Standar Pemikiran dan Perbuatan Muslim adalah Akidah Islam, Bukan Kemanusiaan

MUSTANIR.net – Dalam kehidupan seorang Muslim, semua pemikiran dan perbuatan tidak boleh dilepaskan dari timbangan akidah Islam. Ini bukan sekadar keyakinan spiritual yang tersimpan dalam hati, melainkan menjadi asas dalam menentukan benar atau salah atas segala sikap dan tindakan.

Akidah Islam menjadi sumber penilaian, tolok ukur moral, dan kerangka pandang dalam memahami realitas serta mengambil keputusan dalam kehidupan. Seorang Muslim tidak dibenarkan menilai suatu perbuatan hanya berdasarkan pertimbangan perasaan kemanusiaan, norma sosial, adat istiadat, atau opini mayoritas. Tolok ukurnya harus kembali kepada wahyu yang diturunkan Allah ﷻ melalui al-Qur’an dan dijelaskan oleh Sunnah Rasulullah ﷺ.

Akidah Islam mengajarkan bahwa satu-satunya Zat yang berhak menetapkan hukum dan standar kebenaran adalah Allah ﷻ. Dalam surah al-An’ām ayat 57, Allah berfirman: “Hukum itu hanyalah milik Allah.” Artinya, hanya Allah yang memiliki hak menetapkan benar atau salah, halal atau haram, layak atau tidak layak. Maka, seorang Muslim tidak boleh mengambil standar lain di luar wahyu sebagai pedoman hidup, termasuk ketika menghadapi isu-isu sosial, ekonomi, politik, maupun budaya.

Perasaan kemanusiaan pada dasarnya adalah bagian dari fitrah manusia. Manusia diberi potensi untuk merasakan empati, kasih sayang, simpati, bahkan kemarahan atas ketidakadilan. Namun, dalam Islam, perasaan itu bukanlah penentu kebenaran. Islam tidak membenarkan sesuatu hanya karena dirasakan baik oleh manusia, sebagaimana juga tidak serta-merta mengharamkan sesuatu hanya karena tampak buruk menurut perasaan.

Tolok ukur kebenaran bukanlah rasa, melainkan wahyu. Allah ﷻ berfirman dalam Surah al-Ma’idah ayat 50: “Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” Ayat ini mengajarkan bahwa hukum selain dari Allah—termasuk yang bersumber dari perasaan kemanusiaan semata—adalah bentuk kejahiliahan yang harus ditinggalkan oleh orang-orang yang beriman.

Perasaan kemanusiaan sering kali berubah-ubah, relatif, dan bergantung pada waktu, tempat, serta kultur. Suatu tindakan bisa dianggap benar di satu negara, namun dianggap salah di negara lain. Sebuah opini bisa populer hari ini, tapi dibenci besok. Inilah bahayanya jika kebenaran didasarkan pada perasaan.

Sering kali kita mendapati narasi kemanusiaan dijadikan pembenaran suatu tindakan yang sebenarnya bertentangan dengan Islam. Misalnya, membenarkan perzinaan atau LGBT atas nama “cinta antar manusia”, membiarkan ketidakadilan atas nama “toleransi”, atau bahkan melegalkan kekufuran dengan dalih “hak individu”. Padahal, standar kemanusiaan bersifat relatif, berubah-ubah, dan sering kali dibentuk oleh hawa nafsu dan tekanan lingkungan.

Dalam perkara kebaikan kerap kita dapati pula narasi dominan yang mengarahkan agar tidak dikaitkan ke agama, sehingga Muslim yang terpapar paham sekular (netral agama) dengan latah mengemas amal baik mereka atas nama kemanusiaan. Misalnya, menyerukan peduli Palestina dengan motif “cukup menjadi manusia”.

Ini menunjukkan bahwa jika perasaan menjadi rujukan, maka tidak akan ada kepastian dalam hukum, tidak ada ketegasan dalam batas halal dan haram, dan tidak ada kestabilan dalam tatanan kehidupan. Sebaliknya, akidah Islam sebagai tolok ukur kebenaran menghadirkan kejelasan, konsistensi, dan ketundukan mutlak kepada Sang Pencipta yang Maha Mengetahui.

Allah ﷻ telah menetapkan bahwa setiap perbuatan harus dikembalikan kepada aturan-Nya. Dalam Surah al-Ahzab ayat 36, Allah berfirman: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka.”

Ayat ini merupakan penegasan bahwa hukum dan penilaian dalam Islam bersumber dari syariat, bukan dari kebebasan berpikir, apalagi dari perasaan. Maka, seorang Muslim yang taat tidak akan menjadikan perasaannya sebagai kompas moral, tetapi akan merujuk pada hukum syara’ sebagai satu-satunya rujukan.

Islam tidak menolak perasaan, tetapi Islam menundukkan perasaan di bawah kendali akidah. Seorang Muslim tentu bisa merasa iba terhadap non-Muslim, namun loyalitas (al-walā’) dalam Islam harus tetap diberikan kepada sesama Muslim, sebagaimana yang Allah tegaskan dalam Surah at-Taubah ayat 23 dan Surah al-Mujadilah ayat 22.

Seorang Muslim bisa merasa iba kepada orang yang tersesat atau menyimpang, tetapi tidak boleh membenarkan penyimpangan itu atau mendiamkan kebatilan. Bahkan rasa kasih sayang yang sejati dalam Islam terwujud dalam usaha membimbing orang tersebut menuju kebenaran, bukan dengan melegalkan kesesatan atas nama toleransi atau kemanusiaan.

Inilah mengapa akidah Islam harus menjadi pusat orientasi hidup seorang Muslim. Semua pemikiran, standar benar dan salah, cinta dan benci, persahabatan dan permusuhan, harus didasarkan kepada akidah ini. Perasaan tidak bisa dijadikan hujjah (argumen), sebab ia bisa salah.

Hanya wahyu Allah-lah yang maksum dan menjadi petunjuk hidup yang lurus. Rasulullah ﷺ juga memperingatkan bahwa hawa nafsu dan kecenderungan hati manusia bisa menyesatkan, dan oleh karena itu harus diarahkan oleh iman dan ilmu syar’i.

Dalam dunia yang penuh dengan relativisme moral dan kebingungan nilai hari ini, menjadikan akidah Islam sebagai tolok ukur benar-salah adalah bentuk penjagaan terhadap kemurnian agama dan keselamatan umat. Kaum Muslimin tidak boleh silau oleh narasi-narasi kemanusiaan modern yang dipisahkan dari ketundukan kepada wahyu.

Mereka harus teguh dalam sikap bahwa nilai, norma, dan hukum hanya sah jika berasal dari syariat Islam. Inilah wujud keimanan yang konsisten, sebagaimana generasi sahabat dan salafush shalih dahulu menjadikan akidah sebagai penentu setiap langkah mereka dalam hidup.

Dengan demikian, tidak ada tempat dalam Islam bagi standar penilaian yang bersumber dari perasaan atau selera manusia. Islam telah datang membawa cahaya kebenaran dari langit, yang tidak boleh ditutupi oleh kabut hawa nafsu dan perasaan duniawi. Seorang Muslim sejati adalah yang menundukkan perasaannya kepada akidahnya, bukan sebaliknya. Sebab hanya dengan akidah Islam-lah seseorang bisa memastikan bahwa langkah hidupnya senantiasa berada dalam kebenaran yang diridhai Allah ﷻ. []

Amir Mustanir

About Author

Categories