Demokrasi Akan Baik Jika Diisi Orang Baik?

MUSTANIR.net – Pabrik tempe akan menghasilkan tempe. Tak mungkin menghasilkan tahu. Meskipun sama-sama berbahan dasar kedelai, pabrik tempe tetap tak akan menghasilkan tahu.

Anda bisa dikategorikan orang gila, berharap pabrik tempe menghasilkan tahu. Meskipun ribuan ton kedelai kualitas super Anda kirim ke pabrik tempe, kedelai itu tidak akan pernah menjadi tahu. Semua akan berakhir menjadi ‘tempe’.

Begitu pula dengan demokrasi.

Demokrasi itu pabrik sekulerisme, bukan pabrik untuk menghasilkan syariat Islam. Meskipun jutaan orang sholeh, ulama, cerdik pandai, dikirim untuk terlibat dalam demokrasi, tetap saja demokrasi melahirkan sekulerisme, bukan syariat Islam.

Anda juga bisa disebut gila, berharap syariat Islam tegak, tapi menggunakan demokrasi. Anda berdalih, bukankah demokrasi bergantung suara terbanyak? Bukankah, jika mayoritas dikuasai orang sholeh, yang terpilih orang sholeh, akan melahirkan aturan yang sholih?

Jawabannya adalah, Anda harus melihat fakta jangan hanya berlogika. Faktanya, demokrasi itu sistem pemerintahan yang menjadikan suara rakyat sebagai sumber kedaulatan, bukan wahyu Allah subḥānahu wa taʿālā. Faktanya, demokrasi akan menjegal suara mayoritas rakyat jika menghendaki menerapkan syariat Islam. Kasus partai Refah di Turki dan Hamas di Palestina, cukuplah menjadi buktinya.

Demokrasi tak akan mau dan memang bukan didesain untuk menerapkan syariat Islam. Demokrasi hanya memberi jalan bagi syariat Islam yang bersifat parsial, bukan integral (kaffah). Padahal, Allah subḥānahu wa taʿālā telah memerintahkan menerapkan hukum Islam secara kaffah.

Di negeri ini, sudah tak terhitung orang sholeh menjadi pemimpin. Semua presiden dan anggota DPR, hingga bupati, walikota dan gubernur, mayoritas muslim. Namun, apakah hal itu berkorelasi pada penerapan syariat Islam secara kaffah?

Jawabnya sederhana, tidak.

Kalau terlibat dalam demokrasi akan menjadikan orang sholeh berkuasa, boleh jadi benar. Sebab, saat ini demokrasi memang bisa dijadikan jalan agar sampai pada kursi kekuasaan.

Namun, jika demokrasi ditempuh untuk menjadikan Islam berkuasa, saya tegaskan ini hanya mimpi. Tak ada jalan, bagi Islam untuk tegak menggunakan demokrasi.

Faktanya, orang sholeh, para ulama hingga wakil presiden yang mampu meraih tampuk kekuasaan, ternyata tidak berkorelasi pada penegakan Islam. Wakil presiden yang nota bene ulama itu justru ikut menakut-nakuti umat dan membuat narasi jahat terhadap ajaran Islam khilafah.

Pada isu-isu keumatan, seperti aksi bela Islam atas penistaan Ahok, yang demo itu elemen umat Islam non partai, bukan orang yang telah mendapatkan kekuasaan dalam demokrasi. Orang yang mendapat kekuasaan melalui demokrasi, tak terlihat batang hidungnya membela kepentingan umat, mereka sibuk menikmati demokrasi.

Lantas, di mana letak kekuasaan demokrasi yang membela Islam?

Kalau Anda muslim, yakin dengan tuntunan Nabi, maka Anda semestinya segera meninggalkan demokrasi yang merupakan tuntunan Montesquieu. Anda semestinya fokus berdakwah mengikuti thariqah Nabi, hingga nasrullah turun dan khilāfah ‘alâ minhâj nubuwwah tegak di bumi ini.

Itulah, perjuangan yang sahih, bukan terjebak masuk dalam lubang biawak demokrasi yang merupakan millah orang Yahudi. []

Sumber: Ahmad Khozinudin

About Author

2 thoughts on “Demokrasi Akan Baik Jika Diisi Orang Baik?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories