shutterstock.com

Fardlu Kifayah di Tengah Wabah

MUSTANIR.net – Pagi itu kami mengkaji bab awal dari kitab Syakhsiyyah Islamiyyah juz 2 karya ‘Alamah al-‘Alim Qadhi Taqiyuddin an-Nabhani. Ketika sampai pada paragraf mengenai fardlu kifayah, guru kami memberikan contoh mengenai kebutuhan tenaga medis bagi umat termasuk kategori fardlu kifayah.

Sampai disitu saya terhenyak sesaat, betapa banyak kewajiban di pundak umat yang terbengkalai, atau bahkan sengaja diabaikan. Di antaranya adalah yang jadi bahasan fardlu kifayah. Dimana pengertian fardlu kifayah adalah “kewajiban yang jika ada yang menunaikannya dengan cukup/tuntas maka gugurlah (kewajiban) tersebut dari yang lain.”(Prof. Dr. Rawwas Qal’ahji, Mu’jam Lughah Fuqaha, hal. 361).

Pelajaran fardlu kifayah sudah masuk ke telinga saya berulang-ulang sejak masih berseragam merah putih. Namun pengembangan contoh fardlu kifayah itu yang teramat miskin didengar, karena selalu samplenya adalah mengurus jenazah. Padahal banyak item-item amal dan profesi yang masuk ke dalam ruang fardlu kifayah, dan itu banyak yang belum terpenuhi (kifayah) hingga hari ini.

Di tengah wabah begini, kita semua harusnya tersadar, bila umat hari ini miskin tenaga medis, teknologi kedokteran, farmasi, juga industri yang berhubungan dengan kesehatan. Dunia medis menjerit kekurangan tenaga medis untuk tangani wabah covid-19. Sementara banyak tenaga medis mulai dari dokter hingga perawat yang juga ikut jadi korban, bahkan meninggal dunia. Belum lagi jeritan kekurangan APD (alat pelindung diri), dan jangan lupa kesiapan rumah sakit untuk menampung dan merawat warga yang terus bertumbangan.

Sebagai catatan data, menurut data Kementerian Kesehatan jumlah dokter umum Indonesia pada 2019 mencapai 50.198 orang. Sementara, dokter spesialis berjumlah 31.073. Pastinya jauh dari kecukupan melayani masyarakat Indonesia yang berjumlah 250 juta lebih dan tersebar di 34 propinsi.

Kecukupan tenaga medis di semua level dan spesialisasinya adalah bagian dari fardlu kifayah yyang amat agung. Sampai-sampai Imam asy-Syafi’i memberikan penekanan yang besar pada dunia kedokteran. Kata beliau:

لا أعلم علما بعد الحلال والحرام أنبل من الطب إلا أن أهل الكتاب قد غلبونا عليه

“Saya tidak mengetahui sebuah ilmu -setelah ilmu halal dan haram- yang lebih berharga yaitu ilmu kedokteran, akan tetapi ahli kitab telah mengalahkan kita.” [Siyar A’lam An-Nubala 8/528, Darul Hadits]

Imam Syafi’i juga menekankan bahwa di antara ilmu dunia, ilmu kedokteran salah satu yang paling penting. Beliau berkata,

إنما العلم علمان: علم الدين، وعلم الدنيا، فالعلم الذي للدين هو: الفقه، والعلم الذي للدنيا هو: الطب

“Ilmu itu ada dua: ilmu agama dan ilmu dunia, ilmu agama yaitu fiqh. Sedangkan ilmu untuk dunia adalah ilmu kedokteran.” [Adab  Asy-Syafi’i wa manaqibuhuhal. 244, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah]

Umat muslim butuh kecukupan ahli di bidang medis, sebagaimana kebutuhan akan ulama, militer, tenaga pertambangan, enerji, nuklir, pendidikan, dll. Semua itu adalah ruang lingkup fardlu kifayah. Suatu kewajiban yang sudah belasan tahun ada dalam kajian kitab-kitab klasik para ulama. Karena statusnya adalah fardlu kifayah, maka mengabaikan hal ini adalah kemaksiatan dan dosa.

