Film Berlatar Pesantren, Yakin Bikin Santri Jadi Keren?

MUSTANIR.net – Film berlatar cerita pesantren akan kembali meramaikan jagat bioskop nasional. Salah satu film yang diadaptasi dari novel best seller digadang-gadang segera tayang. Alur cerita yang katanya mengaduk-aduk emosi pembaca dan calon penonton filmnya, telah divisualisasikan melalui teaser dramatis bersponsor yang muncul otomatis di media sosial sejak awal Februari 2023.

Sineas Pesantren

Maraknya karya audiovisual dari kalangan santri tentunya tidak terlepas dari munculnya minat untuk menjadi para sineas. Mungkin selama ini publik tidak menyangka bahwa para santri aktif ternyata bisa membuat film. Fenomena ini pun terwadahi melalui momentum Festival Film Pendek Desember 2022 lalu.

Acara yang digelar oleh Media Pondok Jatim (MPJ) itu diikuti oleh para santri dari puluhan pondok pesantren se-Jawa Timur. Target acara ini tidak lain agar dapat dengan mudah memetakan potensi santri di bidang film.

Di sini, MPJ tidak hanya mendampingi dan mewadahi santri yang menyukai perfilman, tetapi juga literasi, fotografi, hingga desain grafis serta editing video sebagai wujud keniscayaan era digital. Tidak heran, adaptasi novel karya insan pesantren ke layar lebar tentu saja turut menjadi bagian dari penyuasanaan momentum festival film tersebut.

Kreasi Seni

Memang, kreativitas insan pendidikan sejauh ini acapkali terarah pada bidang seni, termasuk di dunia pesantren. Dalam dunia pendidikan saat ini secara umum, seni justru dianggap bisa memberikan pengaruh penting terhadap perkembangan mental maupun fisik peserta didik. Pendidikan seni dikaitkan dengan pola pembentukan perilaku peserta didik sehingga dianggap bisa menjadi lebih baik. Hal ini karena seni diklaim dapat mengenalkan nilai-nilai dan norma-norma masyarakat kepada peserta didik.

Padahal, sejatinya aspek pembentukan perilaku adalah pembentukan kepribadian, yang pada titik ini justru terletak output terpenting sistem pendidikan yang bersangkutan. Tersebab hal itu, jika output tersebut salah arah, capaian finalnya adalah liberalisasi.

Namun, realitasnya, berbagai ajang kreasi seni malah diwadahi langsung oleh lembaga pendidikan terkait, baik di tingkat PAUD, pendidikan dasar, menengah, hingga tinggi. Ini tidak dikecualikan dari sekolah/lembaga pendidikan yang selama ini menjadi favorit masyarakat dalam mempercayakan pendidikan putra-putrinya di situ.

Tidak hanya itu, sudah rahasia umum bahwa pihak penguasa pengambil kebijakan di negeri ini lebih mengapresiasi prestasi anak didik dalam hal eksplorasi seni, bukan kecerdasan dan prestasi akademik. Kita tentu ingat ketika beberapa waktu lalu ada murid SMP juara dansa yang lebih diapresiasi daripada juara Olimpiade akademik ataupun MTQ internasional.

Padahal, sebuah sekolah/lembaga pendidikan favorit, yang biasanya memiliki passing grade tinggi saat penerimaan peserta didik baru, tentunya lebih layak untuk diapresiasi berdasarkan aspek intelektualitasnya. Hal ini sangat disayangkan, karena sekolah/lembaga pendidikan tidak diposisikan sebagai instrumen yang akan merevolusi peradaban sahih di muka bumi.

Media dan Moderasi Beragama

Novel karya insan pesantren memang boleh disebut salah satu wujud melek literasi. Namun mencermati pekatnya islamofobia saat ini—yakni ketika pengajian lebih dinyinyiri bahkan dipersekusi daripada acara konser musik maupun dangdutan—, tampaknya agak rawan jika kontennya akan “aman” dari aroma sekularisme dan liberalisme.

Lebih parahnya adalah jika karya tersebut turut dimanfaatkan sebagai alat penderas sekularisasi dan liberalisasi budaya. Penulis novel tersebut mungkin sudah merasa diberi penghargaan dengan visualisasi karyanya melalui film. Akan tetapi, dampak yang lahir dari arus deras sekularisasi dan liberalisasi budaya tadi sungguh tidak akan berhenti begitu saja kecuali dengan benteng pemikiran ideologis yang sahih. Apalagi film adalah salah satu produk media, yang notabene media saat ini telah jelas dinyatakan sebagai pilar demokrasi.

Demikian halnya aspek nativisasi budaya nenek moyang dan kesukuan dengan dalih kearifan lokal. Jika hal ini ternyata menjadi konten dari karya insan pesantren tersebut hingga kemudian di-endorse melalui film, nyata sudah bahwa cepat atau lambat pesantren akan tercemari ide-ide budaya lokal. Akibatnya, kondisi ini makin menjauhkan pesantren dari profil hakikinya sebagai lembaga pendidikan pencetak para calon ulama dan lokomotif perjuangan Islam.

Parahnya lagi, kondisi ini ibarat gayung bersambut dengan arus deras moderasi beragama, khususnya di kalangan pesantren. Tidak pelak, pencampuradukan ajaran Islam juga sangat berpeluang terjadi, yang ironisnya justru di pusat-pusat pendidikan Islam itu sendiri. Standar kebenaran dan kebahagiaan hidup jelas akan bergeser menjadi sekuler dan liberal, tidak hanya terjadi di seputar pesantren, tetapi juga masyarakat luas.

Na’udzubillahi.

Mengembalikan Hakikat Pesantren

Sungguh, kapitalisme telah menyesatkan kita semua. Kapitalisme tidak akan berhenti memproduksi sekularisme dan liberalisme hingga Islam sebagai ideologi sahih mampu tampil secara kafah. Parsialisasi Islam, apalagi mengompromi perjuangannya secara intrasistemis, mustahil menghentikan arus deras sekularisasi dan liberalisasi.

Pesantren yang selama ini kita kenal sebagai tempat teraman untuk menitipkan putra-putri kita karena kita percaya pada sistem pendidikan Islam di dalamnya, hendaklah tidak kita biarkan terkontaminasi oleh ide-ide sekuler dan liberal. Terlalu rapuh jika kaum santri tidak memiliki kapasitas sebagai aktivis dakwah sekaligus pejuang Islam. Ilmu dan tsaqafah Islam yang diperoleh selama mengenyam pendidikan di pesantren semestinya menjadi pisau pencerdasan umat sehingga umat mengalami kebangkitan pemikiran.

Lihatlah di luar sana, krisis generasi sudah begitu akut dan mencapai jenjang multidimensi. Namun, moderasi beragama toh memang bukan solusi, melainkan makin menghancurkan generasi. Jadi, tidaklah pula semestinya pesantren mengadopsi pemikiran sesat moderasi beragama ini.

Andai insan pesantren memang berminat di bidang kreasi seni, media, maupun literasi, janganlah merasa keren karena sekadar sudah mendapatkan penghargaan atau peningkatan reputasi. Semua itu tidak pantas memalingkan visi besar pesantren dalam mencetak generasi berkepribadian Islam serta para calon ulama yang tidak lain adalah para simpul dan mutiara umat.

Seni, media, maupun literasi, haruslah menjadi sarana dakwah, yang tentu landasannya adalah akidah Islam. Sungguh, hanya dengan Islam kafah para santri akan menjadi keren secara hakiki.

Khatimah

Seabad (lebih) keruntuhan Khilafah pada 1342 H (1924) tidak semestinya membuat pesantren pada masa modern ini malah menjadi pengarus penolakannya. Pesantren seharusnya menjadi lokomotif perjuangan umat untuk menegakkan kembali Khilafah.

Pesantren hanya layak mengemban pemikiran Islam kafah. Allah Taala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kafah (keseluruhan) dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah [2]: 208).

Wallahualam bissawab. []

Sumber: Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si

About Author

2 thoughts on “Film Berlatar Pesantren, Yakin Bikin Santri Jadi Keren?

  1. Hey there just wanted to give you a quick heads up and let you know a few
    of the pictures aren’t loading correctly. I’m not sure why but I think
    its a linking issue. I’ve tried it in two different web browsers and both show the same outcome.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories