Abu Thurayya, Penyandang Difabel yang Syahid Melawan Zionis

Abu Thurayya saat berdemonstrasi menentang Zionis Isralel. foto: rep


MUSTANIR.COM, Sosok itu adalah Abu Thurayya (29 tahun). Meski telah kehilangan kedua kaki, ia tak gentar untuk berdiri di garda terdepan menentang Zionis Israel. Thurayya, cukup terkenal di kalangan aktivis atas sikapnya yang secara konsisten melawan pendudukan Israel.

Pada Jumat (15/12), menjadi hari terakhir baginya. Ia ditembak mati sniper Zionis dalam aksi unjuk rasa menentang pengakuan Yerusaelem sebagai ibu kota Israel.

Namanya harum di berbagai belahan dunia. Kabar ke-syahidan Thurayya pun dengan cepat menyebar di berbagai media sosial. Ia menjadi salah satu sosok ‘pembakar’ semangat untuk menentang keputusan Presiden Donald Trump.

Akhir pekan lalu saat pemakaman penyandang disabilitas itu, sang ibu berkata, “Thurayya selalu berani melawan pendudukan meskipun ia kehilangan kedua kaki, ia akan selalu mengibarkan bendera Palestina di perbatasan.”

Abu Thurayya yang tinggal di Gaza kehilangan kedua kaki saat serangan udara Israel pada 2008. Sejak saat itu menggunakan kursi roda dalam beraktivitas, termasuk ketika turun berunjuk rasa,

Abu Thurayya merupakan satu di antara empat warga Palestina yang ditembak mati Israel pada Jumat lalu.

Dr Haidar Eid, Profesor di Department of English Literature, Al-Aqsa University, Jalur Gaza, Palestina menuliskan lirik khusus buat Thurraya. Lirik ini merupakan bukti kekagumannya kepada Thurayya.

Berikut lirik tersebut seperti dikutip palestinechronicle.com.

We have a martyr,
His blood runs in my veins,
Whether from Khuzaa or Shejaeyya,
His songs are sung by me,
My martyr is Habibi,
Shahidi, Habibi

(republika.co.id/18/12/2017)

Categories