MUSTANIR.net – Ketika Anda berusaha menjadi pejabat, berapa uang yang Anda keluarkan?

Uangnya dari mana?

Apa yang Anda dan pendukung Anda pertukarkan secara material?

Demikianlah intisari pertanyaan dari Aspinall, ketika menyoroti praktik klientelisme dan patronase yang berjalan masif di Indonesia, mulai dari tingkat pemilihan kepala desa, bupati/walikota ,gubernur, DPR hingga presiden.

Aspinall dan Berenschot (2019) mendefiniskan bahwa praktik klientelisme politisi terjadi ketika para pemilih, para penggiat kampanye, atau aktor-aktor lain menyediakan dukungan elektoral bagi para politisi dengan imbalan berupa bantuan atau manfaat material.

Aspinall dan Berenschot dalam bukunya, Democracy for Sale (2019), menggunakan istilah klientelisme dan patronase secara bergantian.

Menurut mereka, klientelisme merujuk pada suatu jenis pertukaran yang khas, patronase merujuk pada apa yang dipertukarkan.

Sedangkan menurut Aspinall dan Sukmajati (2015), patronase merujuk pada materi atau keuntungan lain yang didistribusikan oleh politisi kepada pemilih atau pendukung.

Sebaliknya, klientelisme merujuk pada karakter relasi antara politisi dan pemilih atau pendukung.

Ditulis berdasarkan hasil penelitian lapangan dan survei ahli yang luas, Democracy for Sale menyediakan suatu analisis tentang demokrasi Indonesia yang bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari rakyatnya.

Edward Aspinall dan Ward Berenschot memeriksa jejaring informal dan strategi-strategi politik yang membentuk akses pada kekuasaan dan privilese dalam lingkungan politik kontomporer Indonesia yang morat-marit.

Hasil cermatan mereka memperlihatkan bagaimana di setiap tingkatan, institusi-institusi formal dibayang-bayangi oleh dunia gelap koneksi personal dan pertukaran klientelistik.

Para politisi memenangi pemilihan dengan mendistribusikan proyek-proyek berskala kecil, memberikan uang tunai atau barang kepada para pemilih;

Mereka mendapatkan dana untuk membiayai kampanye mereka dengan memperjual-belikan kontrak, perizinan, dan manfaat-manfaat lainnya dengan para pengusaha;

Dan mereka juga terlibat dalam pertarungan yang tak ada ujungnya dengan politisi saingan mereka, dan dengan birokrat untuk merebut kendali atas sumber-sumber daya negara dalam rangka membiayai kegiatan politik mereka.

Bukannya bergantung pada partai, para politisi Indonesia biasanya lebih banyak bergantung pada striktur organisasi yang bersifat ad hoc dan personal, yang dikenal dengan sebutan ‘tim sukses’, untuk menyelenggarakan kampanye pilihan mereka.

Koneksi personal—entah berdasarkan hubungan kekerabatan, pertemanan, jaringan usaha, agama atau suku—mengalahkan loyalitas pada partai.

Para agen politik sering kali berhasil melelang jasa mereka kepada penawar yang tertinggi. Birokrat, dan bukannya partai, memegang kendali atas sumber daya negara dan merupakan aktor kunci dalam kampanye pemilihan.

Melalui argumen-argumen ini dan dengan bantuan analisis komparatif dari praktik-praktik politik di India dan Argentina,
Democracy for Sale menyediakan bukti kuat tentang pentingnya jejaring dan hubungan informal lebih daripada partai-partai dan institusi-institusi formal dalam politik kontemporer Indonesia.

Democracy for Sale menggunakan kerangka analisis yang inovatif untuk membandingkan berbagai praktik politik klientelistik, dan memanfaatkan keuntungan dari observasi langsung terhadap dunia yang membayang-bayangi di belakang politik formal.

Sebagai perbandingan, apa yang dilakukan di Indonesia juga dilakukan di negara dunia lainnya. Disarankan pula buku ke dua karangan Peter Geoghegan dalam jurnalisme investigasi yang dibukukan dalam judul yang sama dengan Aspinall, Democracy for Sale.

Peter Geoghegan menambahkan teknik-teknik baru cara yang semakin rumit dipakai di mana pendanaan, pengaruh, dan koneksi dapat dikaburkan atau disamarkan, dan jangkauan global pengaruh keuangan rahasia yang berkembang

Sebagian besar bukunya memang dikhususkan untuk membedah penggunaan teknologi baru untuk menyamarkan uang gelap, dan keterikatan jejaring sosial dalam menyebarkan iklan dan informasi yang salah yang asalnya tidak diumumkan

Geoghegan terutama berfokus pada krisis dalam politik Inggris, tetapi membuat perbandingan ekstensif dengan Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa, termasuk studi kasus dari populis Vox di Spanyol dan gerakan Bintang Lima di Italia, serta kebangkitan Viktor Orban di Hungaria.

Dengan memperbandingkan AS maka menimbulkan pencerahan sekaligus mengkhawatirkan, karena menggambarkan situasi yang lebih ekstrem yang mungkin dengan mudah terjadi di Inggris. []

Sumber: Adi Ketu

About Author

1 thought on “Democracy for Sale

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories