Pertarungan Ideologi di Balik Tuduhan Radikal, Intoleran, dan Teroris pada Gerakan Islam

MUSTANIR.net – Istilah radikal, intoleran, dan teroris kepada ajaran Islam, gerakan Islam, maupun ulama atau tokoh Islam, menjadi hal yang tidak asing lagi di telinga rakyat Indonesia. Seolah-olah lagu lama yang terus diputar dan menanamkan pesan dan kesan tendensius untuk makin mencitraburukkan, bahkan menyerang Islam.

Sebut saja pada level internasional diangkat isu bahwa Hamas adalah gerakan radikal bahkan teroris, bukan sebagai gerakan pembelaan dan pertahanan terhadap tanah kaum muslim yang dirampas. Di tanah air Indonesia, ramai pembubaran acara dakwah ustaz-ustaz yang dianggap radikal dan acara-acara dakwah yang disambut masyarakat, tapi secara sepihak dibubarkan oleh kelompok-kelompok tertentu yang mengeklaim tidak radikal, tetapi moderat dan toleran.

Tudingan intoleran juga menjadi sangat disederhanakan ketika umat Islam tidak menghadiri atau tidak mengucapkan selamat Natal. Sedangkan seperti diketahui bersama, selama lebih dari 1.300 tahun berada di bawah naungan kekhalifahan Islam, warga non muslim dapat hidup damai dengan tetap bisa menjalankan segala peribadatan mereka. Di sisi lain, aturan Islam memiliki batasan yang jelas terkait toleransi.

Toleransi berarti membiarkan pemeluk agama lain dengan agamanya dan tidak melakukan pemaksaan agama. Inilah yang dikenal dalam politik Islam sebagai ahli zimi Di sisi lain, batasan yang tegas juga terlihat dalam larangan tasyabbuh bil kuffar atau penyerupaan terhadap orang-orang kafir dalam hal akidah, ibadah, atau tata cara kekhususan, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk di antara mereka.” (HR Ahmad)

Menelusuri Asal Kemunculan Istilah dan Makna Radikal, Toleran, dan Teroris ala Sekuler-Kapitalis

Tudingan atau tuduhan radikal, intoleran, dan teroris ataupun istilah lain, seperti ekstremis atau garis keras, tidaklah muncul dengan sendirinya atau secara kebetulan. Jika ditelusuri, istilah teroris, ekstremis, atau radikal seiring dengan peristiwa 11 September 2001. Tendensi kuat bahwa yang dimaksud teroris, ekstremis dan radikal ini menunjuk pada gerakan Islam, terlihat dari pernyataan George W Bush yang merupakan Presiden AS saat itu. Saat itulah dunia mengenal istilah war on terrorism yang kemudian bergeser menjadi war on radicalism atau extremism.

Dokumen lain juga menguatkan adalah buku yang dirilis oleh RAND Corporation pada 2007 sebuah lembaga think tank-nya Amerika yang menulis tentang building moderate muslim networks. Di situlah sangat jelas cara gerakan-gerakan Islam ini dikategorisasikan dan saling dinegasikan satu sama lain.

Proyek perang melawan radikalisme tersebut dapat digunakan untuk menyasar siapa pun yang anti-Barat pada aspek pemikiran maupun politik. Misalnya, umat Islam yang ingin menerapkan syariat Islam secara kafah dan menegakkan kembali khilafah dapat mereka tuding sebagai kelompok radikal.

Tentu ini merupakan langkah Barat untuk melanggengkan ideologi kapitalisme dan imperialismenya di dunia, khususnya di negeri-negeri Islam. Melalui propaganda perang melawan radikalisme, Barat dapat melakukan framing negatif dengan memberikan stigma radikal tersebut kepada muslim yang menentang ideologi kapitalisme. Sebaliknya, mereka memuji muslim yang pro-ideologi kapitalisme sebagai moderat. Proyek ini pun makin melaju dengan adanya program moderasi beragama yang merupakan program yang menjadi amanah RPJMN 2020-2024 Indonesia. Dalam program inilah sangat kentara makna moderasi sebagai lawan radikal, intoleran yang dimaksud.

Dinyatakan bahwa terdapat empat indikator moderasi beragama yaitu cinta tanah air, toleransi tinggi, anti-kekerasan, dan akomodatif terhadap budaya lokal. Keempat indikator ini tentu saja dalam standar dan cara pandang ideologi sekularisme-kapitalisme.

