3 Maret 1924, 100 Tahun Lalu Khilafah Kaum Muslimin Diruntuhkan

MUSTANIR.net – Pada tanggal 3 Maret 1924, Mustafa Kemal laknatulah berhasil meruntuhkan kekhalifahan Turki Utsmani. Sebagai proses pembaratan, di bekas jantung ibu kota khilafah, Mustafa Kemal Pasha menerapkan sekulerisme dengan mengubah sistem khilafah menjadi negara Republik Turki yang dilakukan secara ekstrem.

Kerusakan akibat keruntuhan khilafah ini juga langsung berdampak luas. Wilayah khilafah yang sebelumnya satu, dengan bendera yang satu, imam yang satu, al-Qur’an yang satu, nabi yang satu, hingga Tuhan yang satu, dipecah belah.

Inggris selain mampu menginjeksi racun sekulerisme Kemalis di jantung Khilafah Turki, Inggris di luar Turki juga mampu mengobarkan semangat nasionalisme yang mendorong wilayah khilafah terpecah belah. Tak peduli lagi pada khilafah yang baru saja disembelih oleh Inggris melalui belati Mustafa Kemal laknatulah, sejumlah wilayah malah berlomba membentuk negara sendiri.

Sejumlah wilayah yang sebelumnya dipimpin seorang wali yang tunduk pada khalifah, memisahkan diri dari khilafah dan membentuk negara bangsa (nation state) dengan pilar nasionalisme (ashobiyah). Wilayah itu mendeklarasikan diri sebagai negara yang terpisah dari khilafah, berbentuk kerajaan maupun republik.

Penguasa wilayah Mekkah dan Madinah, wilayah Saudi Arabia, melalui konspirasi Inggris, Lawrence Arabia dan mahzab Wahabi mendirikan dinasti kerajaan Saudi. Kedaulatan tidak lagi berada di tangan Allah, tidak lagi pada hukum syara’, tetapi hukum dan perundangan telah dikendalikan oleh daulat raja.

Sejumlah wilayah khilafah yang luas, yang sebelumnya terdiri dari berbagai wilayah dan kesultanan, diambil alih oleh Inggris dan Prancis. Bahkan, untuk menjaga pesta pora mereka tetap aman, Inggris dan Prancis membagi wilayah jajahan di eks wilayah khilafah dengan perjanjian Sykes-Picot.

Perjanjian Sykes-Picot ditandatangani pada tahun 1916, saat Khilafah Turki Utsmani bergelar ‘The Sick Man’. Sebuah perjanjian rahasia antara pemerintah Inggris dengan pemerintah Prancis yang diikuti dan disetujui oleh kerajaan Rusia, di mana dalam perjanjian ini ketiga negara mendiskusikan pengaruh dan kendali di Asia Barat setelah jatuhnya Khilafah Turki. Karena sebenarnya secara de facto saat itu khilafah telah hancur. Peran khalifah terakhir yakni Sultan Abdul Hamid II hanya di area religius/spiritual. Sementara secara politik, khalifah tak lagi memiliki kendali.

Perjanjian inilah yang menyebabkan Prancis aman dari Inggris untuk menjajah Maroko, Aljazair, Tunisia, dan Afrika Barat. Sementara Inggris kebagian jatah menjajah Afganistan, Akrotiri dan Dhekelia, Bahrain, Brunei.

Keruntuhan khilafah pada 1924 itulah, yang akhirnya membuat Inggris menopang pendirian Zionis Israel pada tahun 1948 dengan bantuan lembaga PBB (baca: Perusak Bangsa-bangsa) di wilayah Palestina. Sejak saat itu Zionis Israel di bawah asuhan Inggris dan dilanjutkan Amerika melakukan kezaliman yang luar biasa kepada rakyat Palestina hingga hari ini.

Hingga saat ini, kaum muslimin terpuruk. Kaum muslimin tidak dapat bangkit, karena telah dicuci otaknya. Kaum muslimin telah mengukir cara pikir dan pola hidup Barat kapitalis.

Kaum muslimin ikut latah memperjuangkan demokrasi dan mengabaikan khilafah. Kaum muslimin menelantarkan al-Qur’an dan mengambil sekulerisme Barat. Kaum muslimin disibukkan dengan pemilu dan melalaikan kewajiban dakwah untuk menegakkan kembali khilafah.

Selama 100 tahun, kaum muslimin melalaikan kewajiban bai’at kepada khalifah dan menelentarkan hukum Allah subḥānahu wa taʿālā.

Selama 100 tahun, kaum muslimin terpecah belah dan dibelenggu ide nasionalisme (ashobiyah).

Selama 100 tahun, kaum muslimin dipisahkan dengan bendera kebangsaan dan mengabaikan al-Liwa dan ar-Raya.

Selama 100 tahun, kaum muslimin menelantarkan saudaranya yang lain di berbagai belahan dunia.

Selama 100 tahun, kaum muslimin kehilangan ruh ukhuwah Islamiyyah dan persatuan Islam.

Kini sudah saatnya kaum muslimin kembali bangkit, kembali bersatu, kembali memimpin peradaban dunia dan menyelamatkan manusia, dengan berjuang untuk kembali menegakkan khilafah. Saat khilafah tegak, maka kaum muslimin akan kembali mulia, menjadi khairu ummah, sebagaimana para pendahulu mereka. []

Sumber: Ahmad Khozinudin

About Author

Categories