Ulama Besar Ini Agen Rahasia Israel, Indonesia dan Malaysia Harus Waspada

MUSTANIR.netAgen rahasia yang bertugas sebagai mata-mata untuk Israel masih merupakan ancaman kesulitan bagi pejuang Palestina. Kemampuan mereka begitu sempurna dalam baur beraktivitas bahkan hidup dalam jangka waktu yang lama dengan masyarakat lokal.

Bagaimana cara kerja agen rahasia Israel di Timur Tengah atau bahkan di Indonesia? Simak penjabaran mendalam ini.

Mossad adalah sebutan yang diberikan kepada salah satu kelompok agen rahasia atau intelijen Israel yang memiliki tugas untuk melakukan pengawasan terhadap aktivitas dan pergerakan pejuang Palestina. Bahkan di negara-negara Muslim Timur Tengah.

Sebagai contoh, pada tanggal 29 Desember 2023 yang lalu pemerintah Iran melaporkan melalui kantor resmi Islamic Republic News Agency (IRNA) bahwa 4 individu yang dianggap memiliki kaitan dengan Mossad telah dihukum mati oleh pengadilan tinggi Iran

Tidak hanya sampai di situ. Beberapa hari sebelumnya, yaitu pada tanggal 16 Desember 2023, IRNA juga melaporkan bahwa seorang agen dari dinas intelijen Mossad Israel telah mengalami eksekusi mati. Dalam laporan yang dikutip dari Reuters, identitas agen tersebut tidak diungkapkan. Namun ia terbukti terlibat dalam komunikasi dengan intelijen asing, termasuk Mossad.

Selain itu, agen tersebut juga terbukti memberikan informasi-informasi rahasia yang diperolehnya. Beberapa di antaranya dikirim dalam bentuk dokumen. Sebelum akhirnya dihukum mati, tujuan utama dari agen ini adalah mencari informasi rahasia di negara-negara Muslim, menyebarkan propaganda, serta memecah belah kelompok dan organisasi-organisasi Muslim.

Di Palestina, sehari sebelum kantor resmi Iran mengeluarkan laporan mengenai eksekusi mati agen rahasia Mossad pada 29 Desember, Hamas juga mengumumkan penangkapan sekelompok warga Palestina yang menjadi mata-mata Israel di Gaza. Para mata-mata ini bekerja sama dengan Israel untuk mengumpulkan data intelijen setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Berdasarkan laporan dari news agency media keamanan internal al-Majd Hamas, mata-mata yang tertangkap mengaku ditugaskan oleh badan intelijen Israel Shin Bet untuk memantau rumah para pemimpin Hamas di seluruh jalur Gaza. Selain itu, mereka juga bertugas melaporkan setiap pergerakan anggota Hamas di wilayah Gaza.

Berdasarkan laporan yang dikutip dari Jerusalem Post, para mata-mata tersebut ditangkap setelah Hamas menerima data dan dokumen yang dianggap berbahaya. Dokumen tersebut mencakup nama-nama warga Gaza yang berkolaborasi dengan pasukan Israel.

Menariknya, penangkapan sekelompok agen rahasia ini berbalik melawan Israel. Hamas mengklaim bahwa dari agen rahasia Israel, pasukan pejuang Palestina ini memperoleh harta karun strategis, yaitu informasi tentang penggunaan teknologi oleh Shin Bet serta cara agen rahasia berkomunikasi dan bekerja dengan agen lainnya.

Oleh karena itu badan intelijen Hamas yang dalam hal ini diwakili oleh pasukan al-Majd menyatakan bahwa Hamas telah mengetahui metode kerja para agen Israel, termasuk Mossad, terkait dengan cara kerja agen Israel dalam memata-matai Hamas dan negara-negara Muslim di Timur Tengah.

Seorang penulis asal Mesir, Ibrahim al-Arabi, secara rinci mengungkapkan hal tersebut dalam bukunya yang berjudul ‘Jawaasiis wa Khowanah’. Buku ini ditulis berdasarkan kisah salah satu mata-mata bernama Fadel Abdullah yang berhasil tertangkap oleh pemerintah Mesir.

Percaya atau tidak? Selama menjadi agen rahasia Israel, Fadel Abdullah berkamuflase selayaknya seorang ulama dan berperawakan berjanggut panjang. Dia dengan rendah hati mengorganisir kelompok keagamaan dan menyampaikan khotbah kepada umat Islam.

Saking sempurna perannya, Fadel Abdullah juga mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan jama’ah seputar agama Islam dan memberikan nasihat tentang urusan hidup sesuai dengan ajaran Islam. Hingga di kota Yerusalem dirinya terkenal dengan panggilan “Syekh”.

Tak hanya itu. Setiap habis sholat, Fadel Abdullah mendoakan para mujahidin di Palestina, memotivasi mereka untuk berperang dan berjihad serta mendoakan kemenangan para pejuang Muslim atas musuh-musuh mereka.

Dalam buku ‘Spies of No Country’, kisah mata-mata Israel di Palestina sendiri sudah ada dan dibentuk sejak pertengahan abad ke-19. Saat itu organisasi Zionis sedang mencari imigran Yahudi yang bisa berbahasa Arab untuk menembus Palestina dan Arab sebagai bagian dari upaya perekrutan mereka.

