Deep Learning: Bagian dari Penguatan Liberalisasi Pemikiran Generasi

MUSTANIR.net – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menggagas kurikulum deep learning sebagai sebuah pendekatan pembelajaran.

Deep learning bertujuan memberikan pengalaman belajar lebih bermakna dan menyenangkan bagi siswa. Deep learning memiliki tiga elemen utama, yaitu mindful learning (menyadari keadaan murid berbeda-beda), meaningful learning (mendorong murid berpikir dan terlibat dalam proses belajar), dan joyful learning (mengedepankan kepuasan dan pemahaman mendalam).

Menurut Abdul Mu’ti, pendekatan belajar seperti ini memiliki signifikansi dan relevansi yang amat penting mengingat masih banyak siswa sekolah formal menjalani kegiatan belajar di sekolah, tetapi nyatanya tidak belajar.

Di samping itu, pemerintah juga tengah mengkaji ilmu coding masuk menjadi salah satu mata pelajaran pilihan di sekolah. Abdul Mu’ti mengatakan, rencananya, coding bakal dimasukkan dalam kurikulum sekolah dasar (SD), tepatnya mulai kelas 4.

Tidak ketinggalan ikut meramaikan wacana seputar kurikulum pendidikan, Menag Nasaruddin Umar mengungkap Kemenag akan membuat kurikulum berbasis cinta. Hal ini akan diterapkan di madrasah yang menjadi benteng bagi bangsa Indonesia. Kurikulum berbasis cinta memiliki inti apabila semua agama mengajarkan kebaikan. Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan.

Penguatan Liberalisasi

Pengamat politik Endiyah Puji Tristanti angkat bicara terkait gagasan Mendikdasmen dan Menag ini. ”Pendekatan pembelajaran deep learning sebenarnya bagian dari sarana penguatan liberalisasi pemikiran generasi, juga dapat merusak pola pikir, cara berpikir, cara mengambil kesimpulan, dan cara generasi menyelesaikan problem kehidupan,” tuturnya kepada M News, Rabu (11-12-2024).

Menurutnya, generasi ateis dan agnostik yang hari ini banyak mendemonstrasikan pemikirannya di media sosial menjadi salah satu konsekuensi cara berpikir bebas standar yang selama ini sudah diajarkan di lingkungan pendidikan.

”Model pendidikan yang menyempitkan pemikiran manusia dalam memahami kehidupan, menyerah pasrah pada perkara materi-inderawi yang telah dimanipulasi dengan istilah berpikir ilmiah. Model berpikir yang menyangsikan keberadaan Pencipta kehidupan, yang gagal memahamkan manusia pada perkara maknawiyah seperti kebenaran, kemuliaan, kehormatan, dan kebahagiaan,” ulasnya penuh prihatin.

Ada pun rencana mata pelajaran coding masuk kurikulum sekolah dasar kelas 4 SD, kata Endiyah, memperjelas lemahnya kapasitas pemerintahan baru dalam memahami problem kualitas pembangunan sumber daya manusia Indonesia, serta ketakmampuan pemerintah menelaah akar masalah pendidikan dasar di negeri ini.

“Pendidikan dasar seharusnya berorientasi untuk membangun kepribadian peserta didik, mengajarkan dan membangun pola pikir dan pola sikap peserta didik bagaimana memahami hidup dan kehidupan dengan benar sesuai fitrah penciptaannya,” sarannya.

Ia melanjutkan, juga cara peserta didik punya kapasitas menjalani kehidupan dengan kesiapan pertangungjawaban dunia dan akhirat. ”Pendewasaan berpikir kuncinya pada kapasitas tanggung jawab. Generasi mental illness, generasi stroberi adalah generasi rapuh yang pemahaman hakikat dirinya nihil,” simpulnya.

Mengganggu

Dalam pandangan Endiyah, mata pelajaran coding untuk siswa sekolah SD dapat mengganggu proses pembentukan dasar-dasar pemahaman kehidupan bagi generasi, baik akidah maupun syakhsiyah.

Sebabnya, ia menuturkan, generasi sejak dini dibiasakan dalam lingkungan pendidikan yang hanya memahami nilai materialisme untuk memenuhi kepentingan industri masa depan.

”Padahal tahapan pembentukan dan pengembangan otak manusia tidak bisa disamakan dengan robot. Di dunia yang serba permisif hari ini, pendidikan harus mampu membangun dan mengukuhkan aspek insaniah manusia. Pendidikan tidak boleh menguatkan dehumanisasi,” ulasnya.

Sedangkan terkait kurikulum berbasis cinta untuk sekolah madrasah yang dicanangkan Kemenag, menurut Endiyah, harus diakui kepentingannya bukan untuk penguatan kepribadian Islam peserta didik.

”Kurikulum ini satu paket dengan proyek moderasi beragama yang diterapkan untuk mempromosikan pluralisme dan sinkretisme dalam beragama. Metode dan cara keberlanjutan sekularisasi dunia pendidikan negeri-negeri Islam,” jelasnya.

Ia lalu menekankan pentingnya terus mengedukasi umat bahwa moderasi beragama adalah proyek pendangkalan akidah umat Islam, serta manipulasi cara pandang umat Islam terhadap proyek Barat yang mengandung logika penjajahan dan depolitisasi muslim.

Menurut Endiyah, dapat diprediksi bahwa kurikulum berbasis cinta, model pembelajaran deep learning, dan materi pelajaran coding, keseluruhannya akan makin memperparah kondisi keterpurukan dunia pendidikan di Indonesia, alih-alih bisa menyelamatkan.

”Posisi Indonesia sebagai negara yang latah mengikuti segala yang berlabel global tidak akan membawa Indonesia menjadi negara yang memiliki harga diri dan kemuliaan. Indonesia akan menjadi lebih cemas tanpa Islam,” kritiknya.

Ia menegaskan, sistem perbudakan modern tetaplah sistem perbudakan. ”Budak selamanya menjadi budak tanpa ada pemikiran pembebasan dari belenggu perbudakan. Budak akan senantiasa berjalan mengikuti ujung tongkat tuannya. Demikianlah umat yang memperbudak diri pada industri dan korporasi serta menjauhkan diri dari petunjuk Tuhannya,” sesalnya.

Merugikan Umat

Dalam pandangan Islam, ucapnya, kebiasaan menjiplak model pendidikan ala Barat sangat merugikan umat, yakni ketika generasi muda (para pelajar) dengan potensi berpikirnya yang bersih dan fresh dibekukan oleh model pendidikan copy paste Barat.

”Padahal masa depan Islam dan dunia Islam ada pada generasi muda muslim. Tanggung jawab mengemban kekuatan Islam ke seluruh dunia ada pada generasi muda muslim. Adapun kekuatan umat Islam hanya ada pada akidah dan sistem Islam yang telah sempurna dalam risalah din Islam,” yakinnya.

Dalam pandangannya, mustahil untuk menghapus sejarah Islam yang selama 1.300 tahun menjadi peradaban unggul.

”Kemajuan pendidikan pada masa keemasan peradaban Islam bahkan telah terbukti menjadi rujukan peradaban lainnya. Misalnya, diungkapkan oleh Tim Wallace-Murphy (WM) dalam buku berjudul ‘What Islam Did for Us: Understanding Islam’s Contribution to Western Civilization’ (London: Watkins Publishing, 2006),” bebernya.

Buku WM tersebut, jelasnya, memaparkan fakta tentang transfer ilmu pengetahuan dari dunia Islam ke Barat pada abad pertengahan.

”Di bidang teknologi, Kekhalifahan telah mencapai kemajuan yang sangat tinggi. Donald R Hill dalam bukunya, ‘Islamic Technology: an Illustrated History’ (University of Cambridge, 1986), membuat sebuah daftar panjang beragam industri yang ada dalam torehan pena sejarah Islam,” urainya.

Terakhir ia menutup dengan pertanyaan retorik, mengapa masih silau dengan dunia Barat yang baru kemarin sore menjadi besar, tetapi menyertakan dehumanisasi yang demikian mengerikan jelas tergambar di depan mata? []

Sumber: M News

About Author

Categories