AI, Manusia, Da’i, dan Khilafah

MUSTANIR.net – Ketika AI telah mampu bukan hanya meng-collect informasi melainkan juga mengolahnya. Maka yang tersisa dari manusia apa? Kalau manusia mengandalkan kepintaran dari banyaknya pengetahuan dan hebatnya skill logika dan matematis, AI lebih jago.

Juga, yang tersisa dari seorang da’i apa? Kalau seorang ustadz atau da’i hanya mengandalkan knowledge dari buku dan kitab lalu dipaparkan ke tengah masyarakat, AI lebih jago. Tanya syarat dan rukun haji. Tanya apakah menyentuh wanita itu batal wudhu atau tidak. AI mungkin lebih lengkap menjelaskan hingga ikhtilaf-ikhtlafnya.

Karenanya jauh-jauh hari Syekh Taqi sudah mengingatkan, bahwa munculnya sebuah fikroh (pemikiran) dan mafahim (persepsi) itu bukan dari pemaparan fakta semata atau pemaparan maklumat sabiqah (knowledge dari buku/kitab) semata, melainkan pengaitan antara fakta dengan maklumat sabiqah.

AI akan dengan mudah menampilkan fakta pinjol, misalnya dan juga memaparkan hukum judi menurut Islam. Tapi hanya manusia yang bisa mengaitkan antara keduanya menjadi sebentuk rencana aksi: di mana keharamannya dan apa yang harus dilakukan oleh individu, komunal dan negara untuk mengatasi masalah pinjol.

Karena itu, perihal khilafah, yang ‘ditakutkan’ oleh kelompok Islamofobia bukanlah knowledge khilafah itu sendiri, melainkan ketika knowledge khilafah dikaitkan dengan bobroknya fakta, ketika khilafah dijadikan pisau analisis dalam menilai berbagai aspek kehidupan dan menghasilkan rekomendasi aksi untuk menyikapinya. Ini yang ‘radikal’. AI tidak mampu membentuk ideologi, walau mampu menjelaskan berbagai ideologi yang ada.

Konsekuensinya terhadap da’i, stop berorientasi ‘menjelaskan’ dalam dakwah. Kalau semata menjelaskan, kita kalah dari AI. Pengetahuan keislaman yang kita punya harus senantiasa dikaitkan dengan fakta kehidupan yang terindra sehingga menimbulkan persepsi baru mad’u kita tentang kehidupan yang dia jalani. Bukan sekadar menambah “pengetahuan tentang Islam”. Itu yang bikin Islam mampu menggerakkan manusia.

Coba renungkan. Kalau wahyu itu sekadar “transfer pengetahuan”, Qur’an sudah disusun dalam bentuk bab-bab tematik: bab iman, lalu bab hukum bersuci, bab shalat, dst. Dan bisa diselesaikan dalam waktu satu semester saja.

Tapi, Qur’an turun dalam 23 tahun dengan sistematika seperti yang kita lihat: kadang bicara aqidah, lompat ke hukum, lalu ke kisah, lalu ke aqidah lagi dst. Sebagian di antara Qur’an turun ‘merespon’ kejadian dan perbuatan. Qur’an didesain menjadi mafahim, bukan ma’lumat.

Juga ada satu lagi yang tidak bisa dilakukan oleh AI, yaitu transfer emosi dan ruh. Cinta, benci, kesadaran hubungan dengan Allah, itu hanya bisa dilakukan manusia. Da’i harus selalu mengaitkan dakwahnya dengan rasa takut dan harap pada Allah, perjumpaan dengan-Nya dan balasan dari-Nya di hari kiamat. Dan itu bisa dilakukan, bukan dengan penjelasan tentang surga dan neraka, melainkan pengaitan antara fakta yang terindra di depan mata dengan surga dan neraka. []

Sumber: Ageung Suriabagja, M.Ag

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories