Pancasila Itu Beda dengan Islam, Tak Usah Dipaksakan Sama dan Mencari Legitimasi dari Islam

MUSTANIR.net“Kalimatun sawa’ hal-hal yang sama diperjuangkan meskipun agamanya dan sukunya beda. Pasti sama” [Mahfud MD, 5/1/2024]

Menkopolhukam Mahfud MD mengatakan bahwa Pancasila merupakan wujud perlindungan ritual keagamaan. Keberadaan Pancasila dinilai suatu bentuk kesepakatan bagi seluruh umat untuk dapat menghormati seluruh agama di Indonesia.

Cawapres yang diusung PDIP, PPP, dan Perindo ini menambahkan bahwa Pancasila merupakan wujud kalimatun sawa’. Menurutnya dalam kitab suci al-Qur’an, istilah kalimatun sawa’ bermakna merupakan satu pernyataan atau keyakinan yang mempertemukan berbagai perbedaan.

Hal itu diungkap Mahfud saat menghadiri syukuran awal tahun Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) di Grha Oikoumene, Jakarta Pusat, Jumat (5/1/2024).

Pernyataan Mahfud MD di atas jelas telah mencampuradukkan antara yang haq dan yang batil. Dalam akidah Islam, seluruh agama di luar Islam tidak sama dengan Islam. Karena hanya Islam, yang mengesakan Allah subḥānahu wa taʿālā.

Orang Nasrani menyebut Isa putra Allah. Orang Yahudi meyakini Uzair putra Allah. Keyakinan Nasrani dan Yahudi ini dibantah oleh Allah subḥānahu wa taʿālā dalam al-Qur’an.

Dalam Islam, yang beda tetap beda. Tidak perlu karena dalih toleransi dipaksakan sama. Namun hubungan antar sesama, Islam telah mengatur batasannya sehingga kaum muslimin dapat hidup berdampingan dengan orang kafir dalam berbagai interaksinya.

Konsep perbedaan Islam dengan agama lainnya itu jelas. Bagimu agamamu, bagiku agamaku.

Selanjutnya berdalih dengan ‘kalimatun sawa’ yang diartikan hal-hal yang sama diperjuangkan meskipun agamanya dan sukunya beda, juga bertentangan dengan Islam. Dalam Islam, yang diperjuangkan hanya agama Allah subḥānahu wa taʿālā, bukan agama selainnya. Konsep agama di luar Islam bertentangan dengan Islam.

Klaim Pancasila hasil kesepakatan juga tak sesuai dengan sejarah. Faktanya konsep Pancasila ada banyak mahzab dari Soekarno, Hatta, hingga M Yamin.

Tafsir Pancasila juga coraknya sekehendak penguasa. Era orde baru, Pancasila ditafsirkan ala Soeharto. Saat era orde lama, ditafsirkan dengan cara Soekarno. Begitu juga hari ini, suka-suka rezim Jokowi.

Pancasila digunakan oleh rezim Jokowi untuk membungkam HTI dan FPI. Ajaran Islam khilāfah dikriminalisasi dengan dalih anti Pancasila.

Ritual keagamaan umat Islam yang ingin mendakwahkan ajaran Islam juga dibungkam. Dari mana dikatakan Pancasila sejalan dengan Islam? Kalau sama, kenapa umat Islam dihalangi untuk beribadah dalam bentuk mendakwahkan khilāfah?

Islam dan Pancasila faktanya beda dari asas hingga tujuannya. Saat ini Pancasila tak peduli dengan Palestina, karena tidak ada konsep persaudaraan Islam dalam Pancasila. Pancasila juga tidak menyeru umat Islam untuk berjihad melawan kaum kafir yang menindas saudara muslim di Palestina. Jadi kalau faktanya beda, kenapa harus disamakan? []

Sumber: Ahmad Khozinudin

About Author

Categories