Ta’liq Siyasi (Komentar Politik) dan Tahlil Siyasi (Analisa Politik)

MUSTANIR.net – Dulu para pengemban dakwah Islam ideologis karena sikap konsistennya, yakni mengkritik gerakan dakwah yang coba mengubah dari dalam sistem, sering kali dinyinyiri oleh mereka yang masuk dalam sistem. Para pengemban dakwah tersebut dikatakan oleh mereka sebagai pihak yang tidak tahu medan dakwah, tidak paham soal politik, karena tidak masuk ke dalam sistem pemerintahan, dll.

Ini karena para pengemban dakwah Islam ideologis itu senantiasa mengingatkan bahwa perubahan itu tidak harus dari dalam sistem, karena fakta perubahan juga bisa dari luar sistem. Namun nyinyiran terus diberikan kepada mereka. Dianggap tidak tahu politik.

Akhirnya seiring perjalanan dakwah, mereka yang dulu masuk ke dalam sistem, yang dulunya berniat untuk mewarnai malah sekarang terwarnai, yang dulu berniat subyek yang akan memengaruhi, malah sekarang menjadi obyek yang dipengaruhi.

Memang demikian adanya, terkadang pihak yang dinilai tidak langsung berada pada area politik praktis maka dianggap tidak memahami apa itu strategi politik, dan sebagainya.

Padahal, para pengemban dakwah Islam ideologis itu bukan hanya sekumpulan orang yang berdakwah dengan semangat semata, namun juga mereka telah dibina terkait pemikiran, pemahaman, dan pandangannya akan persoalan memandang politik secara utuh. Sehingga dengan pembinaan siyasah sekian lama berjalan, mereka mampu memberikan pandangan politiknya baik dalam bentuk ta’liq siyasi (komentar politik) serta melakukan tahlil siyasi (analisa politik), walaupun tidak terjun langsung di area politik praktis.

Pun juga demikian dengan pandangan politiknya terkait aktivitas internasional, karena memang para pengemban dakwah Islam idelogis itu pola fikirnya adalah global, namun geraknya lokal.

Kenapa pemikirannya bersifat global?

Karena mereka adalah pengemban dakwah Islam idelogis. Begitu pula saat para pengemban dakwah Islam ideologis memberikan respons atau pandangan politiknya soal Suriah, jangan dianggap hanya pandai berbicara, tidak merasa jihad di sana, dan lainnya.

Pendiri penerus gerakan dakwah Islam ideologis ini memang menjadikan aktivitas tatabbu’ sebagai aktivitasnya, yakni mengamati atau me-monitoring berita terkait peristiwa yang ada. Tentu peristiwa yang di-monitoring adalah peristiwa yang bersifat politik, dan ini adalah prasyarat utama melakukan tafkir siyaasiy (berfikir politik).

Dari hasil tatabbu’ tadi, ia kemudian menghubungkan kejadian dan peristiwa tersebut dengan kejadian dan peristiwa lainnya, juga mengaitkannya dengan konstelasi politik dunia beserta perubahan-perubahannya. Dengan melakukan hal tersebut, maka ia bisa memahami perkara-perkara yang menyelimuti setiap peristiwa dan kejadian; siapa aktor dan apa tujuannya; mana yang mungkin terjadi dan mana yang tidak?

Ini yang dilakukan oleh Syaikh Taqiyuddin an Nabhani dan Syaikh Atha’ Abu Rasythah rahimahumallah. Di rumah Syaikh Taqiyuddin an Nabhani ada tiga radio. Saat ketiga radio tersebut “on”, maka beliau dengarkan secara bersamaan. Radio pertama menyiarkan berita, yang ke dua menyiarkan komentar politik. Di samping radio terdapat sejumlah surat kabar dan kertas-kertas berita. Beliau menulis berita-berita yang penting. Beliau terus mendengarkan radio dan menulis sampai dini hari.

Begitu pula yang dilakukan oleh Syaikh Atha’ Abu Rasythah, saat beliau dipenjara. Hanya ada satu televisi di penjara, untuk semua orang. Televisi itu selalu berada di ruang makan. Syaikh Atha’ Abu Rasythah pergi ke sana hanya untuk menonton berita pukul delapan dan kemudian akan kembali ke selnya. Hal itu dilakukan dalam rangka tatabbu’, yakni me-monitoring peristiwa yang terjadi. []

Sumber: Adi Victoria

About Author

Categories