Hukuman Mati Di Indonesia dan Dalam Pandangan Islam

eksekusi-mati

Hukuman Mati Di Indonesia dan Dalam Pandangan Islam

Eksekusi Terpidana Mati Telah Dilakukan

Mustanir.com – Sebanyak delapan terpidana mati kasus narkoba telah diekskusi di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Rabu dini hari (29/04).

Regu tembak mengeksekusi terpidana asal Australia, Nigeria, Brasil, dan Indonesia setelah notifikasi pelaksanaan hukuman mati dikeluarkan pada akhir pekan. Sementara, terpidana asal Filipina masih ditunda.

Ini adalah eksekusi putaran kedua setelah Januari lalu dilakukan eksekusi atas enam orang, dalam kasus yang sama.

Para terpidana mengajukan berbagai langkah hukum, termasuk menggugat keputusan Presiden Joko Widodo yang menolak memberikan pengampunan.

Pemerintah Australia, yang sejak awal meminta pembatalan eksekusi hukuman mati, memperingatkan akan ada konsekuensi dari eksekusi ini.

Jaksa Agung HM Prasetyo mengatakan pemerintah Indonesia tidak ingin membuka sengketa dengan negara lain, eksekusi ini semata-mata untuk mencegah orang-orang menyelundupkan atau memperdagangkan narkoba.

Menjelang eksekusi, terjadi perkembangan dramatis yang membuat terpidana asal Filipina, Mary Jane Veloso, tidak termasuk yang dieksekusi.

Penundaan eksekusi Mary Jane Veloso adalah atas permintaan pemerintah Filipina, menyusul perkembangan bahwa seseorang menyerahkan diri di negara tersebut dan mengklaim Mary Jane Veloso hanya sebagai kurir narkoba.

Pemerintah Indonesia menganggap perlu bagi Mary Jane Veloso untuk memberikan kesaksian dalam persidangan di Filipina. (kiblatnet/adj)

Syariat Islam Memandang Hukuman Mati

Pemerintah Indonesia Rabu dini hari (29/04/2015) kembali mengeksekusi gembong narkoba di lembaga pemasyarakatan Nusakambangan. Setidaknya delapan terpidana mati kasus narkoba dieksekusi pada tengah malam itu. Pro kontra hukuman ini masih bergulir, khususnya di kalangan aktivis kemanusiaan. Namun, bagaimana syariat Islam memandang hukuman ini. Berikut Kiblat.net sajikan tulisan Dr. Ahmad Zain An-Najah, pakar syariat Islam, berjudul “Hukuman Mati Bagi Produsen dan Pengedar Narkoba”:

Akhir-akhir ini ramai dibicarakan di kalangan masyarakat tentang hukuman mati bagi para produsen, bandar dan pengedar narkoba, apakah hal tersebut sesuai dengan ajaran Islam? Apakah ada alternatif lain, selain hukuman mati. Tulisan di bawah ini menjelaskannya:

Para ulama membedakan antara hukuman kepada pengedar dan hukuman kepada pengguna narkoba;

Pertama: Hukuman Bagi Pengguna Narkoba

Orang yang mengonsumsi narkoba disamakan dengan para peminum khomr, maka hukumannya adalah ta’zir, yaitu hukuman yang belum ditetapkan batasannya oleh syariat dan diserahkan kepada pemerintah setempat dengan mengacu kepada maslahat. Ta’zir ini bisa berupa penjara, cambuk, sampai hukuman mati, tergantung pada kasus yang menimpanya dan dampak kerusakan yang ditimbulkan.

Kedua: Hukuman Bagi Produsen dan Pengedar Narkoba

Para ulama menyatakan bahwa hukuman bagi para produsen dan pengedar narkoba yang menyebabkan kerusakan besar bagi agama, bangsa dan negara, khususnya generasi muda yang menjadi tulang punggung generasi adalah hukuman mati. Hal itu berdasarkan dalil-dalil berikut:

Pertama: Firman Allah yang artinya,“ Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikianitu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.“ (Qs. Al-Maidah: 33)

Ayat di atas menunjukkan, yang memerangi Allah dan Rasul-Nya serta membuat kerusakan di muka bumi salah satu hukumannya adalah dibunuh. Memproduksi dan mengedarkan narkoba serta menyelendupkannya di suatu negara akan membuat kerusakan yang sangat besar terhadap generasi bangsa tersebut. Perbuatan seperti ini merupakan salah satu bentuk memerangi ajaran Allah dan Rasul-Nya, maka hukumannya adalah dibunuh berdasarkan ayat di atas.

