Banjir Dalam Kacamata Islam

ilustrasimusibah

Banjir Dalam Kacamata Islam

اَللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ عَلَى اْلآكَامِ وَالظِّرَابِ، وَبُطُوْنِ اْلأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

(Allahumma hawaalainaa wa laa ‘alainaa. Allahumma ‘alal aakaami wadz dzirabi wa buthuunil awdiyati wa manabitis syajari)

Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, jangan yang merusak kami. Ya, Allah! turunkanlah hujan di dataran tinggi, di bukit-bukit, di perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan.” (HR. Bukhari Muslim)

Begitulah Rasulullah SAW dalam berdoa. Ia munajatkan setiap doanya untuk kepentingan ummat islam. Namun, tatkala musibah banjir itu datang, dan rutin terjadi, bisa jadi ada yang salah dengan kitanya sebagai manusia.

Kalau sekedar urusan teknis belaka, maka Banjir sejatinya bisa diatasi. Kita bisa banyak belajar dari Roma, Venezia, Singapura, Belanda atau daerah lainnya yang mayoritas di dataran rendah atau dekat dengan laut.

Curah Hujan yang tinggi tak bisa dijadikan alasan semata dan sebab utama datangnya banjir. Namun bisa jadi unsur penyebab itu ada karena kita, selaku manusia yang congkak dan angkuh. Allah SWT berfirman,

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).(QS. Ar-ruum:41)

Ya, masalah banjir timbul bisa jadi karena teknis dan prilaku manusia. Yang pertama manusia sudah tidak lagi mempedulikan lingkungannya, yang kedua manusia telah benar-benar berani melawan aturan Allah SWT.

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar. (TQS asy-Syura [42] : 30)

Banjir yang selalu terjadi, berulang, dan makin parah, bukti bahwa itu bukan masalah teknis belaka, tetapi persoalan sistemik. Juga bukan sekadar masalah sistem teknis, di mana banjjir itu bisa diselesaikan dengan bendungan baru, pompa baru, kanal baru, dll.

Lebih dari itu, banjir merupakan masalah sistemis ideologis. Sebab masalahnya juga menyangkut tata ruang yang tidak dipatuhi, kemiskinan yang mendorong orang menempati bantaran sungai, keserakahan yang membuat daerah hulu digunduli, daerah resapan ‘ditanami’ gedung dan mall demi pendapatan daerah dan memuaskan nafsu kapitalis, sistem anggaran yang tidak adaptable untuk atasi bencana, pejabat dan petugas yang tidak kompeten dan abai mengadakan dan mengawasi infrastruktur, penguasa dan politisi yang lalai mengurusi dan menjamin kemaslahatan rakyat, dsb.

Semuanya itu saling terkait dan berhulu pada ide mendasar bahwa semua itu diserahkan kepada mekanisme pasar dan proses demokratis. Dengan kata lain masalah banjir itu adalah masalah sistem dan ideologi yaitu sekulerisme kapitalisme demokrasi.

Dengan demikian, kemaksiyatan yang menyebabkan musibah banjir itu bukan hanya kemaksiyatan individual tetapi juga kemaksiyatan kolektif pada tingkat masyarakat; juga tak sekadar kemaksiyatan teknis tetapi juga kemaksiyatan sistemis idelogis. Karena itu, taubat dalam masalah banjir, tentu tidak cukup pada tingkat individu, tetapi juga harus taubat secara kolektif pada tingkat masyarakat.

Ya Kita harus mengembalikan diri kita pada hakikatnya yaitu sebagai hamba. Dengan mengusahakan bahwa kehidupan individu, keluarga, masyarakat dan negara diwujudkan dalam ketaatan yang sempurna. Sebab demikian, sehingga ketika kita menyelesaikan masalah teknis maka keseluruhan yang dilakukan semata-mata karena ketaqwaan kita. (mustanir.com)

Penulis : Ustadz Rizqi Awal

Categories