Epistemologi Fir’aun

MUSTANIR.net – Sejarah perjalanan dakwah Nabi Musa kepada kekuasaan Fir’aunisme menjadi salah satu sejarah terpanjang yang tertulis dalam al-Qur’an. Dalam bentangan sejarah, meski kekuasaan rezim Fir’aun tercatat sesat dan zolim, namun tetap didukung dan disokong oleh kekuatan-kekuatan sipil dan militer pada zaman itu. Kedekatan para penyokong rezim Fir’aun tidak terlepas dari kepentingan duniawi, lemahnya keimanan atau karena tekanan psikologis semata, mengingat selain kejam, Fir’aun juga memiliki kursi kekuasaan dan pundi-pundi dunia.

Epistemologi Fir’aun dalam tulisan ini bermakna cara pandang Fir’aun terhadap segala konsepsinya tentang kehidupan dan aspek-aspeknya. Orientasi materialisme tampaknya lebih tepat disematkan kepada Fir’aun dalam memandang segala sesuatu. Paham materialisme sendiri menolak segala yang yang berdimensi spiritual dan atau metafisika. Itulah mengapa, Fir’aun menolak ajakan Musa untuk mengimani Allah dan masuk dalam agama Islam.

Kekuasaan yang anti agama ada dua kemungkinan, kapitalisme sekuler atau komunisme ateis, keduanya mewakili epistemologi Fir’aun.  Kedua ideologi ini sebenarnya bertemu pada satu titik, yakni orientasi duniawi semata. Beberapa komponen sosial yang menjadi penopang kekuasaan Fir’aun pun setelah mendapatkan janji-janji duniawi, seperti harta dan tahta. Mereka rela menyokong Fir’aun karena mendapatkan imbalan duniawi.

Genealogi istilah Fir’aun diduga kuat berasal dari kata Ibrani, paroh. Sedangkan kata ‘firaun’ dalam bahasa Indonesia adalah bentuk dalam bahasa Arab dari kata ini. Kata Ibrani aslinya berasal dari bahasa Mesir, Pr-Aa yang artinya adalah ‘rumah besar’. Pertama-pertama ini adalah istilah untuk istana kerajaan, tetapi lama-lama artinya adalah penghuni istana ini, yaitu sang raja. Tetua masyarakat itu diberi gelar pharao (firaun) yang karena berkembangnya sistem kemasyarakatan dan negara, pharao ini diangkat menjadi raja yang pada masa itu sebagai pemimpin negara dan pemimpin keagamaan.

Bila diklasifikasi, setidaknya ada enam komponen sosial masyarakat yang menyokong kekuasaan rezim zolim Fir’aun dengan berbagai kepentingan yang mengikutinya. Di antara komponen itu adalah: kaum intelektual, militer, tokoh agama, paranormal, pengusaha dan rakyat. Karena kepentingan duniawi dan tak adanya iman, mereka mencoba meniti jalan hidup bersama Fir’aun yang zolim.

Mereka yang mewakili kaum intelektual yang meniti jalan Fir’aun dan yang membudakkan dirinya kepada Fir’aun adalah Haman. Haman disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 6 kali. Sumber-sumber dalam al-Qur’an menyebutkan kisah Haman terjadi setelah kembalinya Musa dari Madyan. Dalam kerajaan Fir’aun, Haman menempati beberapa posisi strategis kerajaan sebagai menteri, penasihat raja (terutama bidang keagamaan), dan sebagai pelaksana proyek pembangunan menara.

Haman diperintah oleh Fir’aun untuk membuat menara yang akan digunakan Fir’aun untuk melihat ‘tuhan Musa’. Pembuatan menara itu membutuhkan 50.000 pekerja dan belum termasuk tukang untuk membuat kuil-kuil. Setelah pembangunan menara selesai, Fir’aun menembakkan panah dari puncak menara untuk mengalahkan tuhan Musa.

Fir’aun berbohong kepada Musa bahwa tuhannya telah mati dengan menunjukkan anak panahnya yang kembali telah berlumuran darah. Menara itu kemudian dirobohkan oleh Jibril menjadi tiga bagian yang menewaskan hampir seluruh pekerja. Haman jugalah yang menasihati Fir’aun untuk menolak misi keagamaan Musa. Pada peristiwa pelarian bani Israel dari Mesir, Haman tenggelam bersama Fir’aun dan tentaranya.

