MUSTANIR.net – Saat itu tanggal 10 Ramadhan 1364. Baru sehari Indonesia merdeka. Di mana-mana tentara PETA berusaha melucuti senjata tentara Jepang. Pekik kemerdekaan bergema di seluruh penjuru negeri. Semuanya bergembira mendapati negeri tercinta sudah merdeka.

Pagi itu terlihat Soekarno, Hatta, dan Ki Bagus Hadikusumo sedang berdebat sengit di Pejambon. Ketiga tokoh itu wajahnya terlihat merah padam, berusaha mempertahankan pendapatnya masing-masing.

Hatta mengusulkan pencoretan 7 kata dalam Piagam Jakarta yaitu kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Sebuah usulan yang membuat murka Ki Bagus Hadikusumo. Terlebih lagi alasan Hatta sangat sepele.

Hanya karena ada seorang opsir utusan Indonesia timur mengancam akan berlepas diri dari Indonesia jika kata itu tak dihapus, maka Hatta berani mencoret kesepakatan BPUPKI. Padahal BPUPKI bersidang dalam jangka waktu lama dengan menguras emosi, tapi dengan entengnya Hatta mencoret gentlemen’s agreement itu dalam rapat kilat 15 menit menjelang sidang perdana PPKI.

Sebagai pimpinan Muhammadiyah, Ki Bagus Hadikusumo tidak terima dengan Soekarno-Hatta yang main hapus sendiri Piagam Jakarta tersebut. Berani menghapus tanpa minta kesepakatan anggota lainnya. Ki Bagus Hadikusumo merasa dikhianati. Merasa sia-sia perjuangannya selama ini dalam berbagai rapat BPUPKI. Itulah mengapa Ki Bagus Hadikusumo sangat marah dan menolak usulan Hatta.

Melihat keteguhan hati Ki Bagus Hadikusumo, akhirnya Soekarno memanggil Kasman Singodimedjo, seorang tokoh Muhammadiyah juga. Aslinya Kasman Singodimedjo bukanlah politikus, bukan anggota BPUPKI. Karena Kasman adalah Komandan PETA. Kasman diberi tugas oleh Soekarno untuk membujuk Ki Bagus Hadikusumo.

Kasman mendapat janji dari Soekarno bahwa kelak jika kondisi Indonesia sudah membaik maka bisa dibahas lebih detail tentang Piagam Jakarta. Kasman percaya kepada Soekarno. Dalam pikirannya, tokoh besar itu tidak mungkin akan mengingkari janjinya.

Dengan bahasa Jawa kromo alus, Kasman membujuk Ki Bagus Hadikusumo. Sebagai sesama orang Muhammadiyah, Ki Bagus Hadikusumo percaya kepada Kasman. Kasman menuturkan bahwa kelak jika kondisi sudah membaik maka masalah Piagam Jakarta bisa didiskusikan dan diperbaiki kembali.

Akhirnya hati Ki Bagus Hadikusumo luluh. Dengan mata berkaca-kaca dia menyetujui usulan Hatta. Karena Ki Bagus Hadikusumo kelak akan menagih janji kepada Soekarno.

Tapi janji tinggal janji. Berulang kali Ki Bagus Hadikusumo yang priayi Jogja itu menagih janji kepada Soekarno. Menagih janji kapan 7 kata itu akan dikembalikan lagi di tempatnya semula.

Hingga akhir hayatnya, Ki Bagus Hadikusumo tidak pernah mendapati Soekarno menepati janjinya. Dan janji itu telah menguap entah ke mana.

Yang lebih aneh lagi adalah Hatta lupa nama opsir dari Indonesia timur tersebut. Sebuah misteri sampai sekaramg tentang siapakah sosok opsir itu. Apakah sosok itu benar-benar ada atau tidak?

Duka Ki Bagus Hadikusumo adalah duka kita semua. Piagam Jakarta hanya bertahan selama 54 hari sejak ditetapkan, hanya tinggal kenangan saja. []

Sumber: Widi Astuti

About Author

Categories