Akidah Akliah yang Layak Menjadi Asas Kebangkitan

MUSTANIR.net – Kami telah menjelaskan dalam pasal terdahulu bahwasanya dalam pembahasan tentang qaidah atau asas pemikiran yang layak dijadikan pijakan perubahan, kita akan menemukan solusi pengurai yang begitu beragam. Sebagian solusi tersebut ada yang sama sekali tidak layak, sebagaimana dalam pemikiran cabang atau ide umum atau dalam akidah yang tidak rasional, yang telah kami berikan beberapa pencerahan seputar itu, dan ada juga yang layak menjadi asas perubahan dan kebangkitan, dan inilah yang menjadi objek bahasan pasal ini.

Ketika membahas akidah akliah yang layak menjadi asas berpijak demi mencapai kebangkitan, maka kita tidak akan menemukan kecuali tiga akidah akliah saja, yakni Islam, kapitalisme, dan sosialisme. Selain ketiga akidah ini tidak layak menjadi asas kebangkitan karena sebagaimana telah kami singgung di atas merupakan pemikiran yang tidak menyeluruh yakni berupa pemikiran umum atau ide cabang, atau juga merupakan akidah spiritual yang tidak rasional yang tidak bisa memancarkan sistem untuk mengatasi permasalahan manusia yang timbul dari upaya pemenuhan kebutuhan jasmani dan nalurinya.

Akidah akliah yang salah satu karakternya adalah bisa melahirkan sistem (seluruh akidah akliah bisa melahirkan sistem) untuk memecahkan permasalahan manusia, disebut ideologi. Tiada lain karena al-mabda (ideologi) secara bahasa (etimologi) merupakan bentukan kata dari bada’a (memulai), yabda`u (sedang memulai), bad’an (permulaan), dan mabda’an (titik permulaan), dalam istilah para intelektual adalah ‘pemikiran asasi yang menjadi fundamen berbagai pemikiran’.

Jika seseorang mengatakan, “Ideologi saya adalah kejujuran,” maka yang dia maksudkan adalah bahwa asas yang menentukan segala perilakunya adalah kejujuran. Jika seseorang yang lain mengatakan bahwa ideologinya adalah keikhlasan, maka keikhlasan itu merupakan asas yang menentukan segenap transaksinya, begitu seterusnya.

Sedangkan kejujuran, keikhlasan, tolong-menolong, sikap baik pada tetangga, dan apa yang disebut dengan ideologi perdagangan atau ideologi undang-undang, sebenarnya bukanlah ideologi, tetapi hanya kaidah atau ide saja. Ada pun ideologi secara istilah merupakan pemikiran mendasar, sedangkan yang disebutkan tadi (keikhlasan, kejujuran, ekonomi, dan sebagainya) merupakan pemikiran cabang.

Adanya potensi dibangunnya pemikiran lain di atas ide-ide tersebut tidak dengan sendirinya menjadikan ide tersebut sebagai pemikiran mendasar (al-fikr al-asasiy) atau ideologi, tiada lain karena ide-ide tersebut tidak mendasar (ghair asasiyah), tetapi semuanya lahir dari sebuah pemikiran mendasar. Oleh karenanya, kejujuran dan akhlak secara umum merupakan pemikiran cabang, bukan pemikiran mendasar karena ia diambil dari sebuah pemikiran mendasar. Kejujuran itu cabang dari sebuah asas, karena kejujuran itu merupakan hukum syarak yang berasal dari al-Qur’an menurut kaum muslim dan menjadi karakter yang baik dan bermanfaat menurut orang-orang kapitalis.

Ada pun pemikiran mendasar merupakan sebuah pemikiran yang sebelumnya tidak ada pemikiran lain, dan terbatas hanya pada pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan, dan pemikiran mendasar selainnya sama sekali tidak ada, karena pemikiran ini merupakan asas dalam kehidupan. Manusia tidak mungkin tenang dan tenteram atau berjalan teguh pada arah yang jelas dalam kehidupan, kecuali jika dia memiliki pemikiran mendasar ini yang bisa membentuk sebuah solusi pengurai simpul besar. Apabila solusi pengurai ini belum ada, seseorang akan terus menjadi orang dungu, mudah berubah, gelisah, dan kehilangan arah.

Oleh karena itu, sebuah pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan merupakan pemikiran mendasar atau disebut juga asas pemikiran (al-asas al-fikriy), landasan ideologis (kaidah fikriyah), atau akidah. Namun, akidah ini tidak mungkin melahirkan berbagai pemikiran atau menjadi fundamen bangunan pemikiran kecuali jika ia sendiri merupakan sebuah pemikiran, yakni akidah ini muncul berdasarkan bahasan rasional. Ada pun jika berdasarkan penyerahan atau pendoktrinan, akidah tersebut bukanlah pemikiran dan tidak disebut sebagai pemikiran menyeluruh, walaupun sah-sah saja disebut sebagai akidah.

Sebuah pemikiran menyeluruh (al-fikrah al-kuliyah) bisa diperoleh seseorang melalui pemikiran sehingga ia menjadi akidah rasional yang memungkinkannya bisa melahirkan berbagai pemikiran dan menjadi fundamen bangunan pemikiran. Pemikiran-pemikiran tersebut menjadi solusi yang memecahkan permasalahan kehidupan. Ketika ada akidah yang bisa melahirkan hukum-hukum sebagai solusi, maka telah lahirlah sebuah ideologi. Oleh karena itu, ideologi didefinisikan sebagai akidah rasional yang melahirkan sistem.

