(freepik.com)

Virus Membuka Banyak Lubang dalam Sistem Sosial

MUSTANIR.net – Jared Diamond sudah memberi warning tentang virus sebagai penanda peradaban. Michel Foucault telah mengingatkan kita tentang biopower dan rezim medis hari ini. Di negeri +62, kita masih saja terjebak pada retorika cebong versus kampret saat warga negara perlahan tumbang dan tidak tertampung di rumah sakit.

Virus Corona telah membuka banyak lubang dalam sistem sosial kita.

Sejarah manusia memang tak bisa lepas dari virus. Profesor Jared Diamond dalam buku yang meraih Pulitzer yakni Guns, Germs, and Steel (Bedil, Kuman, dan Baja), menyebutkan virus dan kuman sebagai penanda peradaban manusia. Setiap kali virus menyerang manusia, maka selalu terjadi perubahan lanskap sosial hingga jatuhnya rezim.

Diamond menuturkan, saat wabah Black Death hadir di abad ke-14, diperkirakan ada 200 juta populasi orang Eropa yang tewas mengenaskan. Wabah yang dipicu oleh kuman Xenopsylla Cheopis itu datang dari hewan yang mengalami proses domestikasi agar dikonsumsi manusia.

Wabah ini menyebabkan sosiologi orang Eropa berubah drastis. Ada perubahan cara pandang dari mereka yang
berhasil selamat dan kebal pada virus ini. Kepercayaan pada gereja dan otoritas Roma berkurang. Bahkan masyarakat menjadi lebih pragmatis dan sekuler.

Saat hasrat untuk menjelajah Dunia Baru menyeruak, orang Eropa datang untuk menjajah ke Amerika Latin hingga Afrika, lalu Asia. Mereka membawa hewan-hewan yang sudah didomestikasi yakni ayam, itik, anjing, dan kuda. Kuman yang ada pada hewan ini lalu bermutasi ke manusia sehingga menewaskan lebih separuh populasi bumi.

Peradaban Eropa menjadi lebih unggul karena banyaknya populasi benua lain yang lenyap. Selanjutnya, berbagai
wabah lain hadir dan selalu mengubah tatanan kehidupan manusia.

Kini, di abad modern, manusia kembali berhadapan dengan wabah. Bedanya, manusia hari ini lebih siap menghadapinya sebab telah memiliki senjata sains dan teknologi. Namun wabah juga kian canggih dan perkasa dalam menyerang manusia.

Virus Corona hadir di mana-mana, tanpa memandang rasa, agama, etnik, serta kebangsaan. Bahkan virus ini bisa
membuat manusia harus menjauh dari semua aktivitas massal, termasuk menjalankan ritual keagamaan.

Virus ini memaksa manusia untuk mengosongkan masjid-masjid suci, gereja-gereja dan katedral besar. Manusia hanya bisa berdoa di rumah berkarib dengan keheningan.

Masing-masing negara merespon virus ini dengan cara berbeda. Ada negara yang mengunci wilayahnya dan
memaksa warganya untuk tidak bepergian. Ada pula yang memilih opsi berbeda. Semuanya tergantung pada kesiapan dan kemampuan negara itu.

Indonesia pun menjadi bagian dari negara yang dihantam pandemi itu. Dalam pertempuran melawan virus ini,
Indonesia akan menghadapi situasi yang jauh lebih pelik dari negara-negara lain. Indonesia berpotensi menjadi negara paling parah terkena dampak.

Baru pertama diumumkan, kepanikan segera terasa. Virus ini tidak saja menyerang fisik, tetapi juga membuka banyak hal yang selama ini tersembunyi.

Pertama, virus ini menunjukkan bobroknya komunikasi para pejabat publik kita pada saat krisis. Awalnya, pejabat kita memandang enteng virus ini. Kita kehilangan dua bulan yang harusnya bisa digunakan untuk membangun benteng pertahanan yang lebih kuat.

Para pejabat kita seakan tidak punya sense of crisis. Mereka melontarkan banyak guyon yang kemudian dimuat secara vulgar oleh media-media kita sehingga menimbulkan kepanikan. Meskipun belakangan sudah ada semacam
protokol komunikasi, tetap saja tidak bisa memadamkan kegenitan pejabat kita saat berkomunikasi dengan publik.

Kedua, virus ini bukan saja menghantam warga negara, tetapi juga menghantam sistem kesehatan nasional kita. Kita harus menghitung ulang sejauh mana benteng pelayanan kesehatan kita bisa melindungi dan memberi rasa aman kepada warganya.

Kita harus menghitung rasio rumah sakit dan pasien, kelengkapan alat, serta standar pelayanan kesehatan yang
masih di bawah negara lain. Kita tidak sedang menguji kekuatan rezim hari ini dalam memberikan pelayanan
kesehatan, melainkan menguji sistem pelayanan kesehatan yang fundasinya dibangun sejak republik ini berdiri.

Kita sedang bertarung dan menyandarkan harapan pada senjata kesehatan yang fundasinya rapuh sejak lama dan
harus selalu siaga untuk melayani 200 juta lebih warga.

