Sabbatai Ẓevi (Wikimedia Commons)

Asal Usul Zionisme Modern

MUSTANIR.net – Zionisme modern berakar pada abad 17 dari mesias Yahudi palsu bernama Sabbatai Ẓevi dengan klaim sebagai penyelamat bagi orang-orang Yahudi yang dijanjikan untuk mendirikan kerajaan Yahudi di tanah perjanjian, Palestina. Ẓevi merupakan sosok sangat kontroversial, ia tidak hanya merusak Talmud tapi kelakuannya bertentangan dengan perkataan Tuhan dalam Talmud. ‘Dosa’ dan ‘rasa bersalah’ tidak ada lagi dan segala sesuatu diizinkan; perintah-perintah Tuhan dalam Taurat tidak berlaku karena menurutnya zaman mesias telah tiba dan dia yang akan menebusnya.

Seperti ditulis Jerry Rabow di halaman 110 dari bukunya ‘50 Jewish Messiahs’ yang diterbitkan Gefen dari Yerusalem:

“Melalui semua ini, Sabbatai Ẓevi terus menyatakan perubahan teologis yang ditimbulkan oleh kedatangan zaman mesias. Doa baru Sabbatai adalah, ‘Terpujilah Dia yang mengizinkan yang terlarang.’ Karena semua dibolehkan di zaman mesias, Sabbatai menyatakan banyak larangan lama dari Taurat yang tidak berlaku lagi. Dia hapus hukum soal hubungan seksual. Dia akhirnya menyatakan bahwa semua 36 dosa di Bibel kini diizinkan dan menyuruh sejumlah pengikutnya bahwa tugas mereka adalah melakukan dosa-dosa seperti itu untuk mempercepat Penebusan.”

Ẓevi adalah kabbalis dan okultis yang menipu sebagian besar Yahudi masa itu dan sesudahanya. Ia lahir pada 9 Agustus 1626 di Smyrna, Turki. Pada 1666, ia masuk Islam dengan beberapa pengikutnya dan mengambil nama Aziz Mehmet. Sebagian besar orang Yahudi kecewa tapi ia katakan ke mereka bahwa ia harus menjadi muslim untuk mengubah muslim menjadi Yahudi, dan ia lalu berbalik serta mengatakan ke orang-orang Turki dan sultan bahwa ia harus tetap berhubungan dekat dengan orang Yahudi untuk mengubah orang Yahudi agar menjadi Islam. Dengan demikian ia bebas pergi ke mana pun ia suka dan melakukan apa pun yang ia inginkan.

Perihal Ẓevi dibongkar ke orang Turki oleh mesias Yahudi dari Polandia. Ẓevi mengungkap ke mesias Polandia ini nubuat yang diberikan rekan dekatnya, Nathan Ghazzati sang nabi, bahwa Ẓevi ditakdirkan untuk menjadi penguasa Kesultanan Utsmani. Akibatnya, Ẓevi lalu diasingkan ke desa kecil di Albania, tempat ia mati. Tetapi para pengikut Sabbatai akhirnya kini menjadi para penguasa sesungguhnya pada masa Turki modern, kendati diselubungi secara tersembunyi.

Pengaruh Ẓevi di antara orang Yahudi tidak hilang dengan kematiannya, banyak yang masih menganut kepercayaan ahli penipu yang menggunakan berbagai cara untuk mencapai tujuan ini. Seorang rabbi ekstrimis, Berekhiah, mengganti Ẓevi dan mengambil alih gerakan Sabbatai-nya.

Barry Chamish dalam artikelnya ‘The Deutsch Devils’ (31 Desember 2003) mengatakan bahwa:

“Pengikut Sabbatai melanjutkan kehidupan tersembunyi mereka dalam sekte Dönmeh di Turki yang kegiatannya berlanjut sampai kini seperti dilaporkan secara luas tahun ini bahkan oleh Jerusalem Post yang mencemaskan. Di antara pengikut Dönmeh adalah Jacob Frank (1726-1791) yang kemudian mengubah Eropa dan dunia menjadi neraka Sabbataian sekitar 1 abad setelah itu.”

