Gelap Gulita Kashmir: Tak Ada Suka Cita di Hari Idul Adha

Gelap Gulita Kashmir: Tak Ada Suka Cita di Hari Idul Adha

Mustanir.com – Beberapa bulan terakhir, Kashmir telah berada di bawah pengepungan. Jam malam yang ketat terus menerus diberlakukan, diiringi tindakan represif terhadap aksi unjuk rasa yang berlangsung. Krisis kemanusiaan pun terjadi, menjadikan musim panas berdarah di tahun ini.

Muhammad Faysal, seorang aktivis Kashmir yang juga seorang Blogger mengungkapkan fakta-fakta langsung dari tempat kejadian. Apa yang ditulisnya ini mungkin jarang ditemui dalam pemberitaan di berbagai media yang hanya mengulas di permukaan. Dalam hal ini, Faysal akan menunjukkan dengan detail sebagian kondisi yang dialami warga Kashmir saat perayaan Idul Adha lalu.

Lebih dari 86 orang telah tewas sejak aksi unjuk rasa dimulai pada bulan Juli, sebagian besar yang tewas masih berada di usia remaja. Karena jam malam, kebutuhan pokok seperti susu, makanan bayi dan lainnya terganggu.

“Dua minggu lalu pada saat perayaan Idul Adha, seorang siswa bernama Nasir Qazi (11 th) ditembak dengan 400 butir peluru karet hingga tewas. Mayatnya dibuang di sebuah hutan dengan batu-batu yang menutupi tubuh kurusnya,” ujar Faishal.

“Selain Nasir, Mustafa Mir juga ditembak mati di distrik Bandipora setelah shalat Idul Adha di dekat Eidgah. Doa pemakamannya berada di tempat yang sama saat ia melaksanakan shalat Ied,” imbuhnya.

Tak seperti perayaan Idul Adha di tempat-tempat lain yang penuh kemeriahan, Idul Adha di Kashmir tahun ini diliputi aura kesedihan. Masjid Hazratbal ditutup untuk shalat Idul Adha untuk pertama kalinya dalam 26 tahun. Masjid Jami berusia 700 tahun itu diblokir sejak Juli lalu, tidak boleh mendirikan shalat di dalamnya. Kepala ulama Kashmir dan kepala pro kemerdekaan, Dr. Mirwaiz Umar Farooq telah dipenjara sejak beberapa pekan lalu.

“Jalan-jalan tampak sepi. Anak-anak yang biasanya ramai di pasar ditahan di dalam rumah, tidak boleh keluar karena bahaya senantiasa mengancam. Tidak ada petasan, tidak pasar yang ramai dengan orang-orang yang berbelanja. Bahkan senyum pun menjadi sesuatu yang langka,” ungkapnya.

“Sejak pusat-pusat bisnis ditutup, banyak orang yang tidak mampu membeli hewan kurban. Para penjual domba harus pulang dengan tangan kosong dengan membawa hewan-hewan mereka,” sambungnya.

Pada Idul Adha tahun ini, Faysal mencoba berkeliling di lingkungan sekitar. Jalan gelap tanpa lampu, tidak banyak orang yang keluar. Saat ia bertanya kepada sepupunya, Zaid yang berusia 13 tahun tentang perasaan yang dirasakan pada Idul Adha tahun ini. Zaid pun menjawab, “Saya seperti tidak merasakan Idul Adha.

Konflik ini ia katakan seperti membunuh masa kecil anak-anak. Mereka tak lagi mengkhawatirkan cidera yang akan dialami saat bermain bola, melainkan hilangnya penglihatan karena lontaran peluru-peluru karet.

“Sekitar 250 orang kehilangan penglihatan karena terkena tembakan di mata. Di antara mereka ada seorang gadis berusia 14 tahun bernama Insha, yang ditembak saat dia berada di dalam rumahnya,” katanya. (kiblatnet/adj)

Komentar Mustanir.com

Kita berdoa semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk dapat memberikan pertolongan kepada kaum muslimin di Kashmir. Setidaknya saat ini doa adalah yang bisa dilakukan. Selain doa, ada juga sebuah upaya yang dapat kita lakukan, yakni bergerak untuk menjadikan kaum muslimin segera memiliki seorang Khalifah, diatas pundaknya-lah urusan kaum muslimin Kashmir, Palestina, Suriah dan tempat lainnya akan diselesaikan. Insya Allah.

Categories