Mitos Wahabi Lingkungan

MUSTANIR.net – Istilah Wahabi Lingkungan diucapkan Ulil kepada Iqbal Damanik, aktivis Greenpeace. Iqbal jelas bukan Wahabi secara leksikal. Makna denotatif Wahabi adalah pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab. Iqbal bukan.

Sementara secara konotatif, Wahabi berarti suatu aliran dalam Islam yang memahami Wahyu secara tekstual tanpa mampu melihat konteks. Dalam frasa “Wahabi Lingkungan”, Ulil sedang bermain di wilayah majas, yaitu orang yang menyikapi lingkungan ala kaum Wahabi menyikapi teks agama; menjaga kemurnian!

Tapi, membahas Wahabi Lingkungan sebatas maka denotatif, konotatif, dan majas saja terasa kurang mendalam dan cemerlang. Kita akan bedah dengan pisau mitos Roland Barthes. Dalam teori Barthes, mitos adalah konstruksi sosial yang menyajikan ideologi dan makna tersembunyi sebagai sesuatu yang alami dan benar.

Mitos ini dibangun di atas tanda denotatif (makna literal) dan tanda konotatif (konteks budaya) sehingga menghasilkan makna ke tiga, yaitu mitos, yang menyajikan realitas secara historis, ideologis, dan politis namun menyamarkannya sebagai fakta alamiah.

Memahami frasa “Wahabi Lingkungan” yang diucapkan Ulil tidak bisa dilepaskan dari konteks Ulil sebagai bagian dari PB NU yang saat ini mendapatkan konsesi tambang oleh pemerintah. Saat menciptakan istilah “Wahabi Lingkungan”, Ulil sedang menciptakan mitos itu.

Mitos apa?

Bahwa orang-orang yang menolak eksploitasi tambang adalah orang-orang puritan anti kemajuan. Iqbal Damanik, Greenpeace, dan siapa pun yang menentang, dimasukkan ke dalamnya, karena menghalangi kepentingan si pembuat mitos.

Permainan mitos ini sering dilakukan dalam rangka mendiskreditkan orang atau kelompok yang menghalangi kepentingan pihak-pihak tertentu. Istilah-istilah seperti kata “radikal”, “anti Pancasila”, “anti NKRI”, juga merupakan permainan serupa. Permainan mitos yang dibuat oleh pihak-pihak yang terganggu kepentingan nafsunya. []

Sumber: Doni Riw

About Author

Categories