusaknya para pemimpin disebabkan oleh rusaknya para ulama. Para ulama tersebut rusak karena mereka dikuasai oleh ketamakan pada harta dan jabatan. Siapa saja yang dikuasai oleh kecintaan pada dunia, sekali-kali ia tidak akan sanggup menegakkan amar makruf nahi mungkar atas orang-orang rendahan, apalagi kepada para raja dan para pembesar.” (Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, 2/357)

Sejatinya apapun bentuk kemungkaran harus dihilangkan, entah siapapun yang melakukannya. Terlebih ketika kemungkaran tersebut dilakukan secara terang-terangan dan membawa efek buruk terhadap mayoritas umat. Menasehati dengan cara diam-diam memang sebuah cara yang ideal, namun ketika cara tersebut tidak diindahkan maka mengingkari secara terang-terangan menjadi sebuah pilihan. Tentunya semua itu dilakukan sesuai dengan pertimbangan maslahat dan madharat. Wallahu a’alam bis shawab!

SUMBER

Categories