Sementara Qarun adalah orang yang mewakili kaum kapitalis disebut dalam al-Qur’an sebanyak 4 kali, 2 kali di surah al-Qasas, 1 kali di surah al-‘Ankabut dan 1 kali di surah al-Mu’min. Dikisahkan pula dalam al-Qur’an dia juga sering mengambil harta dari bani Israel yang lain, dan dia memiliki ribuan gudang harta melimpah ruah, penuh berisikan emas dan perak. Begitu kayanya Qarun, sehingga kunci-kunci harta bendanya harus dipikul oleh beberapa orang yang kekar, terlalu berat untuk dibawa oleh satu orang.

Para tetangga dan orang sekelilingnya ingin sekali memiliki apa yang dimiliki Qarun. Menurut kisah Islam, Qarun ingkar atas nikmat Allah yang diberikan kepadanya, yang pada akhirnya ia diberi azab oleh Allah, tertimbun beserta harta bendanya ke dalam tanah dalam waktu semalam. Tempat Qarun dibenamkan bersama dengan harta dan pengikutnya telah menjadi danau yang dikenal sebagai danau Qarun atau dalam bahasa Arab bahirah Qarun. Yang tersisa hanya puing-puing istana Qarun yang teletak di daerah al-Fayyum, Mesir.

Al-Qur’an juga menceritakan kehadiran paranormal, dukun atau tukang sihir yang mendukung rezim kekuasaan Fir’aun. “Dan beberapa ahli sihir itu datang kepada Fir’aun mengatakan: ‘(Apakah) Sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?’ Fir’aun menjawab: ‘Ya, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku)’.” (al-Qur’an, surah al-A’raf, ayat 113-114)

Tidak ada makan siang gratis sudah berlaku sejak zaman Fir’aun, atau mungkin sebelumnya. Fir’aun mendatangkan para penyihir papan atas di kerajaannya untuk melawan Nabi Musa. Walaupun penyihir masuk golongan profesional, kesempatan itu dimanfaatkan oleh para penyihir untuk melakukan transaksi politik. “(Apakah) Sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?” Jelas sekali para penyihir tidak berpura-pura menjadi relawan padahal mengharap jabatan.

Dari unsur militer, al-Qur’an menceritakan keberadaan bala tentara yang meniti jalan hidup bersama Fir’aun dan menjadi budak politik Fir’aun pada ayat-ayat berikut: “Kemudian Fir’aun mengirimkan orang yang mengumpulkan (tentaranya) ke kota-kota. (Fir’aun berkata:) “Sesungguhnya mereka (bani Israil) benar-benar golongan kecil. Dan sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang menimbulkan amarah kita. Dan sesungguhnya kita benar-benar golongan yang selalu berjaga-jaga.’ Maka Kami keluarkan Fir’aun dan kaumnya dari taman-taman dan mata air, dan (dari) perbendaharaan dan kedudukan yang mulia.” (QS asy-Syu’ara 26: 53-58)  “Maka Fir’aun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit.” (QS asy-Syu’ara 26: 60)

Dari kalangan masyarakat, maka bani Israel banyak yang kemudian tergiur memuja Fir’aun dan meninggalkan Nabi Musa. “Akulah tuan kalian, aku menyediakan semua kebutuhan kalian. Lihatlah (Nabi) Musa, ia tak memiliki emas. Ia hanyalah orang miskin,” kata Fir’aun dalam satu pertemuan dengan rakyatnya termasuk bani Israil.

Bani Israil pun sekejap langsung percaya dengan kata-kata Fir’aun. Lupa sudah bahwa raja mereka itu telah menindas, bahkan membunuh anak-anak mereka. Namun, mereka teperdaya dengan kilauan emas dan perak. Lupa sudah nabi mereka Musa yang selalu menyeru hak mereka untuk lepas dari belenggu sebagai budak Fir’aun.

