Hijrah Sejati adalah Meninggalkan Demokrasi Menuju Sistem Islam

MUSTANIR.net – 1 Muharam 1446 H tiba. Hari yang menandai tahun baru Islam, tahun baru hijrah. Tahun baru ini diambil dari peristiwa hijrah/pindah Rasulullah ﷺ bersama sahabat dari Makkah menuju Madinah, 1445 tahun lalu.

Saat itu Rasulullah dan para sahabat pindah secara fisik dan maknawi. Secara fisik, Rasululah berpindah tempat mukim dari Makkah ke Madinah. Secara maknawi, Rasulullah berpindah meninggalkan sistem jahil Makkah, menuju penegakan sistem Islam di Madinah, dipimpin langsung oleh Rasulullah ﷺ sebagai penguasanya.

Peristiwa hijrah Rasululah diawali dengan proses penyerahan kekuasaan Madinah oleh suku Aus dan Kajraz kepada Rasulullah, melalui akad baiat Aqabah ke dua. Dalam akad baiat ini, perwakilan penduduk Madinah menyatakan beriman kepada Rasulullah, dan akan mentaati Rasulullah sebagai pemimpin (penguasa), untuk menegakkan hukum Allah subḥānahu wa taʿālā.

Dari peristiwa ini dapat diambil kesimpulan bahwa akad baiat adalah akad penyerahan kekuasaan dari rakyat melalui perwakilannya kepada pemimpin, untuk didengar dan ditaati, dalam rangka menerapkan kitabullah dan sunnah Rasulullah.

Hari ini hijrah sejati bukan saja pindah fisik, bukan pula pindah gaya hidup. Hijrah hakiki bukan sekadar meninggalkan judi, zina, miras, riba. Hijrah hakiki bukan sekadar menjalankan sholat, membaca al-Qur’an dan menutup aurat.

Hijrah hakiki adalah pindah meninggalkan sistem jahil demokrasi, menuju sistem Islam khilafah. Caranya adalah dengan menegakkan sistem khilafah melalui metode dakwah yang mencontoh perjuangan Rasulullah ﷺ saat di Makkah. Hingga Rasulullah hijrah dan mendapatkan kekuasaan di Madinah, lalu dengan kekuasaan itu, Rasululah ﷺ menegakkan hukum Allah subḥānahu wa taʿālā.

Dakwah era now tidak perlu pindah fisik. Tetapi berupaya menyadarkan umat untuk meninggalkan demokrasi dan kembali kepada Islam dengan menegakkan sistem khilafah. Saat khilafah tegak, barulah umat Islam benar-benar telah hijrah, meninggalkan sistem kufur demokrasi, kembali kepada sistem Islam dalam naungan daulah khilafah.

Caranya adalah dengan meneladani Rasulullah ﷺ, melalui sejumlah tahapan/marhalah dakwah, yaitu:

• Pertama: marhalah at-tatsqif (tahap pembinaan dan pengaderan). Aktivitas ini dimulai sejak Rasulullah ﷺ diutus sebagai rasul sesuai melayani Allah dalam QS al-Muddatsir [74]: 1-2 secara sirriyah (sembunyi).

Dimulai dari istrinya Khadijah raḍiyatullāhu ‘anha, sepupunya Ali bin Abi Thalib raḍiyallāhu ‘anhu, mantan budaknya Zaid dan sahabatnya Abu Bakar ash-Shiddiq raḍiyallāhu ‘anhu. Rasulullah membina mereka dengan pemahaman Islam yang kuat sehingga menghasilkan individu yang bersyakhsiyyah Islamiyyah dan siap mengemban dakwah.

• Ke dua: marhalah tafaul maa al-ummah (tahap interaksi dengan umat), Rasulullah ﷺ dan bagi sahabat yang telah digembleng, memulai dakwah secara terang-terangan sesuai firman Allah subḥānahu wa taʿālā dalam QS al-Hajr [15]: 94.

Pada tahapan ini dilakukan ash-shira al-fikri (pergolakan pemikiran) dan al-kifah as-siyasiyah (perjuangan politik). Dakwah dilakukan dengan melakukan benturan-benturan Islam dengan selain Islam berupa pemahaman (mafahim), tolok ukur (maqayis), maupun keyakinan (qanaat).

• Ke tiga: istilam al-hukmi (tahap penerimaan kekuasaan). Meski telah memasuki tahapan ini, tahapan pertama dan ke dua tetap dilakukan. Tahap ini diawali dengan aktivitas thalab an-nushrah terhadap ahlul quwwah.

Rasulullah ﷺ mendatangi kabilah-kabilah Arab untuk mendekatkan diri pada Islam, menawarkan dirinya untuk dilindungi dalam menegakkan Islam serta diberi kekuasaan penuh untuk menerapkannya pada umat Islam.

Thalab an-nushrah merupakan wahyu dari Allah subḥānahu wa taʿālā yang sifatnya wajib. Akhirnya, nushrah diberikan dari suku Aus dan Khazraj yang dikenal dengan kaum Anshar.

Jadi, tiga tahapan ini yang harus dilakukan. Bukan sibuk masuk lubang demokrasi, dibohongi oleh rezim dengan janji palsu pemilu dan pilkada. []

Sumber: AK Channel

About Author

Categories