Ternyata Hanya Urusan Perut

MUSTANIR.net – Dalam salah satu diskusi kami dengan kawan-kawan para pegiat dakwah melanjutkan kehidupan Islam, ada satu pertanyaan yang menarik. Ini pertanyaannya:

“Dengan fakta segamblang ini (tentang berbagai kemunduran akibat penerapan sistem dari Barat), mengapa masih banyak yang betah dengan sistem kufur tersebut dan enggan mengambil sistem Islam sebagai solusi?”

Alhamdulillah ada banyak jawaban dari teman-teman kami. Dan saya dapat penegasan lagi untuk jawaban tersebut dari Sirah Nabawiyah. Pertanyaan yang serupa dengan pertanyaan di atas bisa kita tanyakan kembali dalam konteks empat belas abad lalu:

“Mengapa Abu Lahab menolak Islam? Mengapa masyarakat Thaif mengusir Rasulullah bahkan mereka melempari beliau dengan batu dan kotoran hingga kaki beliau yang mulia itu berdarah?”

Terkait penolakan Abu Lahab dan kawanannya, di antara alasannya adalah, karena dakwah Rasulullah berpotensi mengganggu kemapanan masyarakat Makkah, dan berpotensi mematikan sumber daya ekonomi mereka yang tumbuh di atas budaya pagan, berpotensi mematikan bisnis yang sudah terlanjur mereka nikmati dengan nyaman selama ratusan tahun.

Ada pun penolakan penduduk Thaif adalah karena ternyata mereka banyak yang menjalin hubungan bisnis dan perdagangan dengan kaum kafir Quraisy Makkah. Sehingga mereka khawatir jika mereka menerima Rasulullah, maka hal itu bisa merusak hubungan bisnis dan perdagangan mereka yang sudah terjalin lama dengan para pembesar Quraisy. Sesederhana itu.

Dan itu pulalah yang terjadi sekarang. Penolakan terhadap dakwah yang ingin menegakkan syariat Islam itu tidak jauh-jauh dari urusan bisnis dan kekuasaan yang akan terganggu dengan tegaknya Islam. Mereka takut bisnis dan kekuasaannya terganggu, takut tidak bisa mengeruk kekayaan sekehendak hati lagi jika Islam tegak sempurna.

Maka segala cara akan dilakukan untuk melumpuhkan dakwah yang hendak menegakkan Islam. Mulai dari merusak citra dakwahnya, merusak citra para pengembannya, merusak citra organisasinya, dan hal-hal licik lainnya.

Alasannya sih manis-manis. Demi menjaga keberagaman lah. Demi menjaga anu lah, demi menjaga itu lah. Padahal aslinya mah cuma satu, demi menjaga bisnis dan kekuasaannya agar tidak terganggu. Itu saja. []

Sumber: Abay Abu Hamzah

About Author

Categories