Mereka dengan mudahnya tergiur janji Fir’aun yang akan memenuhi segala kebutuhan hidup mereka, meski janji itu palsu belaka. Dalam keteperdayaan dan kebodohan itu, bani Israil serta-merta menaati Fir’aun dan mengabaikan panggilan Musa. Mereka tergiur godaan dunia. Musa dicela, tak dianggap sebagai utusan Allah. Dari epistemologi Fir’aun ini dapat diekstrak beberapa karakter yang menjadi watak Fir’aun dan kekuasaannya.

Kufur dan Mendustakan Agama

Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi Fir´aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (Seraya) berkata: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”. Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya). (QS an-Nazi’at: 20-26)

Sombong, Sok Kuasa, dan Merasa Pemilik Negara

Dan Fir´aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: “Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya). Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya). Mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang dari emas atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya? Maka Fir´aun memengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” (QS az-Zukhruf: 51-54)

Dikelilingi oleh Penasihat dan Pembisik Jahat

Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir´aun (kepada Fir´aun): “Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?” Fir´aun menjawab: “Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka; dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka.” (QS al-A’raf: 127)

Menebar Ancaman dan Fitnah

Fir´aun berkata: “Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan.” (QS asy-Syu’araa: 29) Fir´aun berkata kepada pembesar-pembesar yang berada sekelilingnya: “Sesungguhnya Musa ini benar-benar seorang ahli sihir yang pandai.” (QS asy-Syu’araa: 34) Fir´aun berkata: “Apakah kamu sekalian beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia benar-benar pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu maka kamu nanti pasti benar-benar akan mengetahui (akibat perbuatanmu); sesungguhnya aku akan memotong tanganmu dan kakimu dengan bersilangan dan aku akan menyalibmu semuanya.” (QS asy-Syu’araa: 49)

Berpolitik Transaksional, Berbagi Kursi Kekuasaan

Maka tatkala ahli-ahli sihir datang, merekapun bertanya kepada Fir´aun: “Apakah kami sungguh-sungguh mendapat upah yang besar jika kami adalah orang-orang yang menang?” Fir´aun menjawab: “Ya, kalau demikian, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan menjadi orang yang didekatkan (kepadaku).” (QS asy-Syu’araa: 41-42)

Anti Kritik dan Menolak Dakwah Islam

Kemudian sesudah rasul-rasul itu, Kami utus Musa dan Harun kepada Fir´aun dan pemuka-pemuka kaumnya, dengan (membawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami, maka mereka menyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. Dan tatkala telah datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata: “Sesungguhnya ini adalah sihir yang nyata.” Musa berkata: “Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran waktu ia datang kepadamu, sihirkah ini? Padahal ahli-ahli sihir itu tidaklah mendapat kemenangan.” Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? Kami tidak akan memercayai kamu berdua.” (QS Yunus: 75-78)

Persekusi, Kriminalisasi, Islamophobia, dan Kapitalistik

Dan berkata Fir´aun (kepada pembesar-pembesarnya): “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” (QS al-Mukmin: 26) Dan sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata kepada Fir´aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata: “(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta.” (QS al-Mukmin: 23-24)

Menzolimi dan Menindas Rakyat

Kaum Musa berkata: “Kami telah ditindas (oleh Fir´aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang.” Musa menjawab: “Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi(Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu.” (QS al-A’raf: 129) Mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja.” (QS Thahaa: 72)

Membanggakan Infrastruktur dan Berjiwa Munafik

Dan berkata Fir´aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta.” (QS al-Qashash: 38) Maka tatkala mukjizat-mukjizat Kami yang jelas itu sampai kepada mereka, berkatalah mereka: “Ini adalah sihir yang nyata” Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini-(kebenaran)-nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan. (QS an-Naml: 13-14)

Bermulut Besar dengan Tuduhan Keji

Fir´aun bertanya: “Siapa Tuhan semesta alam itu?” Musa menjawab: “Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya (itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) memercayai-Nya.” Berkata Fir´aun kepada orang-orang sekelilingnya: “Apakah kamu tidak mendengarkan?” Musa berkata (pula): “Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu.” Fir´aun berkata: “Sesungguhnya rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila.” Musa berkata: “Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya; (itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal.” (QS asy-Syua’raa: 23-28) []

Sumber: Ahmad Sastra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories