Pesan Padat Mendalam Ustadz Abu di Reuni Akbar 212

MUSTANIR.net – Tanggal 2 Desember menjadi hari yang ikonik bagi banyak orang. Sebagian kalangan umat Islam ada mengenangnya sebagai hari persatuan umat Islam Indonesia. Sebagian lain mengenang sebagai hari pembelaan terhadap agama Islam atas penistaan agama yang dilakukan seorang penguasa. Sedangkan kalangan yang tidak suka dan berseberangan akan menganggap tanggal 2 Desember sebagai hari biasa atau hari keburukan.

Karena banyak yang menganggap tanggal 2 Desember sebagai hari yang ikonik itu sehingga perlu dikenang dan dilestarikan setiap tahunnya, maka diselenggarakanlah sebuah pertemuan setiap tanggal 2 Desember. Pertemuan yang sering disebut sebagai Reuni 212 itu diadakan dengan mengundang semua orang yang hadir pada sebuah aksi massa terbesar di Indonesia pada 2 Desember 2016 silam, dan semua kalangan dari ormas-ormas Islam dan tokoh-tokoh umat Islam serta pejabat tertentu.

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang sudah sepuh (87 tahun) dengan bersemangat memenuhi undangan panitia untuk hadir ke Silang Monas, Jakarta Pusat, pada 2 Desember 2025 walaupun sebenarnya Ustadz Abu bukan “lulusan” Aksi Bela Islam 212 yang terselenggara pada Jumat, 2 Desember 2016 silam karena pada saat itu beliau masih “tinggal” di balik jeruji besi.

Dari Solo, beliau berangkat bersama Ustadz Yahya Abdurrahman (Direktur Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki) dan Ustadz M Sholeh Ibrahim (ustadz senior di Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki), didampingi Ustadz Abdul Rohim Ba’asyir.

Selasa tengah hari, rombongan sudah tiba di Jakarta Pusat dan singgah di sebuah masjid di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, untuk menunaikan shalat Dzuhur dilanjutkan Asar dengan jama’. Ba’da Isya’, bersama rombongan, dengan langkah tertatih ditopang dengan tongkat dan dituntun putranya, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, mulai bergerak menuju panggung Reuni Akbar 212 di Silang Monas dengan menaiki mobil dari kawasan Menteng menembus kerumunan di kawasan Monas.

Sekira pukul 22.00, beliau diberi kesempatan berbicara selama 5 menit di depan puluhan ribu massa yang hadir. Beliau hanya menyampaikan sebuah ayat singkat dan padat yang disebut bermakna sangat dalam oleh Habib Rizieq Shihab, yaitu surat Al Baqarah (2) ayat 208.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Melalui ayat tersebut, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir mengajak seluruh umat Islam untuk secara bersama-sama menegakkan ajaran syariat Islam dengan mengamalkan seluruh hukumnya.

Menurut beliau, dengan hidup di bawah syariat Islam, maka kehidupan manusia bisa keluar dari kegelapan menuju kepada kehidupan yang terang. Namun sebaliknya, jika kita meninggalkan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari, maka kita justru akan selalu hidup di dalam kegelapan.

ٱللَّهُ وَلِىُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ يُخْرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ ۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَوْلِيَآؤُهُمُ ٱلطَّٰغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ ٱلنُّورِ إِلَى ٱلظُّلُمَٰتِ ۗ

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan (thaghut), yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (Al Baqarah ayat 257).

Namun demikian, beliau juga berpesan bahwa penegakan syariat Islam itu di Indonesia tidak boleh dilakukan dengan jalan pengeboman atau jalan kekerasan sejenisnya.

“Cukup dengan berdoa dan berdakwah dulu. Pemerintah kita nasihati, mau atau tidak mau itu urusan Allah. Kalau kita mau berjuang, insya Allah, Allah akan mengabulkan doa kita. Berdoalah setiap supaya Indonesia bisa diatur dengan hukum Islam,” kata beliau.

Sebagai penutup, beliau mendoakan para mujahid di Palestina, khususnya di Gaza dan mendoakan supaya Indonesia menjadi negara yang lebih baik dengan Islam. Beliau juga mengharapkan para tokoh-tokoh Islam dan para ustadz, kyai, dan ulama senantiasa aktif menasihati para pejabat pemerintah. []

Sumber: Ahmad Fikreatif

About Author

Categories