Ahok Jadi Calon Gubernur dari PDIP, Bagaimana Sikap Umat Islam ?

Ahok Jadi Calon Gubernur dari PDIP, Bagaimana Sikap Umat Islam ?

Mustanir.com – Seperti yang sudah diduga PDIP akhirnya memutuskan untuk mencalonkan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bersama wakilnya Djarot Saiful Hidayat di pemilihan gubernur Jakarta Februari 2017.

Dalam keterangan di Jakarta, Selasa (20/09) malam, Ahok oleh PDI Perjuangan disandingkan dengan Djarot sebagai calon wakil gubernur.Nama Ahok-Djarot diumumkan ke publik bersama calon-calon kepala daerah yang didukung PDI Perjuangan di pilkada serentak 2017.

Dukungan PDI-P terhadap Ahok, disesalkan beberapa pihak, karena dianggap bertentangan dengan citra PDI-P selama ini yang dikenal sebagai pembela wong cilik. Mengingat Ahok selama ini ‘gemar’ menggusur wong cilik. Ditambah lagi keberpihakan Ahok terhadap cukong ‘kapitalis’  yang kerap mengorbankan rakyat kecil.

Meskipun sulit dibuktikan, sempat marak, adanya kepentingan uang dibalik pencalonan Ahok. Disebut-sebut Ahok harus membayar 10 trilyun sebagai ‘mahar’ politik.

Adapun umat Islam, seperti yang disebutkan dalam Risalah Istiqlal, sudah menegaskan haram memilih pemimpin kafir (non muslim). Risalah yang dikeluarkan dalam acara yang dihadiri Amien Rais, Hidayat Nur Wahid, dan pemimpin Front Pembela Islam, Rizieq Shihab.di Masjid Istiqlal pada ahad (18/9) juga menyerukan agar umat Islam bersatu merapatkan barisan.

Sebelumnya, sekitar 20 ribu massa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan warga Jakarta mengikuti aksi  Tolak Pemimpin Kafir, Ahad (04/09/2016) di Patung Kuda, Monas, Jakarta.

“Menyerukan kepada seluruh umat Islam, di wilayah DKI Jakarta khususnya, untuk bersatu, bahu membahu, berjuang menolak (calon) kepemimpinan kafir di wilayah ini, yang dalam sejarahnya sesungguhnya senantiasa lekat dengan perjuangan Islam,” ujar Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Muhammad Ismail Yusanto, Ahad (4/9/2016) di Patung Kuda, Monas, Jakarta.

Menurut Ismail Yusanto, syarat utama pemimpin wajib muslim, bila bukan muslim bagaimana mungkin ia bisa diharapkan menerapkan syariah dan menegakkan amar makruf, sedangkan ia tidak beriman pada syariah dan tidak memahami kewajiban amar makruf nahi mungkar? (hti/adj)

Categories