Barokah Kasus Setnov Tingkatkan Kesadaran Politik Publik

Setya Novanto tiba di Gedung KPK setelah mendapat perawatan di RSCM usai mengalami kecelakaan di Jakarta. | foto CNN Indonesia


MUSTANIR.COM, Jakarta — Kasus korupsi pengadaan proyek KTP elektronik (e-KTP) yang menjerat Ketua DPR RI Setya Novanto membawa ‘berkah’ tersendiri bagi rakyat Indonesia.

Meme dan cerita-cerita tentang Setya Novanto berseliweran di media sosial. Di Twitter misalnya, ketika KPK menggeruduk rumah Setnov pada Rabu (15/11) malam, muncul tagar #TangkapNovanto dan #IndonesiaMencariPapah di Twitter.

Dilanjut dengan peristiwa kecelakaan yang menimpanya pada Kamis (16/11). Alih-alih prihatin, warganet justru meramaikan dunia maya dengan tagar #SaveTiangListrik lantaran mobil Toyota Fortuner yang Setnov tumpangi menabrak tiang listrik di perempatan Jalan Permata Berlian, Jakarta Selatan.

Menurut pakar komunikasi filsafat Universitas Indonesia Firman Kurniawan, ada semacam ‘blessing’ alias keberkahan yang tidak direncanakan, dari kasus Novanto.

Berkah dari kasus Setya Novanto tersebut, kata Firman, adalah kesadaran politik publik yang meningkat.

“Keberkahan yang tidak terencana dari peristiwa Novanto, mereka semakin sadar bahwa ada politikus yang selama ini memanfaatkan kepentingan pribadi, menduduki posisi tertentu untuk kepentingan dia dan kelompoknya,” katanya kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Kesadaran politik itu, kata Firman, menular dari media sosial yang bersifat membentuk jejaring. Meski kesadaran politik itu baru muncul setelah publik melihat ada suatu hal yang viral diperbincangkan di media sosial, hal itu bukan masalah.

“Bahkan, masyarakat NTT (Nusa Tenggara Timur) yang jauh dari ingar bingar politik, mencabut dukungannya pada Novanto karena merasa Novanto sebagai perwakilan daerahnya tidak bisa dicontoh. Itu sebuah gerakan moral yang sangat berharga, menurut saya,” kata Firman.

Kesadaran itu, lanjut Firman, bisa mendorong gerakan anak-anak muda untuk berpolitik yang lebih santun dan beradab.

Adapun berbagai meme dan karangan bunga bertulis kata-kata sindiran supaya Setnov cepat pulih, kata Firman, merupakan akumulasi kekesalan masyarakat terhadap Novanto yang seolah kebal hukum.

“Mereka muak melihat polah tingkah yang selama ini dimainkan dengan bahasa politikus yang sangat ambigu dan munafik, dan itu kelihatan kemarin (Setnov) menganggap masyarakat bodoh. Dengan peristiwa ini, semua akhirnya tahu,” kata Firman.

Firman menjelaskan, politik di media sosial seringkali digerakkan oleh faktor emosional. Seringkali seseorang mendukung sesuatu atau memiliki pandangan tertentu karena ikut-ikutan teman atau tokoh idolanya.

Pengaruh dan sebarannya jauh lebih cepat dan luas dibanding medium konvensional.

Keberkahan lain dari kasus Setnov adalah mempersatukan masyarakat yang sempat terbelah, terutama setelah Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017.

Firman menilai, anak-anak muda yang sebelumnya apatis dan tidak peduli pada politik, kini minat politiknya mulai naik.

“Ini bisa menjadi bahan perenungan, apa sih gunanya kemarin kita berkubu? Karena sebetulnya musuh bersama masyarakat ini koruptor, yang berkelit-kelit,” ujarnya.

Meski memahami kejengkelan publik yang meluap pada Setnov, Firman mengimbau, agar publik, khususnya warganet, tetap bersikap elegan dalam mengomentari atau mengkritik Ketua Umum Partai Golkar itu.

“Harus ingat bahwa di balik Novanto ini adalah DPR, dewan yang oleh rakyat sendiri disepakati, instrumen demokrasi. Dudukkan dia sebagai lembaga negara yang harus dihormati,” kata Firman.

Publik, kata Firman, bisa meniru cara Wakil Presiden RI Jusuf Kalla yang tidak menghujat dan memaki Setnov.

JK sekadar menyatakan bahwa Setnov tidak menunjukkan perilaku yang baik sebagai negarawan.

Menurut Firman, hal itu sudah merupakan sentilan yang sangat besar untuk Ketua DPR.

“Keeleganan itu perlu, bisa dengan kritik yang membangun,” ujarnya. (cnnindonesia.com/21/11/2017)

Categories