
‘Freethinkers’ dan Pandangannya tentang Agama dan Keluarga
MUSTANIR.net – Istilah ‘freethought’ (pemikiran-bebas) merupakan satu dari sedikit terma intelektual yang paling kabur, namun biasanya dikaitkan dengan ateisme, agnostisisme hingga pandangan teologis (khususnya di dunia Kristen Barat) yang tidak ortodoks seperti unitarianisme. Kata ini muncul pada zaman Pencerahan Eropa (1650-1800) meski padanan katanya, ‘zindiq’, sudah dikenal di dunia Islam sejak abad ke-9 bersamaan dengan munculnya filsafat atau teologi seperti mu’tazilah yang dianggap menyimpang.
Namun dalam hal ini ada satu aliran ‘freethought’ di Inggris yang bersinggungan dengan ide-ide Charles Darwin dan Thomas Robert Malthus, dan menurut saya menarik karena pengaruhnya terhadap cara pandang baru terhadap keluarga atau perkawinan yg didesakralisasi —karena adanya gelombang perlawanan terhadap agama dan gereja sejak masa Pencerahan.
Dua figur yang menjadi pionir gerakan ini adalah Charles Bradlaugh (1833-1891) dan Annie Besant (1847-1933). Bradlaugh merupakan politisi dan pemikir ateis garis-keras yg mendirikan National Secular Society pada tahun 1866 untuk mendukung pemisahan agama dari negara ataupun institusi-institusi sipil. Annie Besant bergabung dengan perkumpulan tersebut, dan bersama Bradlaugh keduanya terlibat dalam kampanye mempromosikan kontrol kelahiran dan penggunaan kontrasepsi.
Pada tahun 1877, Bradlaugh dan Besant diajukan ke pengadilan setelah menerbitkan ulang tulisan Charles Knolton bertajuk ‘The Fruits of Philosophy’ yang berisi ‘pendidikan seks’ bagi pasangan muda untuk mencegah kehamilan; Ini memicu kontroversi hebat dalam masyarakat Inggris masa Victorian karena dilihat sebagai dukungan terhadap seks bebas dan amoralitas. Atas tuduhan itu mereka dijatuhi hukuman denda, namun tindakan hukum itu mendorong para pengikut Charles Bradlaugh membentuk Malthusian League (Liga Malthusian).
Di kalangan pembaharu kebijakan kesejahteraan sosial di Inggris, kelompok Malthusian berselisih paham dengan kaum sosialis, di mana yang pertama menganggap angka kelahiran yang tak terkendali sebagai pangkal kemiskinan, lebih daripada faktor eksploitasi ekonomi kaum pekerja. Meski demikian, masuknya Annie Besant dalam perkumpulan Fabian pada 1885 bisa jadi ikut mendorong ide-ide ‘social engineering’ ala Malthusian lebih dapat diterima di kalangan kelompok pemikir sosialis tersebut.
Di antara kaum Fabian yang terpengaruh Darwinisme-Malthusianisme terdapat George Bernard Shaw dan Herbert George Wells; mereka ini —sebagaimana juga keluarga Huxley— mendukung praktik seperti eugenika dan kontrol kelahiran diterapkan untuk mewujudkan perbaikan kemakmuran, standar hidup dan kualitas ras manusia. Belakangan, orang lebih mengenal Besant sebagai teosof yang memberi pengaruh pada gerakan kemerdekaan India, namun dampak dari berbagai gagasannya yang lebih awal terhadap aktivisme perempuan jarang dibicarakan.
Menjadi pemikir bebas idealnya berarti membuat jarak dengan kredo religius maupun sekular (seperti ketundukan pada otoritas kerajaan ataupun nasionalisme modern), dengan menempatkan keyakinan-keyakinan kita di bawah ‘pisau bedah’ keraguan dan penalaran rasional/saintifik. Dalam kenyataanya, sains itu sendiri menjadi kultus baru dengan doktrin evolusi dan potensi penyempurnaan manusia (human perfection) sebagai pusat dan tujuan akhirnya. Setidaknya ada tiga konsekuensi utama dari ‘pemikiran-bebas’ yang dipengaruhi Darwinisme-Malthusianisme;
Pertama ialah bahwa ia memperkuat etika utilitarian yang didasarkan pada kaidah seleksi alam dan kebutuhan dasar manusia untuk menyintas (survival).
Ke dua, ide akan posisi sentral sains dalam upaya perbaikan masyarakat dan ras manusia yang melahirkan konsep-konsep semacam ‘teknokrasi’ dan ‘biopolitik’.
Ke tiga, bahwa kedua poin sebelumnya itu mendorong pada desakralisasi dalam relasi inter-personal, dalam pengertian serupa dengan ‘disenchantment of the world’ seperti dikemukakan Max Weber.
Ketika faktor keyakinan sebagai sumber nilai sakral dihilangkan, maka yang tersisa hanyalah hubungan-hubungan kontraktual, kesepakatan dan kemitraan: antara penguasa dan masyarakat, laki-laki dan perempuan, bahkan hingga orang tua dan anak-anaknya ketika mereka telah sanggup mandiri. Dalam beberapa segi, feminisme sebagai doktrin adalah absurd mengingat ia dibentuk atas dasar imajinasi kesetaraan yang tidak definitif; kebebasan atau kuasa perempuan di ruang publik hanya berarti sepenuhnya ketika ia tidak dibatasi oleh peran-peran reproduksinya.
Maka menjadi masuk akal berasumsi bahwa aliran ini dirancang bukan terutama untuk menciptakan kesetaraan namun dalam rangka membatasi minat orang berkeluarga untuk kebutuhan prokreasi/berketurunan. Berkat kaum pemikir bebas, menjadi mungkin untuk menciptakan bentuk perkawinan yang bersifat partnership alih-alih bersifat kepemilikan, memutuskan untuk tidak memiliki anak tanpa beban apa pun, bahkan hingga memberi tempat bagi seksualitas non-reproduktif.
Gerakan pemikiran bebas timbul-tenggelam dalam konteks yang berbeda-beda: kegaduhan revolusioner di akhir abad ke delapan belas, reformasi sosialis dan negara kesejahteraan di peralihan abad ke-19/20, hingga budaya-tandingan tahun 1960–an. Namun ada tema yang hampir konsisten: manusia adalah bagian dari alam dan keberadaannya sama sekali tidak terkait dengan suatu rancangan supernatural, dan bahwa mereka harus berjuang untuk kelangsungan spesies mereka dengan cara apa pun, termasuk mengendalikan populasi manusia itu sendiri. []
Sumber: Pradipto Niwandhono, SS, M.Hum, Ph.D
Referensi:
• Laura Schwartz, 2017, ‘Infidel Feminism: Secularism, Religion and Women’s Emancipation, England 1830-1914’, Manchester, Manchester University Press
