(www.she.id)

Aurat Diatur Islam untuk Memuliakan Perempuan

MUSTANIR.net – Viral foto aktris Indonesia Tara Basro di jagat Twitter dan Instagram. Foto tersebut menuai polemik dan berpotensi melanggar pasal kesusilaan dalam Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Menurut Tara dan para pendukungnya, itu adalah kampanye body positivity, mengajak orang untuk mencintai tubuhnya dan percaya dengan diri sendiri. Namun ancaman UU ITE pasal 27 ayat (1) membuatnya menghapus postingan fotonya di Twitter (05/03/2020).

Bunyi pasal 27 ayat (1) UU ITE adalah sebagai berikut: “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.”

Dilansir BBC.com, kampanye yang digaungkan Tara Basro sekaligus mengkritik konstruksi patriarki. Perkumpulan Pembela Kebebasan Berekspresi Asia Tenggara, SAFEnet, menyatakan pasal tersebut sebagai pasal karet dan bias gender yang merugikan perempuan (05/03/2020).

Budaya patriarki selalu dikaitkan dengan hukum Islam. Lalu bagaimana kemudian masalah ini seharusnya didudukkan? Bagaimana Islam memandang aktivitas mengunggah foto semacam itu?

Pandangan Islam terhadap Perempuan dan Sifat Kodrati Mereka

Sebelum Islam datang, bangsa Arab memperlakukan perempuan sebagai manusia yang bernilai rendah. Kaum perempuan saat itu dianggap sebagai harta benda yang bisa diwarisi. Jika seorang suami meninggal maka walinya berhak terhadap istrinya.

Wali tersebut berhak menikahi si istri tanpa mahar, atau menikahkannya dengan lelaki lain dan maharnya diambil oleh si wali, atau bahkan menghalang-halanginya untuk menikah lagi. Bayi perempuan dianggap sebagai aib, sehingga orang Arab Jahiliah mengubur hidup-hidup bayi perempuan yang baru lahir.

Namun Rasulullah ﷺ datang membawa risalah Islam untuk melenyapkan semua bentuk kezaliman tersebut dan mengembalikan hak-hak kaum perempuan. Tindakan yang memeras dan mengebiri hak-hak kaum perempuan, semua dihapus.

Islam juga menetapkan bagaimana seorang suami harus memperlakukan istrinya. Penghargaan tinggi atas tugas-tugas perempuan sebagai ibu dan manajer rumah tangga juga diberikan Islam. Perempuan dijamin hak-hak ekonominya dan kebutuhan finansialnya dijamin setiap saat.

Islam mengizinkan kaum perempuan untuk bekerja namun tidak dalam kondisi perbudakan, penghinaan dan penindasan; melainkan dalam kondisi lingkungan yang terjamin keamanannya dan bermartabat, sehingga statusnya di masyarakat selalu terjaga.

Jadi keliru besar kalau masih ada pandangan negatif terhadap ajaran Islam dan hukum-hukumnya (yang cenderung patriarki). Karena di dalam hukum-hukum Islam selalu terkandung hikmah yang sejatinya melindungi dan memuliakan perempuan, baik itu dalam hukum pernikahan, rumah tangga, hukum waris, berhijab, pergaulan, persaksian, dan lain-lain.

Syariat Islam telah menempatkan perempuan sebagai mitra yang kedudukannya setara dengan kaum laki-laki. Di dalam al-Qur’an, seruan untuk beriman dan melaksanakan hukum Allah diberikan sama kepada laki-laki maupun perempuan. Kaum perempuan bukanlah warga kelas dua yang boleh ditindas oleh kaum laki-laki, termasuk oleh suami mereka.

Nabi ﷺ bersabda,

إنَّمَا النِّسَاءُ شَقَائِقُ آلرِّجالِ

“Sesungguhnya perempuan itu adalah saudaranya para laki-laki.” (HR Ahmad)

Lebih dari itu, syariat Islam juga memberikan perlindungan kepada perempuan secara menyeluruh. Islam menutup peluang terjadinya kejahatan terhadap perempuan serta menghalangi apa saja yang bisa mendorong dan memicu hal itu, salah satunya dengan syariat menutup aurat dengan menggunakan hijab dengan sempurna.

Syariat Islam Membawa Maslahat dan Tidak Bias Gender

Batasan pornografi dan pornoaksi dalam Islam sejatinya sudah jelas dan terang-benderang sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an. Seluruh tubuh perempuan adalah aurat di hadapan laki-laki nonmahram kecuali muka dan telapak tangan.

Aisyah ra. telah menceritakan, bahwa Asma binti Abu Bakar masuk ke ruangan wanita dengan berpakaian tipis, maka Rasulullah ﷺ pun berpaling seraya berkata, “Wahai Asma’ sesungguhnya perempuan itu jika telah balig tidak pantas menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini, sambil menunjuk telapak tangan dan wajahnya.” (HR Muslim)

Ajaran tentang menutup aurat dengan sempurna kepada para muslimah sudah ada didalam Alquran surah an-Nur ayat 31 (perintah mengenakan kerudung) dan surah al-Ahzab ayat 59 (perintah mengenakan jilbab) serta surah al-Ahzab ayat 33 (tidak tabarruj atau berhias secara berlebihan dalam berpakaian atau ber-make up).

Setiap syariat Islam pasti mengandung maslahat di dalamnya. Namun demikian, taatnya seorang muslimah terhadap aturan Allah bukan karena ada manfaat atau menghindari mudarat, namun motivasi utamanya adalah mencari keridaan Allah subhanahu wa ta’ala, bukan yang lain.

Jadi, mengunggah foto setengah telanjang atau bahkan telanjang di akun sosial media termasuk aktivitas mengumbar aurat yang itu dilarang oleh syariat Islam. Dalam ranah kehidupan sosial di mana hal itu termasuk pornografi yang berpotensi merusak akhlak dan moral dapat diancam dengan hukuman ta’zir yang dalam kacamata hukum Islam merupakan hak Khalifah untuk mengatur kadar berat/ringannya hukuman.

Standarnya tetap melihat beberapa asas yang sudah ditetapkan dalam al-Qur’an dan hadis seperti asas keadilan, legalitas, dan sebagainya. Dan tidak perlu khawatir karena hukum Islam adalah hukum yang adil dan tidak bias gender. [MNews]

Sumber: Ummu Naira, Forum Muslimah Indonesia (ForMind)

Categories