Board of Peace Buatan Donald Trump Tidak Sama dengan Perjanjian Hudaibiyyah dari Rasulullah

MUSTANIR.net – Board of Peace (BOP) yang dibuat oleh Donald Trump terus menimbulkan kontroversi, bukan hanya dalam klausul perjanjiannya, tetapi juga pada respons ulama yang mendukungnya di negeri ini. Termasuk yang dilakukan oleh beberapa ormas yang diundang Prabowo ke istana.

Selepas pertemuan dengan Prabowo, Prof. Nasaruddin Umar memberi komentar bahwa perjanjian damai dengan Israel mengingatkan dirinya dengan Perjanjian Hudaibiyyah.

Menurut catatan penulis, perbandingan BOP dangan Perjanjian Hudaibiyyah tidak apple to apple karena beberapa hal:

• Pertama, Perjanjian Hudaibiyyah terjadi antara Rasulullah sebagai pemimpin negara Islam di Madinah, sementara BOP terjadi antara AS dan negara-negara satelitnya. Dan pada saat yang sama, Palestina sebagai wilayah yang akan direkonstruksi pasca perang tidak diajak di dalam perundingan.

• Ke dua, berdasarkan sunnah Rasulullah, perjanjian dengan orang orang kafir untuk bertetangga baik itu harus temporer bukan permanen, dan perjanjian Hudaibiyyah berdurasi sepuluh tahun untuk tidak saling menyerang di antara negara sekutu daulah Islam Madinah dengan negara sekutu Quraisy.

Sementara BOP tidak ada batas waktu hingga kapan perjanjian damai ini berlangsung, bahkan AS sejak awal menetapkan bahwa Donald Trump akan menjadi ketua Dewan Perdamaian itu selamanya, tanpa batas waktu.

Selain itu, belum genap sebulan BOP itu ditandatangani, Israel sudah kembali memborbardir pemukiman Palestina hingga menewaskan 64 orang.

• Ke tiga, landasan Perjanjian Hudaibiyyah adalah hukum syara’ yang dikeluarkan oleh Rasulullah. Sementara, BOP landasannya adalah sekularisme-kapitalisme yang bertujuan untuk menjadikan Gaza sebagai pusat ekonomi dan properti. Untuk itu, mereka akan memindahkan seluruh warga Gaza ke negara penampung, seperti Mesir, Indonesia, atau Yordania.

Walhasil, menyamakan BOP dengan Perjanjian Hudaibiyyah adalah bentuk penyesatan politik untuk meraih dukungan umat Islam.

Selain itu, dukungan ulama terhadap BOP adalah bentuk pengkhianatan terhadap ilmu yang dimilikinya, ketika syariat Islam mengatakan bahwa balasan bagi orang-orang yang menyerang adalah serangan yang setimpal:

فمن اعتدى عليكم فاعتدوا عليه بمثل ما اعتدي عليكم

“Barang siapa yang menyerang kalian, maka seranglah dia sepadan dengan apa yang mereka serang kepada kalian.”

Sesungguhnya, dukungan ulama atas kemaksiatan dan kezaliman adalah kerusakan bagi umat ini. Seolah olah hal itu adalah benar. Kata Imam Syafi’i

فساد كبير عالم متهتك

“Kerusakan yang besar ketika orang alim itu fasik.”

Umat akan mengikuti pendapatnya seolah yang diikuti adalah kebenaran, padahal kesesatan pikiran. Benarlah apa yang disampaikan Rasulullah:

صنفان من الناس إذا صلحا صلح الناس وإذا فسدا فسد الناس: العلماء والأمراء

“Dua kelompok manusia apabila keduanya baik maka baiklah manusia, dan apabila keduanya rusak, maka rusaklah manusia.”

Alangkah naifnya ulama seperti itu. Tidakkah mereka membaca kalam Imam Syafi’i?

من استغضب فلم يغضب فهو حمار

“Barang siapa dibuat marah, sementara dia tidak marah, maka dia adalah keledai.”

Tidakkah mereka marah saat saudara Muslim kita di Palestina dibom rumahnya, dibunuh penduduknya, disiksa pejuangnya, ditembak anak-anaknya, dan dirampas rumahnya? Bukankah sesama Muslim adalah saudara? Atau jangan-jangan mereka telah berubah menjadi keledai berbentuk manusia?

Wallahu a’lam bi shawab. []

Sumber: Muhammad Ayyubi (Direktur Mufakkirun Siyasiyyun Community)

About Author

Categories