Parpol Saling Berebut Suara Milenial dan Gen Z

MUSTANIR.net – Sebagaimana diberitakan, sejumlah selebritas kondang tercatat maju sebagai caleg pada pemilihan legislatif 2024. Di sisi lain, generasi muda yang terdiri dari generasi Z (usia 17-24) dan milenial (usia 25-39) akan menjadi pemilih mayoritas pada Pemilu 2024. Tidak heran, keberadaan generasi muda ini sangat dilirik partai politik, yaitu untuk menarik suara mereka dengan menggaet nama-nama popularitas yang dikenal anak muda.

Sangat Mengkhawatirkan

Merespons kondisi tersebut, pengamat politik Endiyah Puji Tristanti kepada MNews, Jumat (16-6-2023) menegaskan, ini sangat mengkhawatirkan.

“Ini mengonfirmasi bahwa generasi muda didorong untuk melek politik, memperoleh pendidikan politik bukan untuk menjadi subjek politik, tetapi hanya sebagai objek politik praktis yang pragmatis. Ini sangat mengkhawatirkan. Ada pamrih, ada ketidaktulusan dari parpol-parpol, pada saat mendekati generasi muda,” ujarnya.

Menurutnya, ini tampak dari semua parpol kontestan pemilu yang secara terang-terangan sedang berebut dukungan milenial dan gen Z untuk kepentingan elektoral alias mendulang suara.

“[Terlebih lagi], realitasnya di negeri ini tidak ada partai yang merepresentasikan diri sebagai partai politik Islam atau berasas Islam. Ada banyak parpol berbasis massa kalangan muslim yang selanjutnya dikenal dengan partai Islam, tetapi mereka tidak beraktivitas untuk Islam. Semua parpol menjadi partai terbuka, kehilangan idealisme, tidak berpegang pada Islam,” ucapnya.

Ia menyatakan, kalau diperhatikan, sejak awal parpol itu berdiri, memang tidak didesain melakukan amar makruf dan nahi munkar kepada penguasa yang tidak menerapkan syariat islam kafah.

“Dengan ungkapan lain, yang ada adalah parpol sekuler yang semuanya mengemban demokrasi. Padahal secara faktual, demokrasi tidak akan pernah memberi ruang pada Islam mengatur kekuasaan. Demokrasi juga ada hanya untuk menjaga kepentingan oligarki. Ini sudah jamak diketahui masyarakat,” ujarnya.

Mesti Kritis

Jadi, tegasnya, generasi muda Islam perlu paham realitas dan mesti kritis. “Agar apa? Tentu agar hak politik milenial dan gen Z tidak terbuang sia-sia, apalagi menjadi sarana mengukuhkan oligarki,” cetusnya.

Ia mengulas, pelibatan pemuda dalam proses politik demokrasi elektoral lebih tepat dibaca sebagai eksploitasi dan pembajakan potensi generasi oleh oligarki. “Disebut eksploitasi karena demokrasi itu sistem yang mahal, maka belakangan parpol dan pasangan capres membutuhkan banyak oligarki untuk menopang,” jelasnya.

Kemudian, lanjutnya, disebut pembajakan karena potensi pemuda muslim sebagai agen perubahan seharusnya mengarah pada fokus agenda utama umat, yakni melakukan amal perubahan.

“Namanya agen perubahan ya semestinya beramal untuk perubahan sistem. Bukan agen perubahan jika justru mempertahankan sistem batil dan fasad yang sudah terbukti gagal menyejahterakan dan mewujudkan keadilan,” urainya.

Lebih dari itu, ia memandang, pelibatan media dan terjunnya banyak artis ke banyak parpol adalah hal bagus untuk menjadi penguat fakta bahwa politik dan pendidikan politik yang diberikan parpol itulah wujud pragmatisme politik.

“Parpol yang ada, tidak mampu menghadirkan konsep politik hakiki dan konsep politik sehat di hadapan generasi muda. Siapa yang pragmatis, padanya akan kehilangan daya kritis. Siapa yang tidak ideologis, padanya akan gagal melahirkan solusi fundamental,” tukasnya.

Ia menyayangkan, alih-alih mendidik generasi muda untuk mengkritisi kebijakan politik rezim, parpol justru larut dalam kepentingan rezim, sibuk menentukan koalisi berhitung prosentase pembagian kue kekuasaan.

“Pada akhirnya, semua rakyat termasuk milenial dan gen Z gigit jari, hanya melihat dari kejauhan bagaimana kesejahteraan telah diwakili oleh wakil rakyat mereka,” sindirnya.

Parpol Islam Hakiki

Untuk itu, ia menyatakan, kondisi ini harus disolusi. “Solusinya, generasi muda butuh partai politik Islam yang hakiki. Parpol Islam yang berjuang di tengah umat tanpa pamrih. Yang tulus membimbing generasi muda memahami ideologi sahih, memberikan pendidikan politik Islam yang mencerdaskan, menstimulasi daya kritis generasi, dan membangun militansi para agen perubahan,” ungkapnya.

Ia memaparkan, ada tiga ciri menonjol dari parpol Islam hakiki tersebut. “Pertama, memiliki fikrah atau konsepsi yang jelas dan murni dari Islam. Ke dua, memiliki metode yang telah teruji mampu untuk mewujudkan semua konsepsinya. Ke tiga, anggota dan aktivis parpol berkumpul karena panggilan ideologi Islam, bukan disatukan kepentingan atau maslahat sesaat,” jelasnya. []

Sumber: Muslimah News

About Author

Categories