Dalam proses seleksi, mata-mata Yahudi dipilih dengan sangat hati-hati dan ketat mengikuti beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Persyaratan ini melibatkan orang-orang Arab asli yang menguasai bahasa Arab, pernah menetap lama di negara-negara Arab, dan mampu berbicara dengan dialek daerah tempat mereka dilahirkan.

Setelah direkrut, para mata-mata Israel menjalani pelatihan intensif selama bertahun-tahun. Pelatihan ini melibatkan keluar masuk kota-kota Arab di sekitar Palestina untuk mempelajari gaya bicara dan bahasa setempat. Selain itu, mereka mempelajari taktik untuk menipu orang dan memahami batasan-batasan yang ada.

Tidak hanya itu, organisasi Zionis bahkan melatih beberapa rekrut untuk membaca al-Qur’an, menghafalnya, dan memahami ajaran agama Islam.

Fadel Abdullah sebagai contoh. Sebelum dikirim ke Palestina pada tahun 1946, secara intensif mempelajari apa yang umat Muslim pelajari dan butuhkan. Tidak mengherankan, ketika perang pecah pada tahun 1948, Fadel yang sudah dibekali pengetahuan dan kemampuan layaknya seorang ulama dengan mudah mengelabui tentara Mesir dan pasukan pejuang Palestina.

Tidak dapat disangkal, sebagai mata-mata Israel, Fadel Abdullah adalah salah satu dari banyak agen rahasia yang paling berhasil memainkan perannya. Meskipun hanya menyamar di Palestina, penyamarannya berhasil bertahan dari tahun 1946 hingga 1984.

Namun kisah Fadel sebagai mata-mata berakhir ketika tentara Mesir menemukan celah yang mengungkap bahwa Fadel bukanlah penduduk asli Palestina. Pada saat itu ketika tentara Mesir berjaga di tanah Palestina, Fadel diberi tugas baru oleh komandannya untuk berinteraksi dengan pasukan Mesir. Dia mulai mendekati komandan batalyon, perwira Ahmed Abdul Aziz, dan wakilnya, perwira Kamal Aldin Hosein. Pendekatan ini berhasil dan Fadel dipercaya untuk memimpin doa di hadapan para tentara Mesir, memimpin salat, mengadakan pengajian, dan bahkan diberi hak khusus untuk mengunjungi kamp Mesir secara teratur.

Namun seperti pepatah mengatakan, “Sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan jatuh juga.” Kedekatan Fadel dengan perwira Mesir menimbulkan kecurigaan dari pasukan intelijen Mesir. Akibatnya, Mesir memantau setiap pergerakan ulama yang bekerja atas pesanan Israel.

Pada suatu malam, Fadel Abdullah ketahuan oleh intelijen Mesir ketika ia menyelinap dari camp Mesir ke camp Zionis Israel. Kecurigaan semakin tak terbantahkan ketika seorang dokter Mesir melihat Fadel berada di camp orang-orang Yahudi yang menjadi korban.

Tanpa menunggu waktu yang lama, kabar mengenai Fadel Abdullah sebagai mata-mata segera tersebar di telinga para tentara Mesir. Setelah sosok Fadel menjadi perbincangan hangat, seorang perwira Mesir yang merasa kecewa mengusulkan rencana agar Fadel diculik dan dibunuh. Ternyata rencana ini disetujui oleh komandan militer yang kemudian mengutus dua pasukan elite untuk melaksanakan tugas tersebut.

Hanya dalam semalam, Fadel yang telah menjadi mata-mata Israel selama lebih dari 40 tahun berhasil ditangkap. Setelah operasi penangkapan selesai, pengadilan militer dibentuk dan hukuman mati dijatuhkan terhadap Fadel Abdullah atas tuduhan spionase atau pengkhianatan.

Dari kisah Fadel Abdullah di Palestina dan beberapa mata-mata Israel di negara-negara Muslim yang telah dihukum mati, kita dapat menilai bahwa Zionis Israel memiliki berbagai rencana terselubung. Belum lagi baru-baru ini mata-mata Israel juga dilaporkan telah masuk ke wilayah Asia termasuk Malaysia. Kabar ini seharusnya menjadi pelajaran bagi negara-negara Muslim terutama karena agen rahasia Israel mampu menyamar seperti ulama yang harus dihormati dalam ajaran agama Islam.

Kecurigaan intelijen Israel masuk ke wilayah Asia khususnya Indonesia dan Malaysia bukanlah kecurigaan kosong. Mengingat Indonesia dan Malaysia adalah negara Muslim besar, pasti telah disiapkan agenda khusus. Entah apa agenda tersebut. Tapi yang bisa dilihat secara kasat mata masifnya dukungan kepada Israel dari Yahudi pesek menandakan bahwa kuku Israel telah menancap di Indonesia dan Malaysia. Bahkan kuku itu juga telah menancap di negara Asia lainnya. Itulah cara kerja mata-mata Israel di berbagai negara. []

Sumber: Kabar Langit

About Author

Categories