Generasi Muda Arab Lebih Khawatir Pengangguran Ketimbang ISIS

bursa-kerja-saudi-arab

Generasi Muda Arab Lebih Khawatir Pengangguran Ketimbang ISIS

Ketidakpastian atas prospek pekerjaan di Timur Tengah mendorong dua-perlima dari Arab berusia 18-24, untuk mendirikan bisnis mereka sendiri dalam lima tahun ke depan.

Seperti dikutip dari Arabian Business, survey tahunan ASDA’A Burson-Marsteller Arab Youth Survey edisi ke-7, yang diterbitkan pada hari Selasa, menunjukkan bahwa 81 persen dari responden prihatin tentang pengangguran.

Terlebih lagi, 29 persen dari responden, pengangguran adalah kendala terbesar kedua di Timur Tengah setelah munculnya ISIS (37 persen) dan terorisme (32 persen).

“Munculnya ISIS telah mengguncang struktur sosial di wilayah tersebut dan memberikan kontribusi tahun transisi yang luar biasa bagi generasi muda di Timur Tengah,” kata Sunil John, Chief Executive dari ASDA’A Burson-Marsteller, dalam sebuah konferensi pers pekan ini.

Temuan tersebut senada dengan komentar yang dibuat oleh Ketua National Bank of Oman, Mohammed Mahfoodh Al Ardhi, dalam sebuah wawancara dengan Arabian Business beberapa waktu lalu, Ketika ditanya alasan Oman tidak mengambil peran yang lebih sentral bersama UEA, Bahrain dan Arab Saudi dalam serangan udara terhadap gerilyawan ISIS di Suriah dan Irak.

“Saya pikir Oman merasa ISIS adalah ancaman tapi saya pribadi berpikir ancaman terbesar kami di dalam negeri, yakni memberikan pekerjaan untuk anak-anak kita, mendidik mereka untuk masa depan dan diversifikasi ekonomi kita. Dalam 80 tahun ketika minyak habis dan menjadi mahal, apa yang akan kita berikan untuk generasi muda kita?”

ASDA’A Burson-Marsteller bersama perusahaan jajak pendapat internasional Penn Schoen Berland, melakukan wawancara tatap muka dengan 3.500 pria dan wanita Arab berusia 18-24 tahun di wilayah Teluk (GCC), Irak, Mesir, Yordania, Lebanon, Libya, Palestina, Tunisia, Maroko, Aljazair dan Yaman.

Survei mengungkapkan bahwa pengangguran merupakan masalah yang lebih besar bagi 84 persen generasi muda Arab di negara-negara non-GCC, dibandingkan dengan 73 persen di GCC.

Generasi muda Arab di negara-negara non-GCC juga pesimis pemerintah mereka mampu mengatasi masalah ini. Sebanyak 61 persen mengatakan mereka tidak percaya diri dibandingkan dengan 29 persen di negara-negara GCC.

Sekitar 39 persen pemuda Arab ingin memulai bisnis dalam lima tahun ke depan. Penelitian menunjukkan teknologi dan ritel disebut sebagai sektor yang paling populer.

Responden menyerukan pemerintah untuk mendorong pinjaman lebih terjangkau, meningkatkan pendidikan dan pelatihan, dan mengurangi regulasi dan birokrasi untuk membuatnya lebih mudah bagi mereka untuk memulai usaha.

Jeremy Galbraith, Chief Executive ASDA’A Burson-Marsteller untuk Eropa, Timur Tengah dan Afrika, mengatakan banyak responden kecewa dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan peluang kerja untuk generasi muda Arab.

Terkait dengan ini muncul dorongan untuk mengganti ekspatriat dengan pekerja pribumi, tambahnya.

Sunil John menambahkan secara khusus, sektor pemerintahan telah jenuh sehingga ada kesempatan bagi sektor swasta untuk meningkatkan dan mengisi kesenjangan.

Dia mengatakan pemerintah banyak mengumbar janji menyediakan dukungan bagi UKM dan penciptaan lapangan kerja. Hal itu membuat pengusaha muda Arab semakin kecewa. (merdeka/adj)

Di Arab Saudi, 650 Ribu Orang Menganggur

Angka penganggur di negara superkaya Arab Saudi mencapai 650 ribu orang. Jumlah tersebut meliputi 258 ribu laki-laki dan 392 ribu perempuan. Namun demikian, melalui pernyataan yang disampaikan pada Ahad, 15 Februari 2015, Kerajaan Arab Saudi mengklaim telah berhasil menurunkan angka tersebut hingga 11,7 persen lewat program nasional Nitaqat.

Menurut Departemen Statistik dan Informasi Arab Saudi, angka penganggur yang selama ini ditulis media massa adalah tidak benar. “Angka tersebut tidak mewakili jumlah penganggur di Arab Saudi.”

Sebelumnya beredar laporan yang menyebutkan angka penganggur di kalangan perempuan Saudi pada 2013 mencapai 34 persen, sedangkan di lingkungan lelaki 6,2 persen. “Angka di lingkungan lelaki berkurang karena tenaga ahli di kalangan mereka meningkat.”

Untuk mengatasi pengangguran, Kementerian Perburuhan Arab Saudi melalui program Nitaqat sejak 20 April 2014 menerapkan tiga aksi bagi warga Saudi. Para penganggur disebarkan ke berbagai sektor swasta. Tidak dijelaskan secara detail apa saja tiga aksi dalam program tersebut

Hingga akhir 2015, program Nitaqat diperkirakan dapat menyediakan lapangan kerja bagi 750 ribu warga Saudi. Hal ini menunjukkan bahwa ada peningkatan hingga 15,6 persen sepanjang 2015.

Pencapaian tersebut dibantah oleh para penggiat blog di Saudi. Mereka mengatakan angka penganggur di kalangan pria dan wanita Arab Saudi jauh lebih besar daripada data yang disampaikan Kerajaan kepada publik. “Jumlah total angka penganggur di Saudi lebih dari satu juta orang,” ucap salah seorang narablog. Bahkan narablog lain menyebut angka enam juta orang.

Sementara itu, blogger yang tak bersedia disebutkan identitasnya menerangkan bahwa angka penganggur di Saudi mencapai 1,5 juta jiwa, terdiri atas lelaki dan perempuan. Dia meragukan angka yang dikeluarkan Departemen Statistik. “Saya rasa kaum penganggur di desa-desa terpencil tidak dihitung oleh Departemen,” katanya.

Pada masa raja Abdullah, pengangguran di Saudi Arabia di gaji sebesar 4,8 juta per bulan. Entah bagaimana kebijakan selanjutnya masa raja Salman.(tempo/adj)

Categories