Talbiyah Menuju Tegaknya Islam Kaaffah

MUSTANIR.net – Ibadah haji bukan sekadar perjalanan jauh ke Tanah Suci, tetapi juga perjalanan hati untuk mendekat kepada Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ. Dalam ibadah ini, seseorang rela mengorbankan harta, tenaga, waktu, dan kenyamanan demi menjalankan perintah-Nya.

Karena itu, para jemaah haji disebut sebagai tamu-tamu Allah (duyuuf ar-Rahmaan) dan dijanjikan ampunan dosa. Harapan terbesar setiap Muslim tentu adalah meraih haji mabrur. Rasulullah ﷺ bersabda:

وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

”Haji mabrûr tidak lain pahalanya adalah surga” (HR al-Bukhari).

Haji mabrur hanya bisa diraih dengan niat yang ikhlas dan ketaatan kepada Allah selama menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji. Tujuannya harus mencari ridha Allah, bukan mencari gelar, pujian, atau sekadar pamer kepada manusia. Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ berfirman:

وَاَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلّٰهِ

”Sempurnakanlah oleh kalian ibadah haji dan umrah semata-mata karena Allah” (QS. al-Baqarah [2]: 196).

Karena itu, sangat rugi jika ibadah haji dicampuri riya atau kepentingan duniawi. Dalam Hadits Qudsi, Allah berfirman:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِيْ غَيْرِيْ، تَرَكْتُهُ وَ شِرْكَهُ

”Aku adalah Tuhan Yang paling tidak membutuhkan sekutu dari segala bentuk kesyirikan. Siapa saja yang mengerjakan suatu amal yang dicampuri dengan perbuatan syirik kepada Diri-Ku, maka Aku tinggalkan dia bersama kesyirikannya” (HR. Muslim).

Terkadang kita melihat seseorang begitu khusyuk saat berhaji, menangis di depan Ka’bah dan bersungguh-sungguh beribadah. Namun, sepulang dari Tanah Suci, semangat taat itu perlahan hilang. Padahal haji mabrur bukan hanya terlihat saat di Makkah, tetapi juga dari perubahan sikap setelah kembali ke kehidupan sehari-hari.

Haji mabrur bukan hanya tentang khusyuk saat berada di Tanah Suci, tetapi juga tentang ketaatan setelah pulang ke tanah air. Imam Hasan al-Bashri berkata bahwa Haji mabrur ialah ketika pelakunya pulang dalam keadaan zuhud terhadap dunia dan mencintai akhirat.

Imam al-Ghazali juga menjelaskan bahwa tanda haji mabrur ialah ia pulang dalam keadaan zuhud terhadap dunia, mencintai akhirat dan bersiap bertemu Pemilik Ka‘bah setelah berjumpa dengan Ka‘bah. Karena itu, orang yang mendapat predikat haji mabrur adalah mereka yang tetap taat kepada Allah, menjaga diri dari larangan-Nya, dan menjalankan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ

“Siapa saja yang mentaati aku berarti ia mentaati Allah. Siapa saja yang membangkang kepada diriku berarti ia membangkang kepada Allah” (HR. al-Bukhari).

Ibadah haji juga seharusnya menjadi momentum untuk membangun semangat perjuangan umat. Saat berhaji, kaum Muslim bertemu saudara seiman dari berbagai negara dan dapat melihat berbagai penderitaan umat Islam di dunia.

Dalam sejarah Indonesia, banyak tokoh yang pulang haji lalu menjadi pelopor perjuangan melawan penjajahan, seperti KH. Wasyid, Haji Agus Salim, KH. Ahmad Dahlan, dan KH. Hasyim Asy’ari. Bahkan pemerintah kolonial Belanda dahulu sangat khawatir terhadap pengaruh para haji karena mereka dianggap membawa semangat perjuangan Islam yang dapat melawan penjajahan.

Sayangnya, saat ini ibadah haji sering hanya dipahami sebagai ritual semata tanpa menghadirkan perubahan sikap dan kepedulian terhadap umat. Akibatnya, masih ada orang yang sudah berhaji tetapi tetap berbuat zalim, korupsi, atau menjauh dari ajaran Islam.

Karena itu Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhu pernah berkata, “Memang banyak yang berangkat haji, namun sedikit yang benar-benar berhaji.” Maksudnya, banyak orang menjalankan ibadah haji, tetapi hanya sedikit yang benar-benar menjiwai makna ketaatan dan perubahan diri setelahnya.

Ibadah haji sejatinya mengajarkan seorang Muslim untuk tunduk dan taat sepenuhnya kepada Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ, bukan hanya saat berada di Tanah Suci, tetapi juga dalam seluruh aspek kehidupan setelah kembali ke tanah air.

Kalimat talbiyah yang terus dikumandangkan saat haji — ”Labbayk Allaahumma labbayk, labbayka laa syariika laka labbayk, innal-hamda wan-ni‘mata laka wal-mulk, laa syariika lak” — adalah bentuk jawaban atas panggilan Allah sekaligus bukti ketundukan dan kepasrahan kepada-Nya.

Seorang Muslim yang memahami makna talbiyah akan berusaha menaati seluruh perintah Allah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan. Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا

”Siapa saja yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya” (QS. al-Kahfi [24]: 110).

Karena itu, ketaatan kepada Allah tidak boleh hanya dilakukan saat berhaji, tetapi harus terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari. Jiwa yang benar-benar taat kepada Allah tentu tidak akan tenang melihat ajaran Islam disingkirkan, sementara paham sekulerisme dan liberalisme lebih diagungkan dalam kehidupan.

Saat berhaji, kaum Muslim begitu patuh menjalankan seluruh perintah Allah seperti ihram, thawaf, dan tahallul. Karena itu, sepulang dari Tanah Suci mereka juga seharusnya tetap berani menjaga ketaatan kepada Allah, membina keluarga agar taat kepada-Nya, serta mengajak umat menjadikan syariah Islam sebagai pedoman hidup dan penjaga kemuliaan umat Islam.

Wallâhu a‘lam bish-shawâb. []

Sumber: Seruan Masjid

About Author

Categories