Beragama Islam, Syarat Utama Memimpin Umat Islam

Beragama Islam, Syarat Utama Memimpin Umat Islam

Mustanir.com – Dalam islam, pemimpin memiliki peran yang cukup fundamental. Selain, menjadi pemegang otoritas dalam mengatur kemaslahatan hidup masyarakat, pemimpin juga berperan penting dalam menjalankan syariat Islam. Kedua fungsi ini—mengatur kemaslahatan rakyat dan menjalankan syariat islam—bukanlah perkara gampang yang bisa dijalankan oleh setiap orang. Karena itu, seluruh ulama sepakat bahwa syarat utama menjadi pemimpin adalah harus beragama Islam.

Sebaliknya, para ulama juga bersepakat bahwa tidak boleh mengangkat orang kafir untuk mengatur urusan kaum muslimin dan mereka tidak memiliki kuasa atas urusan orang muslim. Banyak kalangan ulama yang menuturkan hal ini, di antaranya Imam Al-Mundzir. Ia mengatakan, “Seluruh ahlul ilmi yang ilmunya dihafalkan sepakat bahwa orang kafir tidak memiliki kuasa terhadap orang muslim secara mutlak.” (Ahkâm Ahlizh Zhimmah,Ibnu Qayyim, II/414)

Senada dengan keterangan di atas, Imam Qadhi Iyadh juga menuturkan, “Ulama sepakat, kepemimpinan tidak berlaku untuk orang kafir. Apabila pemimpin yang diangkat murtad menjadi orang kafir, ia wajib dilengserkan.” Ia juga mengatakan, “Demikian halnya jika pemimpin tidak menegakkan shalat dan tidak mengajak untuk menegakkan shalat.” (Syarh An-Nawawy ‘ala Shahih Muslim, XII/229)

Kesepakatan pendapat di atas tentu tidak dibangun atas asumsi atau buah pikiran mereka semata, tapi semua itu berdasarkan ketegasan ayat al-Qur’an yang melarang mengangkat orang kafir sebagai pemimpin. Cukup banyak ayat al-Qur’an yang berbicara tentang persoalan ini, di antaranya adalah Allah ta’ala berfirman:

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلا

“…Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir (untuk berkuasa) atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa; 41)

Ketika menafsirkan ayat di atas, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa maksud ayat, ‘Allah tidak akan memberi jalan orang kafir’ adalah tidak memberi jalan untuk menguasai orang-orang mukmin di dunia. (Tafsir Al-Qur’ânil ‘Azhîm, Ibnu Katsir (III/388)

Seperti diketahui bersama bahwa kekuasaan merupakan jalan terbesar dan terkuat untuk menguasai pihak lain. Kemudian dalam ayat lain, Allah ta’ala juga menegaskan perihal larangan ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (Al-Maidah: 51)

Ayat yang tegas lainnya, Allah sebutkan juga dalam surat An-Nisa ayat 144:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?.” (An-Nisa; 144)

Lalu dalam surat Ali ‘Imran ayat 28, Allah ta’ala berfirman:

لا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً

“Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, melainkan orang-orang beriman. Barang siapa berbuat demikian, niscaya dia tidak akan memperoleh apa pun dari Allah, kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka….” (Âli ‘Imrân: 28)

Tentunya masih banyak ayat-ayat lain yang menerangkan persoalan ini. Oleh karena itu, Ibnu Qayyim dalam kitab Ahkâm Ahlizh Zhimmah, I/201, menegaskan bahwa mengangkat orang kafir untuk menangani urusan kaum muslimin hukumnya jelas tidak diperbolehkan.

Berdasarkan dalil-dalil tersebut, para ulama sepakat bahwa kepemimpinan tidak boleh dikukuhkan untuk orang kafir, baik kafir asli ataupun kafir murtad. Sebab, selain mengatur kemaslahatan rakyat, seorang pemimpin juga memiliki kewajiban untuk menerapkan syariat serta memutuskan kebijakan sesuai dengan nilai-nilai Islam. Dan hal ini tentu hanya dapat diterapkan oleh orang-orang yang memberi loyalitasnya kepada agama Islam semata. Wallahu ‘alam bish shawab!

SUMBER

Categories