
Kurban di Dunia Orwellian
MUSTANIR.net – Setiap tahunnya, umat Islam menyambut datangnya Idul Adha dengan menunaikan ibadah kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, mengikuti jejak Nabi Ibrahim AS. Namun, di tengah dunia yang dipenuhi kebohongan sistemik, pengawasan yang menyesakkan, dan hegemoni kapitalisme global, kita perlu bertanya: apakah kurban hari ini masih menjadi manifestasi ketakwaan dan keikhlasan, atau telah direduksi menjadi ritual kosong dalam sistem kufur yang menindas?
Kita hidup dalam dunia yang kian menyerupai ramalan gelap George Orwell dalam novel 1984—sebuah dunia di mana kata-kata dimanipulasi, sejarah dipalsukan, dan rakyat hidup dalam ketakutan serta pengawasan total. Dunia seperti ini bukanlah fiksi semata, tapi kenyataan pahit yang hadir akibat dominasi sistem kapitalisme dan sekularisme yang telah menghilangkan ruh Islam dari kehidupan.
Kurban: Tunduk kepada Allah, Bukan kepada Sistem Buatan Manusia
Kurban sejatinya adalah pengingat bahwa ketaatan mutlak hanya kepada Allah SWT, bukan kepada penguasa zalim, bukan kepada undang-undang buatan manusia, dan bukan kepada sistem internasional yang menghina Islam. Dalam dunia Orwellian yang dikendalikan oleh “Big Brother”, umat dipaksa untuk tunduk kepada sistem sekular yang memisahkan agama dari kehidupan. Di sinilah kurban hadir sebagai simbol penolakan terhadap segala bentuk perbudakan manusia oleh manusia.
Nabi Ibrahim AS tidak sekadar menyembelih hewan. Ia siap mengorbankan anaknya, Ismail AS, demi memenuhi perintah Allah. Ini bukan sekadar kisah spiritual—ini adalah pelajaran ideologis bahwa ketaatan kepada hukum Allah harus total, tanpa kompromi. Dalam konteks hari ini, kurban sejati adalah ketika umat Islam berani meninggalkan sistem kufur dan memperjuangkan penerapan syariah secara kaffah di bawah naungan khilafah Islamiyah.
Umat Menjadi Kurban dalam Sistem Kufur Global
Ironisnya, dalam sistem kapitalisme global yang didominasi oleh Barat kafir, umat Islam justru menjadi “kurban”. Mereka dipermainkan oleh politik global, dilumpuhkan oleh ekonomi ribawi, dan dicabik oleh perang-perang proxy. Di Palestina, Suriah, Uighur, dan Rohingya, darah kaum Muslim mengalir tanpa adanya perlindungan dari negara khilafah yang sah.
Kurban hari ini sering kali menjadi seremoni tahunan yang dijalankan tanpa kesadaran politik. Sapi disembelih, daging dibagikan, tapi sistem kufur tetap lestari. Padahal, semangat kurban menuntut pengorbanan sejati—pengorbanan harta, jiwa, dan waktu untuk memperjuangkan tegaknya sistem Islam.
Islam adalah Solusi, Khilafah adalah Jalan
George Orwell memperingatkan dunia akan bahaya totalitarianisme, propaganda, dan pengawasan ekstrem. Namun, dunia hari ini bukan hanya menjadi Orwellian karena kontrol teknologi, tetapi karena hilangnya sistem Islam. Dalam sistem sekular, umat kehilangan arah, kehilangan makna ibadah, dan kehilangan pelindung. Satu-satunya jalan untuk keluar dari dunia gelap ini adalah dengan menegakkan kembali khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah, yang akan menerapkan syariah secara total, membebaskan umat dari penindasan, dan menyalurkan makna kurban dalam wujud politik yang nyata.
Penutup: Kurban sebagai Panggilan Perjuangan
Kurban bukan hanya ibadah ritual, tetapi ibadah ideologis. Ia adalah seruan untuk kembali tunduk sepenuhnya kepada Allah, bukan kepada sistem kufur. Dalam dunia Orwellian yang menindas dan penuh tipu daya, kurban mengajarkan umat Islam untuk berani menolak dominasi Barat, berjuang menegakkan hukum Allah, dan mengorbankan apa pun demi kembalinya kehidupan Islam di bawah naungan khilafah.
Inilah makna sejati kurban: bukan hanya menyembelih hewan, tetapi menyembelih ketakutan, keengganan, dan kompromi terhadap sistem kufur yang telah meminggirkan Islam dari panggung dunia. []
Sumber: Ageung Suriabagja, SHI, M.Ag.
