Spesies Kapitalis adalah Predator Paling Berbahaya di Muka Bumi

MUSTANIR.net – Siapa yang tidak miris dengan berbagai banjir di negeri ini? Siapa yang tidak tahu bahwa hal itu akibat perusakan hutan, eksploitasi alam yang super zalim?

Siapa yang tidak menyadari ketimpangan ekonomi dan ekploitasi manusia di negeri ini? Masyarakat kecil semakin sulit, para oligarki semakin melangit!

SDA yang melimpah, tapi tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat! Negeri yang gemah ripah loh jinawi, tetapi banyak masyarakat tidak bisa untuk sekadar mengisi perut!

Siapa sebenarnya penjahatnya?

Syekh Taqiyuddin an-Nabhani —qaddas Allah sirrah— saat menjelaskan pandangan para ekonom kapitalis terhadap kebutuhan (barang-barang dan jasa) dan utilitas, beliau menjelaskan bahwa mereka memandangnya dengan pandangan “kama hiya/كما هي”, dan bukan memandangnya dengan konsep “bagaimana seharusnya konsep manusia menjalani kehidupan/كما يجب أن يكون عليه المجتمع”! Apa itu konsep “kama hiya”?

Kalau saya menjelaskan dengan bahasa saya, konsep “kama hiya” —yang secara letterlijk berarti: “sebagaimana kebutuhan dan utilitas itu— secara sederhana adalah memandang kebutuhan dan utilitas dengan “konsep hewani”. Apa yang saya maksud “konsep hewani”?

Untuk menggambarkan “konsep hewani” sangat mudah. Anda cukup amati saja, bagaimana jika hewan naluri atau hajat ‘udhawiyyah-nya bangkit? Perlu memikir halal haram? Tidak! Peduli etika? Tidak! Perlu melihat akibat dan dampak di kemudian hari? Tidak! Perlu mempertimbangkan akibatnya bagi komunitas hewan yang lain? Jelas tidak! Ingin makan, ya makan saja. Ontal saja, bahasa Jawanya. Ingin kawin, ya kawin saja. Gasak saja, tak peduli di mana, dilihat oleh siapa, apa dampaknya. Yang penting puas!

Itulah gambaran sederhana pandangan kapitalis terhadap kebutuhan dan utilitas dengan konsep “kama hiya” yang ditegaskan oleh as-Syekh al-Imam Taqiyuddin an-Nabhani —قدس الله سره.

Di sinilah kita paham dawuh Syekh al-Imam al-‘Allamah Taqiyddin an-Nabhani —qaddas Allah sirrah:

فإن هذه النظرة تدل على أن رجل الإقتصاد الرأسمالي ينظر إلى الإنسان بأنه إنسان مادي بحت، مجرد من الميول الروحية والأفكار الأخلاقية، والغايات المعنوية

“Sesungguhnya pandangan ini menunjukkan bahwa ahli ekonomi kapitalisme memandang manusia sebagai manusia materi belaka; tidak ada kecenderungan spritual, tidak ada pemikiran tentang etika, dan tidak ada pula tujuan-tujuan yang bersifat manawi.” (an-Nizham al-Iqtishadi fi al-Islam, hal. 27)

Apa akibatnya terhadap agama dan moral?

Jawabannya, sangat berbahaya!

Imam an-Nabhani —قدس الله سره— menjelaskan:

وهو لا يبالي بما يجب أن يكون عليه المجتمع من رفعة معنوية يجعل الفضائل أساس علاقته وما ينبغي أن يسوده من سمو روحي يجعل إدراك الصلة بالله هو المسير للعلاقات من إجل نوال رضوان الله.

“Dia tidak peduli terhadap persoalan bagaimana seharusnya masyarakat hidup; ketinggian manawi, kemuliaan sebagai asas interaksinya, ketinggian spritual yang menjadikan kesadaran hubungannya dengan Allah sebagai motor dalam interaksi, dengan tujuan menggapai ridha Allah.” (Ibid, hal. 27)

Bagi mereka, persetan dengan itu semua! Bagi mereka yang penting adalah materi yang dapat memuaskan syahwat materi mereka!

Sampai sini kita paham ada apa sebenarnya kaum kapitalis masuk ke ranah-ranah sosial atau bahkan agama! Untuk kepentingan agama dan sosial? Jelas tidak!

Perhatikan kembali uraian Imam al-Mujtahid an-Nabhani —qaddas Allah sirrah:

فهو لا يغش في البيع حتى تربح تجارته، وإذا ربحها بالغش يصبح الغش مشروعا، وهو لا يطعم الفقراء إجابة لأمر الله بالصدقة، وإنما يطعمهم حتى لا يسرقوه. فإن كان تجويعهم يزيد ثروته فإنه يقدم على تجويعهم .

“Jadi, saat bisnis dia tidak menipu hanya agar untung. Jika bisa untung dengan menipu, maka menipu menjadi legal. Dia tidak memberi makan orang miskin (baca: berbakti sosial) karena perintah Allah. Sebaliknya, mereka melakukan itu agar orang-orang miskin tidak mencuri kekayaan mereka! Jika suatu kondisi membuat lapar orang-orang miskin justru akan memperkaya dirinya, maka dia tak segan membuat kelaparan mereka!” (Ibid, hal. 27)

Masya Allah! Sejahat itu!

Apa yang dikatakan oleh Imam an-Nabhani —رحمه الله— semakin hari semakin nyata dan semakin mengerikan!

Kerusakan, kehancuran, dan kesengsaraan di negeri kita, di Irak, di Afganistan, dan di negeri-negeri Muslim lainnya adalah beberapa bukti dari ratusan bukti kejahatan kapitalisme!

Oleh sebab itu, an-Nabhani —qaddas Allah sirrah— kembali menegaskan bahayanya orang berotak kapitalis:

فهذا الإنسان الذي ينظر هذه النظرة إلى الإنسان من خلال نظرته إلى المنفعة ويقيم الحياة الإقتصادية على أساس هذه النظرة يعتبر من أخطر الأشخاص على المجتمعات وعلى الناس

“Manusia yang memiliki pandangan semacam ini terhadap manusia di saat memandang utilitas, dan membangun kehidupan ekonomi di atas pandangan ini, merupakan manusia paling berbahaya bagi masyarakat dan umat manusia.” (Ibid, hal. 27)

So, kembali kepada Islam dengan penerapan syariatnya dalam bingkai khilafah adalah sebuah kewajiban syar’iy, yang akan menyelamatkan manusia dunia dan akhirat, di samping kebutuhan yang sangat mendesak bagi keberlangsungan kehidupan manusia, sebelum semakin hancur oleh predator kapitalisme!

Wallah a’lam. []

Sumber: Utsman Zahid as-Sidany

About Author

Categories