Jadi ketika hari ini kita kewalahan menangani wabah; minim tenaga medis, minim industri farmasi dan alat-alat kesehatan, minim sarana dan prasarana rumah sakit, semua adalah kemaksiatan kolektif. Itulah konsekuensi fardlu kifayah. Namun kita tidak sadar kalau hari ini itu semua sudah jadi dosa berjamaah.

Mengapa ini terjadi, padahal kajian fardlu kifayah sudah lama dikenal? Ada dua sebab utama; pertama, Islam sudah lama tidak dijadikan solving problem kehidupan. Islam hari ini hanya ritual ibadah dan nasihat-nasihat moral, bukan panduan untuk memecahkan persoalan kehidupan.

Ketika virus corona mewabah, umat tidak kehilangan bimbingan spiritual dan moral, tapi umat tidak diberikan tuntunan Islam sebagai solusi persoalan. Wabah tak bisa dituntaskan hanya dengan doa dan sabar, tapi ada kewajiban berikhtiar pengobatan dan perawatan. Kemampuan pengobatan dan perawatan itu adalah salah satu fardlu kifayah bagi umat.

Saat Islam bukan lagi jadi panduan, maka profesi sebagai tenaga medis adalah pilihan karier bukan karena pelaksanaan kewajiban. Sebagian dari muslim yang terjun di bidang ini murni karena motif karir dan penghasilan, karena profesi menjadi dokter –apalagi dokter spesialis–, konsultan kesehatan adalah pekerjaan yang menjanjikan secara finansial. Meski tak dipungkiri alhamdulillah masih ada sebagian dari umat ini yang memang tulus ikhlas mengabdikan diri melayani umat.

Kedua, karena negara hari ini adalah negara kapitalisme. Negara yang tak menganut Islam sebagai asas, pastinya tidak mengenal kewajiban-kewajiban syariat. Jangankan yang kifayah, yang ain saja negara abai. Jangankan mengurus kewajiban pemenuhan tenaga medis, kewajiban menjaga shalat pun ditelantarkan.

Dalam negara sekuler kapitalis seperti saat ini, negara tidak akan mengakomodir apalagi mendorong para pelajar untuk memilih profesi yang ditentukan umat, sebagai pengentasan kewajiban kifayah. Negara kapitalis membebaskan warganya berebut bangku kuliah demi kedudukan ekonomi masing-masing. Inilah survival of the fittest.

Rakyat pun mencari pendidikan dan profesi bukan untuk berkhidmat pada kebutuhan umat, tapi pada kebutuhan pasar. Profesi yang menghasilkan banyak uang biasanya jadi pilihan utama. Itulah sebabnya hari ini banyak orang memilih jadi entrepreneur alias pengusaha karena menghasilkan banyak uang. Menjadi dokter juga menghasilkan uang, tapi tidak banyak orang sanggup menekuninya; selain membutuhkan ketekunan dan kecerdasan juga karena biaya pendidikannya yang tinggi.

Potret hari ini berbeda dengan gambaran negara Khilafah, dimana Daulah Khilafah berdiri untuk melayani umat dengan menerapkan syariat Islam. Hukum Islam yang fardlu menjadi prioritas untuk dituntaskan. Selain memberikan kesempatan pada warga untuk mengembangkan diri dalam pendidikan dan karir, Daulah Khilafah berkewajiban memperhatikan tugas pokok dan fungsinya untuk meri’ayah umat, terutama dalam kewajiban yang jatuhnya fardlu.

Melayani umat dalam bidang kesehatan adalah salah satu kewajiban Negara Khilafah. Negara Khilafah akan menghitung tingkat kebutuhan umat; berapa kebutuhan standar umat akan jumlah dokter umum maupun spesialis, bidan, perawat, pakar gizi, pakar lingkungan, pakar virus, pakar epidemi, pakar farmasi, sampai tenaga ahli dalam manajemen rumah sakit.

Berdasarkan perhitungan itu, Negara Khilafah akan mendorong kaum muslimin untuk menekuni bidang kesehatan dan segala hal yang berkorelasi dengannya, agar kebutuhan umat akan bidang kesehatan tercukupi. Khalifah tidak akan membiarkan umat memilih jenis pendidikan dan karir begitu saja sebelum kewajiban syariat terpenuhi, kifayah.

Untuk itu Negara Khilafah akan mendorong kaum muslimin untuk mengisi tempat-tempat pendidikan dan profesi yang menjadi fardlu kifayah dalam Islam. Negara akan membangun berbagai jenjang pendidikan hingga level tertinggi seperti spesialis untuk diisi oleh para pelajar. Pendidikan dalam Negara Khilafah dibangun secara mutakhir dan cuma-cuma bagi setiap rakyat.

Negara juga akan menghitung rasio perbandingan kebutuhan umat akan rumah sakit agar cukup menampung warga. Rumah sakit ini bukan hanya ada di kota-kota besar, tapi juga harus tersedia di pelosok, bahkan harus ada tipe pelayanan medis yang mobile, agar dapat melayani warga setiap saat. Khalifah dibantu para ahli juga akan berpikir keras dan mengusahakan pelayanan kesehatan yang mudah, cepat, dan ditangani oleh para ahlinya.

Negara juga akan membangun lingkungan yang sehat dengan menciptakan sanitasi yang layak di setiap kawasan; pemukiman, perkantoran, pasar-pasar, sekolah dan kampus, tempat-tempat umum seperti terminal, bandara, pelabuhan, termasuk jalan-jalan raya. Dua hal yang diperhatikan; kebersihan dari najis dan dari kemungkinan polusi serta bibit penyakit.

Misalnya negara akan memberlakukan uji emisi yang ketat bagi setiap kendaraan. Termasuk akan membatasi usia kendaraan agar kendaraan yang sudah tua dan tak layak jalan, akan dilarang digunakan di jalan-jalan umum.

Daulah Khilafah juga akan mengawasi kualitas asupan gizi bagi publik, selain sudah pasti akan melarang zat-zat yang haram beredar di tengah kaum muslimin. Negara Islam ini akan menghitung kebutuhan kalori, vitamin dan mineral setiap individu lalu akan mendorong kaum muslimin mendapatkannya, dan di sisi lain khalifah juga mendorong kemajuan industri makanan.

Industri farmasi dan instrumen kesehatan akan dibangun dan dijalankan oleh Daulah Khilafah sebagai kepemilikan umum dan sebagian lagi kepemilikan Daulah. Sebagaimana laboratorium dan riset-riset kesehatan, obat-obatan, gizi, dsb. akan didorong sampai ke tingkat tertinggi sebagai pengentasan fardlu kifayah. Dengan industri kesehatan menjadi kepemilikan umum dan sebagian lagi menjadi milik Daulah, akan menghindarkan Negara Khilafah dan umat dari monopoli dan penjajahan industri kaum kapitalis.

Daulah Khilafah juga akan mengizinkan individu memiliki industri farmasi, alat-alat kesehatan, rumah sakit, apotik, dsb. Sebagaimana Daulah Khilafah juga mengizinkan para dokter membuka praktek pribadi di klinik-klinik mereka.

Tenaga-tenaga medis dan para pakar di bidang kesehatan, gizi, dll., akan mendapatkan perhatian besar, diberikan fasilitas riset, dan tunjangan hidup yang amat pantas. Agar mereka dapat bekerja dengan fokus dan benar-benar mencurahkan tenaga serta pikirannya demi kemaslahatan umat.

Demikianlah, memang beda secara diametral antara kebijakan Daulah Khilafah dengan negara-negara saat ini yang menerapkan kapitalisme. Dalam Negara Khilafah yang berasaskan akidah Islam akan ada dorongan kuat membangun masyarakat yang sehat, antisipatif dan cepat merespon kebutuhan umat karena dorongan iman dan takwa. Individu yang hidup dalam Negara Khilafah juga akan memiliki dorongan yang kuat untuk membantu sesama, bahkan akan terjun menekuni bidang kesehatan karena dorongan iman.

Kegagapan negara saat ini sudah terlihat karena tidak memiliki spirit meri’ayah umat. Pemerintah masih menjadikan sektor ekonomi sebagai panglima dalam pengambilan keputusan sekalipun jutaan nyawa rakyat menjadi pertaruhan. []

Sumber: Iwan Januar

Categories