10 Prinsip Bagi Pengusaha Muslim

10 Prinsip Bagi Pengusaha Muslim

Mustanir.com – Jika Anda sudah lama menjalani bisnis, tapi jalan di tempat, pasti ada yang tidak beres dengan bisnis yang Anda jalani. Jangan langsung memeriksa soal teknis dalam bisnis Anda. Ada yang jauh lebih penting dari itu. Ada yang-seharusnya-Anda prioritaskan dalam bisnis. Apalagi terkait predikat Muslim yang melekat di dalam diri kita.

Ialah keberkahan. Jika bisnis kita jalan di tempat, bisa jadi karena tiadanya berkah. Sebab di antara makna berkah adalah bertambahnya kebaikan. Bukan sekadar bertambahnya untung, apalagi jika untung tidak bertambah.

Berikut ini 10 kiat yang disajikan oleh Kiyai Haji Muhaimin Iqbal dalam buku Ayo Berdagang! terkait kunci keberkahan dalam menjalani bisnis. Kiat-kiat ini disarikan dari banyak hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang sudah diramu dan diamalkan dalam semua bisnis yang beliau jalani.

Bergegas di Pagi Hari

Kapan Anda memulai menjalankan usaha? Pagi hari? Setelah mentari naik mendekati Zhuhur? Sore hari? Atau baru siap-siap di malam hari?

Ada satu rahasia yang jarang diketahui oleh para calon pengusaha. Ialah bergegas di pagi hari. Selain berlandaskan pada nasihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mendoakan keberkahan di pagi hari, ada begitu banyak manfaat jika Anda memulai aktivitas di pagi hari.

Udara lebih sehat, belum terlalu sibuk, badan, fikiran, dan ruhani masih segar, dan sebagainya. Hiasilah pagi hari dengan beragam hal-hal positif, baik yang terkait langsung dengan bisnis Anda atau tidak langsung tapi merupakan upaya mengumpulkan karakter positif di dalam diri Anda sebagai calon pengusaha sukses dan berkah.

Ridha, bukan Paksaan

Berhati-hatilah dalam setiap transaksi. Landasi dengan saling ridha. Jangan sampai ada paksaan. Pahami karakter pembeli. Aturlah kalimat yang Anda sampaikan. Sabar. Jangan sampai termasuk memaksa, tapi Anda tidak menyadarinya.

Sebab, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak menyukai umatnya yang memaksa dalam jual beli. Pahamilah bahwa rezeki mustahil tertukar. Jika memang transaksi kali ini gagal, percayalah pada bonus besar yang menunggu Anda dalam transaksi yang akan datang. Insya Allah.

Perhatikan Spesifikasi

Jangan mengurangi atau menambahkan takaran. Berikan sesuai akad. Jika menambah, niati sebagai membagi hadiah. Sebagai wujud terima kasih. Jangan sampai salah niat dan cara hingga penambahan yang Anda berikan tergolong riba.

Lakukan sesuai akad. Usahakan sepersis mungkin. Jangan sampai pembeli kecewa. Jika ada ketidaksesuaian karena hal-hal yang tidak Anda sadari sebelumnya, jangan segan untuk menyampaikan dan meminta maaf.

Jika pembeli minta dikembalikan uang pembayaran dan Anda tidak ada akad ‘tidak menerima pengembalian’, maka kembalikanlah. Rugi sedikit tidak masalah, asal berkah.

Hindari Sumpah Palsu

Saat godaan menjadi kaya mendesak-desak, calon pengusaha bisa saja gelap mata. Ia akan melakukan berbagai macam cara demi lakunya produk. Tak jarang mereka menggunakan sumpah atau janji palsu demi larisnya dagangan.

Hindari. Jangan sampai lakukan ini. percayalah, kejujuran akan menghasilkan kebaikan. Sedangkan dusta pasti melahirkan kerugian dan pangkal kesengsaraan di dunia dan akhirat.

Jangan Permainkan Harga

Jangan menjatuhkan harga di bawah pasar. Jangan menaikkan harga di atas harga pasar. Mengambil untuk sebanyak mungkin dibolehkan, tapi perhatikan pula kondisi harga barang sejenis di pasaran serta upaya yang Anda kerahkan demi mendapatkan (memproduksi) barang tersebut.

Memberikan potongan harga dibolehkan. Asal bukan mempermainkan harga. Permainan harga secara sporadis bisa berakibat fatal, baik bagi pembeli maupun penjual. Jika perbuatan Anda diketahui oleh pedagang lain yang jumlahnya lebih banyak, Anda bisa diboikot dan dianggap musuh. Begitu pula tatkala pembeli mengatahui harga yang sebenarnya di pasaran.

Jangan Timbun

Ini kerap terjadi di masyarakat pertanian atau produk yang tahan lama. Mereka melakukan penimbunan agar bisa menguasai pasar (monopoli). Dengan demikian, mereka bisa menentukan harga setinggi-tingginya saat pasar mmebutuhkan barang tersebut. Ini termasuk kezhaliman.

“Sipa saja menimbun barang lebih dari 40 hari, ia telah lepas dari Allah dan Allah berlepas darinya.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam al-Hakim, Imam Ibnu Syaibah, dan Imam al-Bazar Rahimahumullahu Ta’ala.

Sampaikan Kelemahan (Cacat)

Pengusaha Muslim sangat menekankan kejujuran dalam bisnisnya. Sampaikan apa adanya. Jangan dilebih-lebihkan. Jika terdapat kekurangan atau cacat, sampaikan. Jangan disembunyikan, apalagi dengan kesengajaan.

Dengan menyampaikan kekurangan, pembeli bisa memutuskan untuk melanjutkan atau mengurungkan akad. Namun jika disembunyikan, pembeli akan merasa kecewa. Kecewa inilah yang menghalangi seorang pengusaha dari keberkahan.

Akan tetapi, pengusaha yang baik akan memberikan produk terbaik. Ia hanya menjual kualitas paling atas. Jika ada kekurangan, dia akan memperbaiki atau urung menjualnya sebab tidak mau membuat konsumen kecewa.

Jangan Menipu

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Siapa yang melakukan penipuan, ia bukan termasuk bagian dari kami.”

Menipu amat banyak jenisnya. Mulai dari yang paling nyata berupa penipuan kualitas produk terkait spesifikasi, memposting barang yang tidak ada stoknya, menipu dengan alamat palsu, meminta pembayaran lalu ditinggal kabur, dan lain sebagainya.

Tidaklah seorang penjual menipu, kecuali dia akan ditipu yang lebih besar lagi. Tidaklah seorang pengusaha melakukan penipuan, melainkan Allah Ta’ala akan membuka kedoknya dan memberikan ganjaran yang setimpal untuknya, di dunia, di akhirat, atau keduanya.

Hindari dari 3 Sifat

Ialah Maisir (Perjudian), Gharar (Spekulatif), dan Riba.

Jika Anda bersikukuh dengan riba, perhatikanlah ancaman dari Allah Ta’ala berikut ini, “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu. Kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (Qs. al-Baqarah [2]: 279)

Allah Ta’ala juga menegaskan, “Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (Qs. an-Nisa [4]: 161)

Dalam hitungan manusia, riba menghasilkan pertambahan. Tapi ingat, ia tidak bertambah di sisi Allah Ta’ala. Bahkan ada begitu banyak kebaikan yang diambil bagi seorang penjual atau pengusaha yang terlibat riba.

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya). (Qs. ar-Rum [30]: 39)

Semoga Allah Ta’ala memberikan keberkahan pada usaha yang kita jalankan. Aamiin.

Wallahu a’lam. (sumber)

Categories