Logika Sesat “Women Supporting Women” Menjerumuskan Perempuan pada Kerusakan

MUSTANIR.net – Gerakan atau gagasan “women supporting women” dimaknai sebagai cara bagi para perempuan untuk mendukung satu sama lain dan bentuk “mensyukuri” diri mereka sebagai perempuan. Melalui gagasan ini, para perempuan juga merayakan pencapaian diri mereka, mensyukuri dan mendukung perempuan lain yang membutuhkan.

Gagasan ini makin nyaring disuarakan tatkala ada salah satu artis muda yang terduga ada di video asusila yang tersebar di media sosial. Video tersebut adalah video masa lalu yang disebarkan mantan pacarnya. Meski melakukan perbuatan asusila, artis tersebut dianggap “korban” kekerasan berbasis gender online (KBGO) yang harus didukung oleh sesama perempuan.

Berbagai narasi pun muncul mendukung artis tersebut tidak bersalah karena tindakannya dianggap merupakan haknya. Justru yang bersalah adalah yang menyebarkan video tersebut karena dipandang telah melanggar hak privasi perempuan.

Walhasil, sesama perempuan harus saling mendukung apa pun kondisinya. Antarperempuan tidak boleh saling menjatuhkan, menstigma, ataupun berkomentar bernada sexist, misal menyalahkan gaya pacaran kebablasan hingga terjadi tindakan asusila, dan sebagainya.

Slogan lain yang serupa dengan “women supporting women” adalah “girls support girls”. Keduanya memiliki semangat yang sama, yakni memberi dukungan dan semangat kepada sesama perempuan.

Tagar #WomenSupportingWomen dan #GirlsSupportGirls sempat ramai di media sosial. Hingga awal Juni, di Instagram, terdapat 747 ribuan pos bertagar #GirlsSupportGirls, 422 ribuan pos bertagar #GirlsSupportingGirls, dan lebih dari 17,4 juta unggahan bertagar #WomenSupportingWomen. Dapat dikatakan ini adalah gerakan yang sangat masif.

Mengungkap Logika Sesat “Women Supporting Women” dan “Girls Support Girls”

Sekilas, gagasan ini—“women supporting women” dan “girls support girls”—tampak tidak menjadi persoalan. Namun, benarkah demikian?

Awalnya, gagasan ini bersumber dari pemikiran feminisme yang berdasarkan pada nilai-nilai kebebasan sekuler atas nama HAM yang diadopsi oleh gerakan perempuan global UN Women. Hak perempuan yang harus dijamin kemudian diabadikan dalam perjanjian HAM internasional dan dokumen lainnya, seperti kebebasan dari diskriminasi, hak untuk hidup, kebebasan dari penyiksaan, hak privasi, akses kesehatan, hak kehidupan yang layak, hak atas keselamatan, dan hak atas tubuhnya (my body, my authority), dan banyak lainnya.

Di antara kerusakan akibat logika sesat gagasan ini adalah sebagai berikut.

— Pertama, merusak identitas muslimah.

Gagasan ini sangat berbahaya jika diadopsi oleh muslimah karena akan merusak identitasnya sebagai hamba Allah. Gagasan ini telah meliberalisasi pemikiran dan perilaku muslimah, serta bertentangan dengan hakikat perbuatan seorang muslim.

Islam tidak mengenal kebebasan berperilaku, melainkan setiap perbuatan manusia harus dikaitkan dengan hukum syarak. Dalam kaidah hukum syarak disebutkan, “Al-ashlu fil af’al ath-thaayidu bi ahkami syar’i (asal perbuatan adalah terikat hukum syarak).”

Ada pun hukum syarak tersebut kita kenal dengan ahkamul khamsah, yakni wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram. Hukum-hukum inilah yang selalu terkait dengan seluruh perbuatan manusia, termasuk dukungan perempuan terhadap perilaku perempuan lainnya.

Oleh karena itu, dukungan yang dilakukan muslimah haruslah dengan standar Islam, yaitu memberikan dukungan pada perkara-perkara yang mengantarkan pada ketaatan, bukan kemaksiatan.

— Ke dua, menyerang syariat Islam dan mencegah kebangkitan Islam.

Dalam pandangan mereka, gagasan ini harus bersifat universal dan adil untuk semua, atau dengan kata lain tidak boleh ada kelompok perempuan yang ditinggalkan. Gagasan ini tidak mengenal latar belakang agama, kepercayaan, etnis, maupun identitas lain. Bahkan, gagasan ini dianggap sia-sia jika sesama perempuan bersikap selektif dan hanya mendukung golongan tertentu.

Pandangan ini kemudian menegaskan bahwa syariat Islam adalah sumber masalah diskriminasi perempuan sehingga harus disesuaikan dengan nilai-nilai universal berbasis sekuler liberal. Akhirnya, sifat “universal” ini mengarahkan muslimah dan generasi untuk menentang pemberlakuan syariat Islam, padahal mereka adalah potensi umat yang seharusnya ada di garda terdepan membela Islam dan berjuang menerapkan syariatnya.

— Ke tiga, makin menjerumuskan perempuan pada kerusakan.

Sejatinya, gagasan ini justru menjerumuskan kaum perempuan ke dalam kemaksiatan karena merasa yang dilakukan adalah benar. Artinya, dukungan ini bukan bentuk kepedulian terhadap perempuan, melainkan bentuk perusakan.

Jika kita menelaah lebih jauh, berbagai persoalan dan kerusakan justru bersumber dari sistem sekuler kapitalisme, liberalisme, dan gagasan HAM yang mengedepankan hawa nafsu manusia dan menolak syariat Tuhannya.

Semestinya, kepedulian terhadap perempuan harus meninggalkan sumber kerusakan tersebut, bukan malah sebaliknya, menjadikannya sebagai asas pergerakan dukungan terhadap perempuan yang berarti mengukuhkan kerusakan itu sendiri.

Saling Mendukung dalam Islam

Memberi dukungan bukanlah dengan melihat seseorang itu perempuan ataupun laki-laki, melainkan melihat sesuai atau tidaknya tindakan tersebut dengan standar halal haram menurut pandangan syariat.

Para muslimah harus memahami bahwa Islam memuliakan perempuan, sosok yang tidak boleh disakiti dan dizalimi. Ini sebagaimana sabda Nabi ﷺ, “Aku mewasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para perempuan.” Dalam riwayat lain, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah yang paling baik terhadap istriku.”

Pada intinya, perempuan tidak membutuhkan nilai rusak sekuler liberal dan feminisme untuk memuliakan martabatnya. Satu-satunya solusi yang layak bagi perempuan adalah Islam yang diterapkan secara kafah. []

Sumber: Luluk Farida

About Author

2 thoughts on “Logika Sesat “Women Supporting Women” Menjerumuskan Perempuan pada Kerusakan

  1. Mobile Phone Monitoring App – hidden tracking app that secretly records location, SMS, call audio, WhatsApp, Facebook, Viber, camera, internet activity. Monitor everything that happens in mobile phone, and track phone anytime, anywhere.

  2. How do I know who my husband or wife is chatting with on WhatsApp, then you are already looking for the best solution. Eavesdropping on a phone is much easier than you realize. The first thing to install a spy application on your phone is to get the target phone.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories