Jangan Salah Menetapkan serta Menerapkan Solusi

MUSTANIR.netIslam ditinjau dari sisi aqidah rasionalnya (aqliyyah) adalah ideologi. Yaitu pemikiran global (fikroh kulliyyah) yang melahirkan sistem-sistem kehidupan berbangsa dan bernegara. Di mana sistem-sistem itu terbagi menjadi enam; sistem pemerintahan, sistem ekonomi, sistem pendidikan, sistem pergaulan, sistem persanksian, dan sistem politik dalam dan luar negeri, yaitu menyebarkan risalah Islam ke seluruh dunia dengan dakwah dan jihad fisabilillah.

Sistem sendiri berarti akumulasi (kumpulan) hukum-hukum syariat yang mengatur pemerintah, ekonomi, dan seterusnya seperti di atas. Contohnya, akumulasi hukum-hukum syariat yang mengatur pemerintahan itu disebut sistem pemerintahan.

Semua sistem yang lahir dari pemikiran global di atas tidak dapat diterapkan, kecuali dengan sebuah metode (thoriqoh) penerapannya yang menjadi bagian dari pemikiran global. Metode itu adalah khilafah sebagai bagian dari sistem pemerintahan Islam. Dari sini bisa dipahami bahwa khilafah itu bukan tujuan, tapi bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan.

Maka dari sini juga dipahami bahwa Islam itu mencakup sebuah ideologi. Karena ideologi sendiri adalah akumulasi dari pemikiran (fikroh) dan metode (thoriqoh) penerapan pemikiran.

Kemudian juga dipahami, bahwa Islam dengan khilafahnya adalah solusi praktis atas semua problem kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena semua problem negara tidak akan bisa diselesaikan, kecuali dengan ideologi yang diterapkan oleh negara. Ideologi yang benar-benar ideologi, yaitu yang mampu melahirkan sistem-sistem dari dalam rahimnya:

• Problem pemerintahan seperti mahalnya biaya pemilu tapi hanya menghasilkan pemimpin yang pro kapitalis dan oligarki, maka solusinya adalah menerapkan sistem pemerintahan Islam;
• Problem ekonomi yang pro penjajah serta membiarkan SDA yang sangat melimpah dirampok dan dijarah, maka solusinya menerapkan sistem ekonomi Islam;
• Problem pendidikan yang kapitalistik dan hanya melahirkan budak-budak dunia yang mengikuti hawa nafsunya, maka solusinya menerapkan sistem pendidikan Islam;
• Problem pergaulan yang melahirkan kenakalan remaja, ikhthilat dan kholwat, seks bebas sampai aborsi, maka solusinya menerapkan sistem pergaulan Islam;
• Problem kriminal, maksiat, munkar, syirik, dan murtad, maka semua solusinya menerapkan sistem persanksian Islam yang menerapkan jinayat, qishosh dan hudud;
• Problem penyebaran risalah Islam ke seluruh dunia yang dihalangi dan dikriminalisasi, maka solusinya menerapkan sistem politik dalam dan luar negeri Islam, yaitu dengan dakwah dan jihad fi sabilillah.

Problem Kerusakan serta Solusinya

Semua problem di atas adalah kerusakan (fasad). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan-tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS ar-Rum ayat 41)

Ketika kita membuka-buka tafsir para ulama mufassir dalam kitab-kitab tafsir mereka, maka kita menemukan bahwa kerusakan dalam surah ar-Rum ayat 41 diistilahkan dengan segala bentuk pelanggaran atas syariat atau hukum-hukum Allah subhanahu wa ta’ala.

Maksudnya adalah perusakan yang dilakukan oleh manusia yang bisa berupa pencemaran alam yang mengakibatkan bumi tidak layak huni atau bahkan penghancuran alam sehingga tak lagi bisa dimanfaatkan. Dan hancurnya flora dan fauna di daratan dan rusaknya biota di lautan merupakan contoh dari perusakan alam.

Tindakan kriminal seperti mabuk-mabukan, perzinahan, pencurian, perampokan harta pribadi sampai perampokan sumber daya alam milik umum yang melimpah, pembunuhan, pemurtadan, pemberontakan, dan sebagainya juga termasuk kerusakan.

Bagi kita yang pernah mengaji kitab-kitab fiqih Islam kaffah seperti Fathul Qorib, Fathul Mu’in, Fathul Wahab, dan seterusnya, maka semua kerusakan beserta sanksi hukumannya bisa dibaca ulang dalam bab jinayat, qishosh, hudud, dan bughot.

Terkait apa solusinya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS al-A’raaf ayat 96)

Jadi solusinya adalah taqwa. Yaitu melaksanakan perintah-perintah Allah semampu dan sesanggup kita, serta menjauhi larangan-larangan Allah seluruhnya dan tanpa kecualian, kecuali dalam kondisi terpaksa dan dipaksa.

Bahkan kalau satu had saja dilakukan, maka lebih baik daripada hujan empat puluh kali di waktu pagi. Dalam riwayat Imam Abu Daud, Rasulullah shollallahu’alaihi wa sallam bersabda:

لَحَدٌّ يُقَامُ فِي الْأَرْضِ أَحَبُّ إِلَى أَهْلِهَا مِنْ أَنْ يُمْطَرُوا أَرْبَعِينَ صَبَاحًا

“Sungguh suatu hukuman had yang ditegakkan di bumi itu lebih disukai oleh penduduk bumi, daripada mereka mendapat hujan empat puluh pagi”

Maksudnya, insyaa Allah, empat puluh kali dalam setahun atau dalam jenjang waktu yang dibutuhkan, bukan empat puluh hari berturut-turut yang menyebabkan banjir bandang dan kerusakan besar.

Dikatakan demikian, menurut Ibnu Katsir, karena apabila hukuman had ditegakkan, maka semua manusia atau mayoritas dari mereka bisa menahan diri dari perbuatan maksiat dan perbuatan-perbuatan yang diharamkan. Sehingga meninggalkan maksiat itu menjadi penyebab turunnya berkah dari langit dan bumi.

Sejak sebelum runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, kaum muslimin telah kalah dalam perang politik dan perang pemikiran. Sehingga setelah runtuhnya khilafah pada 3 Maret 1924, kaum muslimin di berbagai negeri setelah mereka tidak mampu menegakkan khilafah kembali karena telah terpecah-pecah dan terkotak-kotak akibat sangat masifnya penjajahan, mereka justru menerapkan solusi yang dibuat oleh penjajah. Yaitu mendirikan negara-negara nasional di masing-masing negeri sebagai bukti kemerdekaan dari penjajahan.

Padahal faktanya negara nasional itu bukan solusi, tetapi problem di atas problem-problem kerusakan sebelumnya. Bahkan negara nasional telah dirancang oleh penjajah untuk menjadi wadah semua problem dan untuk melanggengkan penjajahannya.

Meskipun tidak dimungkiri bahwa sejumlah negeri kaum muslimin telah merdeka dari penjajahan, tetapi hanya sebatas merdeka dari penjajahan militer yang justru keuntungan bagi penjajah. Karena lebih mudah bagi penjajah mengeruk dan merampok sumber daya alam yang sangat melimpah, tanpa biaya mahal dan tanpa perang yang memakan jiwa. Sehingga sampai detik ini fakta-fakta penjajahan itu sangat mudah terindra; dirasa, dilihat, dan didengar. Kecuali oleh hewan pemakan bangkai.

Kalau mereka jujur bahwa pemimpin negara kita ini disebut sebagai waliyul amri dharuriy:

ولي الأمر الضروري بالشوكة

“Pemimpin yang diangkat karena keadaan darurat dengan kekuatan”

Maka kenapa harus difinalkan? Wong jelas-jelas darurat kok dianggap final dan dipertahankan? Itu kan sama dengan bolehnya memakan bangkai dalam kondisi darurat?

Wajib berusaha keluar dari kondisi itu, dari makan bangkai, tidak malah bertahan dan mempertahankannya mati-matian, serta menolak untuk berusaha makan selain bangkai dari yang jelas kehalalannya. Apalagi menolak dan menghalangi orang-orang yang berjuang untuk tidak makan bangkai pindah ke makan sate, gule, rawon sebagai lauk nasi pulen.

Jadi, berdirinya negara-negara nasional di negeri-negeri Islam itu bukan solusi tapi problem di atas problem, kerusakan di atas kerusakan. Karenanya ketika Indonesia baru merdeka dari penjajahan militer, para ulama sepakat menyebut Sukarno presiden pertama sebagai waliyyul amri adh-dhoruriy bisy-syaukah, kepala negara darurat yang diangkat dengan kekuatan.

Para ulama dulu sangat bijak menyebut Sukarno sebagai waliyyul amri dhoruriy bisy-syaukah di mana insyaa Allah tujuannya agar generasi berikutnya bisa mengubahnya dengan sistem pemerintahan Islam agar negara ini menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur. Karena yang namanya darurat itu harus bersifat sementara, ya sementara kondisi darurat saja, tidak permanen.

Maka para pejuang syariah dan khilafah adalah orang-orang yang waras, akal cerdas, dan hati ikhlas. Mereka pasti jijik dan benci dengan yang namanya bangkai. Mereka terus berjuang untuk bisa keluar dari kondisi darurat agar bisa berubah kepada kondisi normal, yaitu agar negara ini menerapkan sistem pemerintahan yang datang dari Allah Pemilik Tanah Air yang sesungguhnya. Yaitu sistem pemerintahan Islam khilafah ala minhajin nubuwwah.

Maka ketika itu Indonesia serta seluruh negeri kaum muslimin benar-benar merdeka dengan kemerdekaan hakiki. Insyaa Allah dalam waktu dekat. Wallahu a’lam bish showwab. []

Sumber: Abulwafa Romli

About Author

Categories