keberadaan karbon organik di langit Indonesia akibat asap karhutla

keberadaan karbon organik di langit Indonesia akibat asap karhutla

Wiranto: Karhutla Tak Separah yang Diberitakan, lalu Separah Apa Karhutla?

MUSTANIR.net – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di sejumlah wilayah di Sumatera, Kalimantan, dan beberapa wilayah lain di Indonesia. Kabut asap akibat karhutla ini tak hanya berdampak pada masyarakat Indonesia, tapi juga masyarakat di Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Namun begitu Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Wiranto, justru mengatakan mengatakan bahwa kondisi karhutla yang tengah terjadi di Indonesia ini tidaklah seburuk sebagaimana diberitakan banyak media massa akhir-akhir ini.
Kemarin ketika saya mengunjungi bersama Presiden, antara realitas yang dikabarkan dengan realitas yang ada itu sangat berbeda. Dan ternyata kemarin waktu kita di Riau, itu tidak separah yang diberitakan,” kata Wiranto di Gedung Kemenko Polhukam, Jakarta, Rabu (18/9/2019).
Wiranto mengakui Riau memang terpapar asap. Namun hal itu belum membunuh aktivitas sehari-hari masyarakat. Bahkan katanya, langit Riau masih terbilang bagus dan masih banyak masyarakat yang beraktivitas tanpa menggunakan masker.
“Jarak pandang masih bisa, pesawat mendarat masih bisa, masyarakat juga belum banyak yang pakai masker dan sebagainya,” ujarnya.
Lalu separah apa sebenarnya kabut asap karhutla di Sumatera dan Kalimantan berdasarkan fakta yang ada? NASA berhasil menangkap gambar nyata yang bisa menggambarkan seberapa parah kondisi karhutla di Indonesia ini.
NASA berhasil menangkap parahnya kabut asap akibat karhutla di Indonesia pada Minggu 15 September lalu. Gambar itu ditangkap oleh satelit mereka bernama Aqua dengan menggunakan teknologi Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS).
Dalam pemberitahuan tertulis, NASA Earth Observatory menjelaskan bahwa mereka mengidentifikasi ada lebih dari 4.000 titik panas di Indonesia. Kebanyakan berada di Kalimantan dan Sumatera.
Akibat kabut asap tersebut, 1.200 sekolah di Malaysia terpaksa ditutup karena udara di sana sudah dalam level “sangat tidak sehat”. Di Indonesia sendiri, sejumlah sekolah di Sumatera dan Kalimantan juga diliburkan untuk sementara waktu untuk melindungi para siswa dari kabut asap karhutla karena kondisi udara di sana sudah berada di level “berbahaya”.
Kondisi udara yang sudah dalam level “sangat tidak sehat” di Malaysia setidaknya terpantau di Kuching, Sarawak. Kota di Malaysia sempat menjadi kota dengan tingkat polusi udara terburuk di dunia, dengan nilai AQI 247, berdasarkan data dari AirVisual, situs daring pemantau kualitas udara kota-kota di dunia secara real-time.
Di Riau sendiri, yang disinggung Wiranto langitnya masih bagus, kondisi udaranya jelas sempat tercatat lebih buruk daripada di Malaysia. Berdasarkan data AirVisual, kondisi udara di Pekanbaru, ibu kota Provinsi Riau, pada Jumat (13/9/2019) pagi pukul 09.00 WIB memiliki nilai air quality index (AQI) sebesar 320. Artinya, kondisi udara kota tersebut sudah berada di level “berbahaya”. Bahkan, nilai AQI di suatu titik di Pekanbaru juga sempai mencapai 588. Betapa parahnya!
Dampak Nyata Timbulnya Korban
Menurut hasil investigasi dari Eyes on the Forest (EoF), puluhan ribu orang di Riau telah menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat asap karhutla. EoF sendiri merupakan koalisi organisasi non-pemerintah yang beranggotakan Walhi Riau, Jaringan Kerja Penyelamat Hutan (Jikalahari), dan WWF-Indonesia.
Berdasarkan data kesehatan Provinsi Riau yang didapat EoF, pada tahun 2019 ini, terhitung hingga 25 Agustus, sudah ada 21.617 orang di Riau yang terkena ISPA akibat karhutla tersebut. Puluhan ribu korban ini tersebar di beberapa daerah di Riau, antara lain Rokan Hilir, Rokan Hulu, Kampar, Pekanbaru, Kuansing, Inhu, Inhil, Pelalawan, Siak, Kep. Meranti, Bengkalis, dan Dumai. Korban terbanyak ada di Pekanbaru dengan jumlah mencapai 5.355 orang yang terkena ISPA.
Tak hanya menimbulkan penyakit, kabut asap karhutla ini juga telah merenggut korban jiwa. Akibat kepungan asap karhutla Riau, seorang bayi di Pekanbaru meninggal dunia pada Rabu (18/9/2019).
Dokter bilang, anak saya terdampak virus karena asap. Sesak napas,” kata Evan Sendrato, ayah si bayi, sembari meneteskan air mata, seperti diberitakan Selasar Riau, media partnerkumparan di Jambi, pada Kamis (19/9/2019).
Bayi itu baru berumur tiga hari dan belum sempat diberikan nama. Bayi yang merupakan anak semata wayang pasangan Evan dan Lasmayani itu meninggal dalam perjalanan saat dibawa ke Rumah Sakit Syafira, Pekanbaru.
Kabar duka lainnya yang masih dari Riau, seorang warga bernama Helmy Oemar ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di daerah Desa Rimbo Panjang. Kondisi kesehatannya memburuk diduga akibat polusi asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Riau.
Memang di sekitar Rimbo Panjang itu ada kebakaran (lahan) tapi kemungkinan sebagian kecil karena pengaruh riwayat vertigo juga, dan mungkin karena kondisi asap bisa jadi pemicu (meninggal),” kata Shadik Helmy, anak kandung almarhum Helmy Oemar, di Pekanbaru, seperti diberitakan Antara beberapa hari lalu.
Kabar duka dari provinsi tetangga Riau, seorang warga di wilayah adat Suku Anak Dalam (SAD), Pangkalan Ranjau, Kecamatan Bahar Selatan, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Suparlan, meninggal dunia akibat mengalami sesak napas. Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Jambi juga diduga menjadi penyebabnya.
Menurut Saprizal Bri, seorang warga setempat, Suparlan meninggal dunia usai empat hari mengalami sesak napas. “Tragedi ini akibat dampak dari kabut asap Karhutla di wilayah Ulayat Adat SAD Pangkalan Ranjau Kubu Lalan,” katanya, seperti dilansir Jambi Kita, media partner kumparandi Jambi, Rabu (17/9/2019).
Selain Suparlan, kata Saprizal, banyak anak kecil dan balita yang saat ini terkena gangguan pernapasan dan flu akibat terpapar kabut asap. “Bagi yang punya akses masker, boleh disalurkan ke sana,” tambahnya.
Dalam keterangan ini, perkataan Wiranto sebelumnya ada benarnya, yakni “masyarakat juga belum banyak yang pakai masker dan sebagainya.”[]

Categories