Islam dan Gerakan Perjuangan Islam, Perjuangan Berdasarkan Teladan Rasulullah ﷺ

Sejak institusi politik kekhalifahan Islam runtuh 100 tahun yang lalu, umat Islam tidak memiliki perisai untuk melindungi Islam dan umat ini. Kesadaran akan kebutuhan akan adanya pelindung, mengembalikan umat Islam sebagai khairu ummah tentu saja muncul di tubuh umat ini. Benih-benih kesadaran inilah yang tidak akan dibiarkan tumbuh kuat dan berkembang oleh musuh-musuh Islam. Hal ini karena itu sama artinya dengan membiarkan keuasaan peradaban sekuler mereka melemah dan tergeser. Perjuangan menegakkan sebuah kekuasaan Islam inilah yang dicontohkan Rasulullah ﷺ ketika hijrah ke Madinah. Dari sanalah cahaya Islam berkilauan dan akhirnya menyebar.

Perjuangan dakwah sesuai teladan Rasulullah ﷺ inilah yang sering kali dihadang dengan berbagai cara oleh musuh-musuh Islam, termasuk melalui stigma, pencitraan, pelabelan, ataupun berbagai rekayasa yang memutarbalikkan perjuangan dakwah yang akan menjadikan Islam membawa rahmatan lil alamiin dituduh justru mengancam dan membahayakan.

Inilah yang terjadi pada tudingan radikal, intoleran dan teroris yang pada hakikatnya merupakan harb ishtilahi atau perang istilah. Perang istilah ini menjadi bagian dari pertarungan ‘abadi’ antar Islam dan kekufuran.

Allah subḥānahu wa taʿālā berfirman, “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat.” (QS al-Baqarah: 217)

“Demikianlah kami jadikan untuk setiap Nabi ada musuh, yaitu setan dari jenis manusia dan jin yang menyebarkan satu sama lain perkataan-perkataan indah sebagai tipuan. Dan kalaupun Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak melakukannya. Maka biarkanlah mereka bersama apa (kebohongan) yang ada-adakan.” (QS al-An’am: 112)

Urgensi Kesadaran dan Kecerdasan Politik serta Konsolidasi Umat Islam dalam Menghadapi Pertarungan Ideologi

Hal yang harus selalu diingat bahwa perang istilah ini dan perang-perang yang lain adalah buah dari perubahan konstelasi politik dunia. Setelah Blok Timur (komunisme) pimpinan Uni Soviet runtuh, kekuasaan dunia secara politik ada di tangan Blok Barat (kapitalisme) pimpinan AS. Untuk menjaga dominasinya di dunia, AS perlu membuat proyek politik global. Proyek ini bisa digunakan untuk menekan dan menghukum suatu negara yang tidak tunduk pada AS. Proyek tersebut tidak lain adalah Global War on Terrorism (GWOT) yang kini bermetamorfosis menjadi Global War on Radicalism (GWOR).

Setelah runtuhnya ideologi komunisme Uni Soviet, Islam menjadi satu-satunya ancaman bagi AS dan sekutunya dalam mewujudkan ideologi kapitalismenya. Huntington menyatakan, “The rhetoric of America’s ideological war with militant communism has been transferred to its religious and cultural war with militant Islam.” (muslimahnews.net)

Penyesatan opini yang telah mereka lakukan di balik perang melawan radikalisme itu harus selalu disingkap oleh umat Islam seraya menjelaskan ajaran Islam yang sesungguhnya. Dengan begitu, masyarakat menjadi paham bahwa semua ajaran Islam, termasuk di dalamnya khilafah, merupakan rahmat dari Allah subḥānahu wa taʿālā, bukan keburukan sebagaimana yang dipropagandakan Barat.

Dakwah Islam bersifat fikriyah (pemikiran) dan unfiyah ‘tanpa kekerasan’ sehingga tidak mungkin melahirkan terorisme. Perlu pula dijelaskan bahwa ancaman sesungguhnya bagi negeri-negeri muslim adalah sistem kapitalisme. Terbukti, berbagai kerusakan di bidang ekonomi, hukum, sosial, dan politik yang terjadi di negeri-negeri muslim justru bersumber dari penerapan sistem kapitalisme ini. (muslimahnews.net)

Umat harusnya memiliki kesadaran dan kecerdasan akan situasi ini sehingga memiliki kewaspadaan agar tidak terjebak atau terbawa arus hingga justru memusuhi saudara muslimnya sendiri.

Senyatanya yang harus dimusuhi adalah sistem dan ideologi sekularisme dan kapitalisme serta para pengusung utamanya. Terakhir adalah bagian dari keimanan kita bahwa pertarungan hak dan batil tentu akan dimenangkan oleh yang hak, dan pertarungan Islam dan kekufuran tentu saja akan dimenangkan Islam. []

Sumber: Indira S Rahmawaty, S.IP, M.Ag

About Author

Categories