Buta Politik Islam, Implikasi pada Penetapan Ramadhan

MUSTANIR.net – Absurditas segelintir oknum fanatik yang mendasarkan penetapan awal/akhir Ramadhan harus taqlid kepada pengumuman ulil amri:

(1) Tidak pernah menguraikan hakikat ulil amri yang sah secara syar’i memiliki ciri khas menegakkan syari’at Islam dalam kehidupan umat (berdasarkan petunjuk nas al-Qur’an, al-Sunnah dan maqalah ulama mu’tabar);

(2) Tidak pernah menjawab pertanyaan esensial: “Apakah ulil amri yang ditaqlidi tersebut harus menggunakan ru’yat hilal versi mathla’, global, atau boleh juga versi baru berdasarkan nation state (non madzhab ahlus sunnah yang empat)?”

Serba tidak pasti, tapi berani diklaim berkonsekuensi syar’i? Syar’i apa hujjahnya? Namun yang pasti berkonsekuensi memperuncing perbedaan dalam syi’ar yang lazimnya menjadi syi’ar persatuan kaum Muslim. Bisa jadi ada orang yang rumahnya dempet tetanggaan (bahkan satu mathla’), menolak untuk shaum karena yang melihat dan mengumumkan hilal adalah negeri tetangganya, hanya karena beda garis batas nation states.

Lantas, ke mana pertanggungjawaban kita kepada sunnah agung Rasulullah ﷺ ini?

«صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ»

“Shaumlah kalian dengan melihatnya (hilal) dan berbukalah dengan melihatnya, jika kalian terhalang oleh awan maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.” (HR al-Bukhari)

Sejumlah Anshar mengaku, Rasulullah ﷺ pernah memerintahkan mereka berbuka setelah mendapat khabar hilal Syawal dari kaum Muslim yang datang (musafirun):

أُغْمِيَ عَلَيْنَا هِلَالُ شَوَّالٍ، فَأَصْبَحْنَا صِيَامًا، فَجَاءَ رَكْبٌ مِنْ آخِرِ النَّهَارِ، فَشَهِدُوا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُمْ رَأَوا الْهِلَالَ بِالْأَمْسِ، فَأَمَرَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُفْطِرُوا، وَأَنْ يَخْرُجُوا إِلَى عِيدِهِمْ مِنْ الْغَدِ

“Kami terhalang melihat hilal Syawal, sehingga pagi harinya tetap shaum. Lalu, datang di penghujung siang itu rombongan. Mereka bersaksi di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa kemarin telah melihat hilal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkan mereka membatalkan puasa, kemudian besoknya semua berangkat melaksanakan shalat Id.” (HR Ahmad, 19675; Ibnu Majah, 1643; dishahihkan Ibnu Mundzir dan Ibnu Hazm)

Rasulullah ﷺ jelas telah memerintahkan mereka membatalkan puasa pada hari yang mereka sangka Ramadhan, karena penduduk lain di luar Madinah telah melihat hilal Syawal.

Sejak kapan hadits-hadits ini dibatasi oleh sekat-sekat nation states yang baru muncul belakangan? Yang jika diamini otomatis, takkan pernah terealisasi syi’ar persatuan kaum Muslim dalam awal/akhir Ramadhan. []

Sumber: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I

About Author

Categories