
Dalam Demokrasi, Partai Memang Tidak Mewakili Rakyat, tetapi Mewakili Dirinya Sendiri
MUSTANIR.net – Sebetulnya sudah tidak kaget lagi. Dari dulu, partai politik yang katanya “wakil rakyat” memang sering sibuk memperjuangkan kepentingannya sendiri. Di belakangnya ada kepentingan yang lebih besar: kepentingan para oligarki.
Jadi, partai sama sekali tidak akan benar-benar memperjuangkan kepentingan rakyat yang mereka wakili. Mereka berebut kursi. Bukan mencari ridha Ilahi. Publik cuma alat kampanye. Setelah pemilu usai, rakyat dilupakan, seperti janji di baliho yang luntur kena panas dan hujan.
Demokrasi dari dulu hanya menjanjikan “kedaulatan rakyat”. Bukan benar-benar mewujudkan kehendak rakyat. Rakyat cuma punya otoritas saat mencoblos di hari pemilu. Setelah pemilu, rakyat kehilangan segalanya. Sebabnya, setelah pemilu, kedaulatan sudah berpindah ke tangan partai. Partai sebetulnya juga tidak berdaulat. Yang sebenarnya berdaulat adalah oligarki yang langsung atau tidak langsung men-support partai.
Karena itu, pada akhirnya dalam sistem sekuler ini, politik menjadi lahan bisnis kekuasaan. Ayat suci diganti survei elektabilitas. Prinsip digadaikan demi koalisi. Mereka tak pernah berusaha mengerti bahwa politik dalam Islam bukan soal siapa yang menang, tetapi siapa yang menegakkan hukum Allah di muka bumi. Demikian sebagaimana firman-Nya:
إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ
“Kewenangan menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.” (QS Yusuf: 40)
Jadi, wajar saja jika partai-partai dalam sistem demokrasi tak akan benar-benar berpihak kepada publik. Pasalnya, sejak awal mereka tak berpihak kepada Tuhan. Sistem demokrasi memang tak dirancang untuk menegakkan keadilan, melainkan untuk semata-mata mempertahankan kekuasaan.
Sebaliknya, dalam Islam, politik adalah amanah, bukan profesi; pelayanan umat, bukan permainan kekuasaan. Selama hukum Allah ﷻ disingkirkan, jangan berharap partai-partai akan memperjuangkan kepentingan rakyat.
Alhasil, tidak seharusnya rakyat berharap lagi pada partai-partai dalam sistem demokrasi. Sebabnya, ujung-ujungnya mereka selalu mengkhianati dan acapkali membuat rakyat sakit hati. []
Sumber: Arief B Iskandar
