Gejolak di Tubuh PKS Akibat Demokrasi

pks-pecah

Gejolak di Tubuh PKS Akibat Demokrasi

Mustanir.com – Konflik internal PPP dan Partai Golkar belum usai, internal PKS mulai bergejolak. Konflik dinilai muncul seiring pergantian kepemimpinan di PKS dari Anis Matta ke Sohibul Iman.

Pengamat politik Gun Gun Heryanto mengatakan, gejolak di PKS merupakan dampak lanjutan dari proses pergantian rezim. Terpilihnya Sohibul Iman menjadi orang nomor satu di PKS, diiringi pergantian figur di internal.

Menurut Gun Gun, pola hubungan faksi di PKS sudah terbangun sejak lama, terlepas dari adanya gangguan dari luar. Kubu di PKS yang paling nyata di publik adalah keadilan dan kesejahteraan.

Selama ini PKS selalu sukses menuntaskan konflik internal, sehingga masalah tidak makin runyam. Gun Gun menilai, keadaan di PKS berbeda setelah Anis Matta tidak berkuasa.

“Kubu Anis Matta mulai termarginalkan,” kata Gun Gun kepada Metrotvnews.com, Selasa (12/1/2016).

Gun Gun menilai, semakin lama konflik akan semakin tampak di publik. Pengajar di sebuah universitas negeri di Jakarta ini mengatakan, PKS punya sejarah bagus menyelesaikan konflik internal.

Harapan Gun Gun, konflik di PKS tidak semakin panas seperti di PPP dan Golkar. “Sudah terlalu banyak partai yang berkonflik,” ujar dia.

Politikus senior PKS Hidayat Nur Wahid mengakui internal PKS sedang tidak akur. Penyebabnya, diduga PKS di bawah kepemimpinan Sohibul ingin Fahri Hamzah dicopot dari jabatan Wakil Ketua DPR.

Wakil Ketua Sekjen PKS Mardani Ali Sera mengatakan, protes dari internal PKS kepada Fahri muncul lantaran wakil rakyat dari daerah pemilihan Nusa Tenggara Barat itu terlalu memihak Setya Novanto (saat Ketua DPR) terkait kasus dugaan meminta saham ke PT Freeport Indonesia.

Hidayat yang saat ini menjabat Wakil Ketua MPR berharap masalah Fahri dengan Sohibul Cs bisa diselesaikan melalui mekanisme internal. “Kita bicarakan baik-baik dulu di internal,” ujar dia.

Fahri sering mencurahkan isi hatinya soal masalah ini di media sosial. Minggu 10 Januari, Fahri menulis di akun Twitter pribadinya bahwa ia tidak keberatan bila ada yang menginginkan jabatan Wakil Ketua DPR. “Tapi, karena ini jabatan publik ada caranya,” cuit Fahri.

Semalam, Badan Penegak Disiplin Organisasi PKS memeriksa Fahri. Usai pemeriksaan, Fahri melaporkan Mardani dan Ketua DPP PKS bidang politik Al Muzamil Yusuf ke BPDO. Ia menuding Mardani dan Al Muzamil biang masalah.

Pada 2012, permasalah di PKS juga sempat jadi perhatian khalayak. Salah satu pendiri Partai Keadilan (nama PKS sebelumnya) Yusuf Supendi melaporkan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq ke Mabes Polri.

Yusuf, yang saat itu sudah sebagai kader Partai Hanura, mengaku dituduh menjatuhkan PKS. Yusuf menilai partai yang ia dirikan terpuruk karena permasalahan internal. Menurut dia, badai PKS merupakan masalah yang dibuat oleh kader. (metrotv/adj)

Komentar Mustanir.com

Visi politik oportunis dan pragmatis yang melanda perpolitikan di Indonesia, yang telah mengkristal ke dalam visi para politisi di Indonesia adalah tersebab banyaknya perpecahan ditengah partai politik yang bisa kita lihat dewasa ini. Visi politik oportunis dan pragmatis ini tidak bisa dipungkiri lahir dari rahim politik demokrasi.
 
Dapat diprediksi ke depannya bahwa wajah perpolitikan Indonesia tidak akan banyak berubah jika masih mengharapkan demokrasi sebagai sebuah ide politik. Kerusakan konsep kedaulatan rakyat dapat ditelaah secara normatif dan juga secara kontekstual. Secara normatif, dalam kacamata Islam, jelas konsep kedaulatan rakyat adalah tidak sesuai dengan pandangan Islam, yakni agama mayoritas di Indonesia. kedua secara kontekstual, konsep kedaulatan rakyat tidak dapat membawa manusia ke dalam kesejahteraan. Bukan hanya di Indonesia, bahkan di negara asal demokrasi modern yakni Amerika, demokrasi gagal membawa kesejahteraan. Ingin Indonesia berubah? Jangan tempuh jalan demokrasi.

Categories