Jacob Frank kemudian menggantikan Rabbi Berekhiah dan pada abad ke 18 membawa ideologi Dönmeh ke Eropa. Ia menjalin persekutuan di dekat Frankfurt, Jerman, dengan Yesuit bernama Adam Weishaupt dan keluarga Rothschild yang berkuasa. Barry Chamish mengutip ucapan dari Rabbi Antelman yang menjelaskan di dalam bukunya ‘To Eliminate the Opiate’ bahwa:

“Sebuah gerakan yang sepenuhnya pengikut setan kini sedang memegang peran. Tujuan Yesuit adalah menghancurkan agama reformasi Protestan untuk mendorong dikembalikannya kedudukan seorang paus yang diberi kewenangan penuh untuk menghakimi seluruh manusia. Sedangkan tujuan keluarga Rothschild adalah melakukan kontrol terhadap kekayaan dunia. Dan visi Frankist adalah membinasakan etika Yahudi untuk menggantikannya dengan agama yang sungguh bertentangan dengan kehendak Tuhan (setanisme tingkat tinggi). Ketika fraksi ini bersatu, meletuslah peperangan demi peperangan berdarah melawan kemanusiaan, dengan Yahudi di garis terdepan”

Dalam buku berjudul ‘The Messianic Idea in Judaism’ yang ditulis profesor Yahudi Gershon Scholem (edisi 1971, halaman 126), pengarang menulis tentang Jacob Frank sebagai berikut:

“Jacob Frank menganggap dirinya mesias. Dia mengaku titisan kepala keluarga Yahudi, Jacob. Dia memerintahkan ke sekitar 13.000 pengikutnya untuk pura-pura memeluk agama Katolik dan melakukan infiltrasi dalam gereja. Dia menunjuk Katolik sebagai ‘Esau’, saudara Jacob menurut kitab Bibel, sementara dia dan pengikutnya mengaku sebagai bagian dari Jacob menurut kitab Bibel. Kepada pemeluk agama Kristen Katolik, dia menceritakan bahwa sudah waktunya melakukan rekonsiliasi antara ‘Jacob’ dan ‘Esau’. Sementara itu dia mengatakan kepada para pengikutnya secara rahasia bahwa mereka berperan sebagai Jacob yang menipu Esau seperti dalam kisah Bibel, sehingga melalui penipuan ini, kata Jacob, akan didirikan sebuah kerajaan Yahudi yang anti-Kristus di Palestina.”

Rabow dalam bukunya pada halaman 130 menyebutkan bahwa:

“Para pengikut Frankis juga melibatkan diri dalam berbagai intrik politik internasional, dan mengirimkan utusan rahasia ke pemerintah Russia serta gereja Ortodoks Ketimuran menawarkan untuk membantu menggulingkan pemerintah Polandia serta gereja Katolik.”

Jerry Rabow menggambarkannya lebih rinci dalam bukunya ‘50 Jewish Messiahs’:

“Dia (Frank) memperluas pengajaran paradoks Sabbatai Zevi bahwa dengan datangnya zaman mesias telah terjadi transformasi Bibel soal larangan hubungan seksual menjadi dibolehkan dan bahkan merupakan kewajiban. Menurut Frank, melibatkan diri ke orgy seksual kini menjadi cara atau jalan untuk melakukan pensucian jiwa dari dosa-dosa. Penyimpangan susila menjadi terapi. Frank meyakinkan para pengikutnya bahwa hanya ada satu jalan bagi agama Yahudi yang mereka yakini untuk bertahan adalah dengan berpura-pura secara lahiriah memeluk Kristen, seperti dilakukan oleh Yahudi Dönmeh, berpura-pura memeluk agama Islam. Dalam Februari 1759, para pengikut Frank menyatakan kepada Gereja Katolik bahwa mereka siap dibaptis.”

Pada halaman 121 buku Rabow, disebutkan bahwa:

“Dönmeh kini telah mengubah Sabbatain Purim ke orgy seksual tahunan, saat para anggotanya saling tukar pasangan dalam upacara yang disebutnya sebagai ‘memadamkan cahaya’. Dönmeh membolehkan orgy seksual Purim, dan mereka juga secara reguler melakukan aktivitas seksual lainnya dengan saling bertukar pasangan suami-istri dengan memuji keteladan kitab Bibel.”

The Jewish Encyclopedia mendefinisikan Dönmeh sebagai:

”Sebuah kata Turki untuk ‘orang murtad’ dan mengacu ke Yahudi dari Timur Dekat pengikut Sabbatai Zevi yang memeluk agama Islam pada 1666, tetapi diam-diam masih mempraktekkan ajaran dan upacara agama Yahudi, menyembah Sabbatai sebagai mesias dan titisan Tuhan.”

Peneliti lain mengatakan bahwa:

“Sikap Yahudi Dönmeh ke publik Turki menunjukkan kasih sayang yang besar terhadap Islam, tapi di kalangan mereka seluruhnya menolak dan bahkan meremehkan Islam.”

Tidak diragukan lagi bahwa di Kesultanan Utsmani mereka juga diam-diam dan bahkan lebih benci serta meremehkan agama Kristen. Seperti dilakukan ‘Turki’ Dönmeh yang berkuasa di Turki pada Perang Dunia I ketika terjadi genosida bangsa Armenia. Mereka yang menguasai Kesultanan Utsmani dan merekalah yang melaksanakan serta memberi perintah untuk melakukan pembantaian –dengan cara paling kejam yang tak pernah terpikir oleh manusia, sesuai rencana mereka– hampir semua penduduk Kristen di Asia Kecil: satu setengah juta orang Armenia, setengah juta orang Yunani dan Yunani Pontian serta setengah juta orang Asyria dan Caldean.

Pengarang Turki, Mevlan Z Rifat, mengacu ke sekte Dönmeh dan ia katakan sebagai ‘sekte sinkretis Yahudi-muslim’, yang ditulis dalam bukunya berjudul ‘Inner Folds of the Ottoman Revolution’ (1929):

“Genosida bangsa Armenia diputuskan pada Agustus 1910 dan Oktober 1911 oleh seorang anggota Komite Turki Muda, di mana keseluruhan anggota komite adalah Yahudi Balkan dalam bentuk sekte sinkretis Yahudi-muslim, termasuk di dalamnya adalah Tallat, Enver, Behaeddin Shakir, Jemal dan Nazim, mereka bergaya dan bersikap seperti orang muslim. Ini terjalin dari Loji Grand Orient yang didanai Rothschild di Salonika, Yunani. Maka tak heran infrastruktur itu disusun Agustus 1914 di Erzerum untuk merencanakan pembantaian besar-besaran, hampir 3 bulan sebelum Turki terlibat Perang Besar. Selama Perang Dunia I, Yahudi menduduki posisi-posisi penting di pemerintahan Turki yang tidak pernah terjadi sebelumnya, termasuk anggota sekte sinkretis Yahudi-muslim adalah 3 Presiden Turki, yaitu Atatürk, Inonu, dan Bayar.”

Tanpa diketahui ada atau tidaknya terjemahan buku karangan Rifat dalam bahasa Inggris, tetapi buku itu sudah diterjemahkan ke bahasa Armenia pada 1939. Seorang ilmuwan Yahudi bernama Avrum M Ehrlich menulis buku berjudul ‘Sabbatean Messianism as Proto-Secularism’:

“Dr. Nazim, Nuzhet Faik, Mustafa Arif, Muslihiddin Adil, Sukru Bleda, Halide Edip Adivar dan Ahmet Emin Yalman, mereka semua aktif dalam gerakan Turki Muda serta berasal dari keluarga Yahudi Dönmeh. Mehmet Kapanci (1839-1924), seorang Walikota Salonika dan pemilik bank terkenal yang membiayai CUP –beberapa orang Armenia adalah anggota Mason dan bagian dari the Committee of the Union and Progress Party sebelum terjadi genosida– dan berasal dari Yahudi Dönmeh. Yahudi lain yang aktif dalam gerakan Turki Muda adalah Nissim Mazliah dari Izmir dan Vitali Faradji, Moise Cohen (juga dijuluki Munis Tekinalp) adalah Yahudi aktif dan pernah menjadi mahasiswa kerabbian lalu beralih menjadi pebisnis serta aktif menyatakan kebanggaan identitasnya sebagai seorang Turki dengan sentimen/perasaan Zionis. Adalah aneh bahwa Perdana Menteri Israel ke 1 dan 2, yakni David Ben Gurion dan Moshe Sharett serta Presiden Israel ke 2 Yitzchak Ben Zvi pernah tinggal serta belajar di Istambul dan memeluk konsep ‘lehitatmen’ yang dalam bahasa Ibrani berarti ‘untuk menjadi seorang Utsmani’. Ben Zvi dikatakan orang sebagai turunan keluarga Sabbatean. Sharett bertugas pada Angkatan Darat Utsmani dalam Perang Dunia I. Ben Gurion pindah kewarganegaraan Russia menjadi warga negara Utsmani, mereka takut melakukannya di Palestina. Presiden Israel Ben Zevi, Zalman Shazar dan pejabat lebih rendah lainnya seperti Yitzchak Navon, mereka menjadi mahasiswa Utsmani. Mehmet Cavit Bey (1875-1926) adalah seorang tokoh politik Yahudi Donmeh paling penting. Ia aktif dalam revolusi pada 1908, ia juga editor sukses sebuah tabloid dan profesor keuangan serta pernah menjadi menteri keuangan selama 3 periode dalam pemerintahan Turki modern sampai dieksekusi karena diduga keras berperan pada usaha pembunuhan Atatürk. Cavit Bey adalah seorang Zionis paling bersemangat yang dapat melihat keuntungan bagi Turki dalam pemukiman Yahudi di Palestina.”

Avrum Ehrlich menguraikan secara rinci dalam bukunya yang sama:

“Tingkat keterlibatan Yahudi dalam revolusi gerakan Turki Muda menjadi perdebatan, beberapa membantah bahwa Yahudi dan Yahudi Dönmeh mendominasi the Committee of the Union and Progress Party (CUP) yang menguasai negara. Lainnya berpendapat bahwa hal ini adalah retorika anti-Yahudi dan terlalu melebih-lebihkan, sementara itu Yahudi mendukung revolusi di tingkat lapisan bawah, mereka tidak benar-benar terwakili di eselon partai. Laporan diplomat Inggris kepada pemerintahnya menjelaskan adanya komplotan konspirasi Yahudi-Masonik yang bekerja untuk kepentingan revolusi. Dönmeh diyakini sama-sama terlibat dalam revolusi, tapi rincian kepastian sedikit diketahui karena sejumlah alasan. Melalui loji Masonik, Dönmeh, Yahudi dan Bektashi serta kaum sekuler yang kurang diterima dalam lingkungan terkemuka masyarakat, kemudian mampu meraih pijakan sejajar, dan banyak di antara mereka menjadi instrumen penting dari revolusi. Dalam hubungan ini, benar atau tidaknya, terdapat kecurigaan bahwa Masonry bertanggungjawab atas hasutan dan aktivitas yang bersifat subversif, memang Turki waktu itu merupakan tempat yang sesuai untuk sebuah revolusi, menyediakan loji dan anggota, kerahasiaan serta kerangka untuk revolusi. Dönmeh tumbuh subur di lingkungan Masonik, membiarkan mereka untuk bersifat rahasia maupun mempengaruhi, memelihara ide-ide religius mereka dalam atmosfir non-dogmatis. Menghilangkan perbedaan antara Yahudi dan orang-orang muslim, mereka tampak mewakili kepuasan yang dikompromikan dari revolusi sekuler Turki Muda. Sampai sekarang Dönmeh terlibat dalam loji-loji Masonik di Turki.” []

Sumber: Jack Manuelian, Penulis Buku ‘Nostradamus: Predictions of World War III

Categories