Di atas kertas, kita punya rumah sakit, tenaga dokter dan perawat. Tapi belum tentu semua bisa beroperasi untuk
melawan virus Corona. Belum tentu semua bersedia untuk terlibat dalam perang global ini demi melindungi segenap
anak bangsa.

Di satu lini masa Twitter, seorang jurnalis bercerita bagaimana dirinya ditolak saat hendak tes virus di satu
rumah sakit swasta. Bahkan Jubir Pemerintah untuk Penanganan Corona, Achmad Yurianto, mengakui tidak
semua rumah sakit bersedia untuk memberikan pelayanan kepada pasien yang diduga Corona.

Beberapa rumah sakit, khususnya rumah sakit besar dan mewah, melihat kasus ini secara untung rugi. Ketika mereka merawat pasien Corona, maka pasien lain akan menolak datang berobat ke rumah sakit itu. Mereka memilih
menyelamatkan bisnisnya ketimbang menyelamatkan umat manusia.

Di sini, kita teringat pada konsep bio-power dan bio-politics dari Michel Foucault, filsuf asal Perancis, yang melihat kesehatan sebagai instrumen rezim untuk mendisiplinkan warganya. Kita melihat bagaimana kuasa dan kapital telah lama menguasai dunia kesehatan kita sehingga seakan bisa menentukan kehidupan seseorang (bio-power).

Kita bisa melihat rumah sakit didirikan untuk melayani siapa, siapa yang diuntungkan dengan layanan kesehatan kita, serta di mana posisi warga biasa dalam sistem pelayanan kesehatan yang dikuasai oleh rezim medis ini.

Ketiga, virus ini membuka betapa lemahnya dunia riset kita. Dalam situasi ini, kekuatan pertahanan semua bangsa akan ditentukan pada sejauh mana kemajuan riset dan ilmu pengetahuan. Di saat manusia berpacu menghadapi pasien yang terus berdatangan, para ilmuwan juga berpacu di laboratorium untuk sesegera mungkin menemukan
penangkal.

Di masa kini, ilmu pengetahuan adalah mercusuar yang memandu terang gelapnya satu bangsa. Bangsa yang maju
adalah bangsa yang punya riset hebat serta banyak capaian mengesankan di kapangan ilmu pengetahuan. Sekian abad republik berdiri, ilmu pengetahuan kita jalan di tempat sehingga kita hanya bisa melongo melihat bagaimana negara lain memaksimalkan ilmu pengetahuan untuk mengatasi Corona.

Kita masih bergelut dengan hal-hal mendasar, misalnya bagaimana proses memeriksakan diri di rumah sakit,
bagaimana menyediakan tes-pack Corona, bagaimana mengidentifikasi seseorang yang terjangkit virus, bagaimana
mengontrol agar virus tidak menyebar.

Pemerintah kita sempat menentang peneliti Harvard yang meragukan kesiapan kita untuk mendeteksi virus. Kini, tak ada lagi bahasa menentang. Pemerintah harus siap menghadapi kenyataan yang sebelumnya gagal diprediksinya. Seiring waktu, virus itu menyerang warga kita hingga memenuhi bangsal rumah sakit.

Di era Jokowi, riset kita diarahkan menjadi sesuatu yang lebih pragmatis. Pemerintah hanya fokus pada startup, lalu
mengabaikan riset-riset di berbagai litbang kementerian kita. Pemerintahan ini hanya fokus pada riset yang segera menjadi uang. Para milenial yang pandai mencetak uang menjadi stafsus pemerintah. Bahkan pemerintah mengampanyekan juga menggelontorkan dana untuk para pelaku startup.

Padahal dalam situasi seperti ini, kita hanya bisa berpaling pada para periset kita yang dengan sabar telah
mengembangkan benih-benih ilmu pengetahuan. Ketika kita tidak menjadi pemain dunia itu, maka kita hanya bisa
menunggu kerja-kerja peneliti di negara lain agar hasilnya bisa kita impor demi warga sendiri.

Keempat, virus ini membuka banyak konflik yang belum usai di masyarakat kita. Semasa pilpres, kita melihat konflik antara cebong versus kampret. Kini, konflik yang sama kembali memuncak dan memenuhi ruang media sosial kita. Para cebong telah bertransformasi menjadi die hard pemerintah. Sedangkan kampret telah menjadi oposisi yang mengkritik semua kebijakan pemerintah.

Di sisi lain, kita pun melihat bagaimana elite politik saling berebut panggung. Mereka seakan berebut untuk
mengumumkan korban, bergerak cepat agar tampil di media demi menunjukkan perhatian.

Kita melihat bagaimana kesehatan warga menjadi wacana yang diperebutkan oleh politisi demi menaikkan citra. Pihak rezim ingin menampilkan kepedulian, sementara pihak lain ingin merebut panggung.

Di tengah semua rebutan itu, warga kita satu demi satu menjadi pasien di rumah sakit sembari berharap akan ada
keajaiban yang bisa membuat mereka segera sembuh dan beraktivitas kembali seperti sedia kala.

Di atas semua sengkarut kepentingan dan masalah itu, kita berharap negeri ini tetap kuat dan selalu bangkit. []

Sumber: Yusran Darmawan

Categories