Dan Kaum Sekularis-Kapitalis Pun Tergagap-gagap

Dan Kaum Sekularis-Kapitalis Pun Tergagap-gagap

Tidak susah untuk memahami sekularisme dan kapitalisme. Dalam bahasa yang mudah, sekularisme adalah paham dimana agama tidak boleh memasuki ranah berbangsa dan bernegara. Sementara kapitalisme, paham dimana semua bisa diatur dengan uang, posisi uang di atas kedaulatan bangsa dan negara.

Teorinya, negara kita punya Pancasila, ideologi yang menjadi jalan tengah antara doktrin agama dan kedua isme di atas. Sehingga muncullah Lima Sila dari Pancasila, hingga sempat ramai istilah Ekonomi Kerakyatan.

Prakteknya, Agama dan Pancasila makin terpinggirkan, sedang sekularis-kapitalis makin mendominasi. Era reformasi, sampai demokratisasi yang digadang-gadang mampu memakmurkan bangsa, ternyata makin hari makin jauh dari cita-cita awalnya. Bahkan demokrasi lebih banyak digunakan untuk legitimasi dan legalisasi sekularis-kapitalis yang memang banyak berada di sekitar pusat kekuasaan.

Kita lihat beberapa contoh ke belakang. Razia Warteg Ramadhan lalu, yang dipelintir sedemikian rupa sehingga menjadi aksi bully terhadap Islam dan umat Islam, adalah kemenangan sekularis-kapitalis. Mereka mampu mengeksploitasi isu, mengolah narasi sedemikian rupa sehingga Islam termarjinalkan dari bangsa ini.

Pembangunan yang banyak mengandalkan utang luar negeri dan memeras rakyat atas nama pajak, juga bagian dari propaganda sekularis-kapitalis. Lalu isu-isu yang berhubungan  dengan gaya kepemimpinan Ahok, seperti lebih baik kafir tapi bersih daripada muslim tapi korupsi, sampai penggusuran yang dianggap wajar, adalah kemenangan sekularis-kapitalis.

Sampai kemudian muncul penistaan Al-Qur’an yang memicu solidaritas Muslim luar biasa. Negeri ini langsung demam, melihat realita hukum yang tumpul pada penista yang kebetulan seorang pejabat. Kasus-kasus sebelumnya, karena sensitivitasnya, mereka yang melecehkan agama langsung dibui, untuk menjaga stabilitas. Tetapi yang ini, sampai didemo jutaan orang, penegak hukum tetap tak bergeming.

Hingga muncullah solidaritas dan militansi umat Islam. Solidaritas yang begitu fokus, terukur dan terstruktur, karena dibimbing para ulama, habaib yang mendasarkan aksi-aksi mereka pada Al-Qur’an, hadits hingga sejarah umat ini yang begitu revolusioner.

Sampai di sini, sekularis-kapitalis tergagap-gagap. Mereka tidak siap dengan serangan balik. Mereka masih terbuai eufori razia warteg, dan sejumlah kejadian lainnya dimana umat Islam begitu mudah dikendalikan. Bukti mereka tergagap-gagap, bagaimana para buzzer mereka kewalahan menghadapi serangan Muslim Mega-Cyber Army di dunia maya. Lalu boikot produk makanan hingga stasiun televisi yang sama sekali di luar perkiraan mereka.

Maka melihat situasi yang berkembang, kita patut bersyukur bahwa umat ini menemukan kembali kehormatannya. Kualitas persatuan yang ditunjukkan umat, tak kan pernah mampu disamai sekularis-kapitalis, meski mereka menggunakan simbol-simbol negara sekalipun. Jika persatuan ini bisa terus terpelihara, maka tak satupun ideologi mampu membendungnya.

Meski demikian, umat harus tetap waspada akan beberapa potensi serangan baru sekularis-kapitalis. Pertama, jangan sampai umat ini hanya menjadi pendorong mobil mogok. Muara dari kebangkitan umat ini, harus kita sendiri yang merasakannya. Bukan yang lain.

Kedua, umat harus waspada skenario Arab Spring. Jika Barat-yang menjadi kiblat sekularis-kapitalis-melihat rezim boneka mereka tidak mampu dipertahankan, maka Barat berbalik mendukung tuntutan massa, sambil mempersiapkan boneka yang baru. Ini yang terjadi dengan Tunisia dan Mesir.

Dan ketiga, ini berhubungan dengan hal kedua di atas. Umat ini perlu mengevaluasi sistem demokrasi. Karena dalam prakteknya, demokrasi lebih banyak digunakan untuk meredam Islam, ketimbang mengakomodir aspirasi umat Islam. Melalui demokrasi, kaum munafik leluasa memainkan perannya dalam mengobok-obok dan memecah konsentrasi kita umat Islam. Wallahu a’lam.

Categories