Berdasarkan hal ini, kapitalisme merupakan sebuah ideologi karena ia merupakan akidah akliah yang melahirkan sistem, yakni pemikiran-pemikiran yang memecahkan permasalahan kehidupan. Sosialisme pun merupakan sebuah ideologi karena merupakan akidah akliah yang melahirkan sistem, yakni pemikiran-pemikiran yang bisa memecahkan permasalahan kehidupan. Islam pun merupakan ideologi karena ia merupakan akidah akliyah yang memancarkan sistem, yakni hukum-hukum syarak yang memecahkan permasalahan kehidupan manusia.

Akan tetapi, haruslah jelas bahwa keberadaan akidah dan sistem dalam sebuah ideologi tidak membawa arti bahwa ideologi tersebut layak untuk diterapkan, tetapi hanya memberikan arti bahwa ia sebuah ideologi saja. Ada pun yang menjadikan ideologi itu layak untuk diterapkan sehingga bisa meraih kebangkitan di atas asasnya, yakni tata cara atau metode (thariqah) yang menjelaskan tata cara penerapan dan pelaksanaan ideologi tersebut di dalam negeri dan mengembannya ke luar, serta memelihara ideologi tersebut. Jika tata cara (al-kaifiyat) ini belum ada, maka idelologi tersebut hanya menjadi sebuah fikrah (ide) yang ada di dalam otak penganutnya, atau dalam lembaran buku-buku seperti “Republik” Plato, “Utopia” Thomas More, dan “Kota yang Ideal” al-Farabi.

Dalam Islam ada thariqah (metode) pelaksanaan, yakni daulah dan ketakwaan individu, sosialisme pun memiliki metode untuk itu yakni negara saja, begitu pula kapitalisme. Ada pun mengemban ideologi ke luar, Islam melakukannya dengan metode jihad, sedangkan kapitalisme melalui penjajahan, dan sosialisme melalui partai-partai komunis.

Berdasarkan hal ini, maka sebuah ideologi terdiri dari fikrah (ide) dan thariqah (metode). Ada pun fikrah adalah akidah, yakni pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia dan kehidupan atau dengan kata lain solusi pengurai simpul besar, ditambah dengan sistem yakni berbagai solusi pemecahanan masalah kehidupan.

Ada pun thariqah (metode) merupakan tata cara yang telah disebutkan di atas. Terpenuhinya fikrah dan thariqah ini menunjukkan bahwa sebuah sistem tersebut layak atau bisa diterapkan, dan tidak menunjukkan bahwa ideologi itu benar.

Ada pun yang menunjukkan atas kebenaran sebuah ideologi adalah, sebagaimana telah kita bahas dahulu, kebenaran asas ideologinya, yakni kebersesuaian dengan fitrah dan bisa memuaskan akal manusia. Jika asasnya itu benar, ideologi ini benar, ada pun jika sebaliknya, ideologi tersebut rusak.

Ideologi dari tata cara munculnya ideologi tidak lebih sebagai hasil dari otak manusia atau diwahyukan dari Allah subḥānahu wa taʿālā, Pencipta yang Maha Mengatur, yang diyakini keberadaannya dengan argumentasi rasional yang pasti melalui pemikiran cemerlang.

Jika sebuah ideologi berasal dari manusia, ia menjadi ideologi yang batil, karena manusia terbatas, yakni lemah, kurang, dan membutuhkan sehingga apa yang dihasilkannya akan memiliki karakter dirinya sendiri (terbatas dan tidak sempurna). Oleh karena itu, ideologi cipta karya manusia itu bersifat lemah, terbatas, mengandung kontradiksi, dan berbeda-beda, karena pemahaman manusia mengandung potensi untuk berbeda dan bertentangan dan terpengaruh oleh lingkungan.

Seorang manusia mungkin saja hari ini akan menganggap salah apa yang dianggapnya benar pada hari kemarin, dan pada hari ini menganggap benar apa yang kemarin dianggapnya salah. Dengan demikian, sistem yang dibuat manusia pasti tidak mampu meliputi dan mengetahui realitas manusia sebagai manusia, dan tidak mampu pula mengetahui apa yang dibutuhkannya. Berdasarkan hal ini, maka ideologi buatan manusia jika layak untuk sebuah masa, akan tidak untuk masa lainnya, jika cocok untuk sebuah tempat, akan tidak cocok untuk tempat lainnya.

Ada pun ideologi Ilahi merupakan ideologi yang sahih yang tidak mungkin dimasuki kebatilan dari depan ataupun belakang. Al-Khalik (Pencipta) mengetahui setiap bagian terkecil yang ada pada makhluknya karena Dialah yang menciptakannya sehingga al-Khalik itulah yang mampu menetapkan sistem yang bisa menjamin kebahagiaan manusia dan merealisasikan ketenteramannya.

Berdasarkan hal ini, melalui pemahaman yang benar atas sebuah ideologi, maka kita tidak akan mendapatkan di dunia ini kecuali hanya tiga ideologi yang bisa diterapkan dan memungkinkan menjadi asas kebangkitan, tetapi kebangkitan ini tidak dengan sendirinya menjadi kebangkitan yang sahih, kecuali jika ideologi tersebut bercirikan kebenaran yang telah kami sebutkan syarat-syaratnya.

Berkaitan dengan ideologi-ideologi penting dalam objek bahasan kebangkitan yang kami maksudkan dalam aktivitas ini, maka kami akan memproses dan memaparkannya secara panjang lebar, insya Allah. Ada pun ideologi yang menjadi bahasan bab berikutnya adalah:

1. Ideologi kapitalisme.

2. Ideologi sosialisme.

3. Ideologi Islam. []

Sumber: Syekh Ahmad Athiyat, Ath-Thariq (“Jalan Baru” Islam)

About Author

Categories