Kedua: Hadist ‘Urainiyin yang datang ke kota Madinah, Hal itu sebagaimana diceritakan sahabat Anas bin Malik, “Beberapa orang dari ‘Ukl atau ‘Urainah datang ke Madinah, namun mereka tidak tahan dengan iklim Madinah hingga mereka pun sakit. Beliau lalu memerintahkan mereka untuk mendatangi unta dan meminum air kencing dan susunya. Maka mereka pun berangkat menuju kandang unta (zakat), ketika telah sembuh, mereka membunuh pengembala unta Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan membawa unta-untanya. Kemudian berita itu pun sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelang siang. Maka beliau mengutus rombongan untuk mengikuti jejak mereka, ketika matahari telah tinggi, utusan beliau datang dengan membawa mereka. Beliau lalu memerintahkan agar mereka dihukum, maka tangan dan kaki mereka dipotong, mata mereka dicongkel, lalu mereka dibuang ke pada pasir yang panas. Mereka minta minum namun tidak diberi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist di atas menunjukkan bahwa rombongan yang datang ke kota Madinah membuat kerusakan di muka bumi dengan membunuh dan merampok. Maka, hukuman baginya dipotong kaki dan tangan serta dicongkel mata mereka. Tidak hanya itu, mereka dibuang di padang pasir, yang pada akhirnya mereka akan mati. Produsen dan pengedar narkoba termasuk yang membuat kerusakan, maka hukumannya adalah dibunuh jika dampak kerusakannya sangat besar.

Ketiga: Hadist Dulaim al-Himyari radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya ia berkata:“Suatu ketika saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, saya berkata : “ Wahai Rasulullah, kami berada di suatu tempat yang cuacanya sangat dingin mengerjakan suatu pekerjaan berat, kamipun membuat minuman dari gandum ini, untuk menguatkan kita dalam bekerja, dan untuk melawan cuaca dingin di daerah kami.” Beliau bertanya : “Apakah minuman tersebut memabukkan ?” Saya jawab : Iya. Beliau berkata : “Jauhi minuman tersebut.” Saya berkata : kemudian saya datang lagi dan bertanya seperti itu lagi, maka beliau bertanya : “Apakah minuman tersebut memabukkan ?” Saya jawab : Iya. Beliau berkata : “Jauhi minuman tersebut.” Saya jawab :“Masyarakat tidak mau meninggalkannya. “ Beliau bersabda :“Jika mereka tidak mau meninggalkannya, maka bunuhlah mereka. “ (HR. Ahmad, 18035. Berkata Syu’ib al-Arnauth: Hadist Shahih )

Hadist di atas menunjukkan bahwa peminum khomr yang tidak jera boleh dibunuh, apalagi produsen dan pengedarnya.

Keempat: Hadist Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu tentang laknat Allah kepada pembuat, pengedar dan peminum khomr, “Allah melaknat khomr, peminumnya, penuangnya, penjualnya, pembelinya, produsennya, pemesannya, pengedarnya, dan penadahnya. “ (HR. Abu Daud, no: 3676, Ibnu Majah, 3380)

Segala sesuatu yang dilaknat oleh Allah jika hal itu sangat membahayakan bagi kehidupan manusia, maka harus dihilangkan walaupun kadang harus menghilangkan nyawa pelakunya.

Kelima: Islam memerintahkan kepada umatnya menjaga lima hal pokok kehidupan manusia, yaitu agama, jiwa, akal, kehormatan dan harta. Pengedar narkoba menghancurkan lima sendi pokok tersebut; menghancurkan agama, karena narkoba telah menjauhkan seseorang dari ajaran agama; menghancurkan jiwa, karena banyak korban jiwa akibat mengonsumsi narkoba; menghancurkan akal, karena banyak orang yang rusak otak dan akalnya setelah mengonsumsi narkoba; menghancurkan harta, karena sudah terlalu banyak harta yang terkuras dan dihambur-hamburkan hanya sekedar memburu dan membeli barang haram tersebut.

Keenam: Keputusan Majlis Dewan Ulama Senior Saudi Arabia no: 138 pada sidang ke -29 di kota Riyadh tanggal 9/6/ 1407 H – 20/6/1407 H, yang di antara isinya adalah sebagai berikut:

“Adapun bagi yang menyelundupkan narkoba, maka hukumannya adalah dibunuh, karena penyelendupan narkoba dan memasukkannya ke negara-negara akan menyebabkan kerusakan yang besar, ini tidak hanya menimpa penyelundup itu sendiri, tetapi juga akan menimpakan kepada umat secara keseluruhan musibah yang sangat berbahaya. Hukuman ini juga berlaku bagi pelaku yang mengimpor atau menadah narkoba dari luar negri yang darinya akan dipasarkan ( kepada masyarakat ). “

Ketujuh: Fatwa Majlis Ulama Indonesia, yang ditetapkan pada tanggal 12 Desember 2014 melalui rapat pleno Komisi Fatwa, yang berisikan menjatuhkan hukuman ta’zir sampai hukuman mati kepada produsen, bandar, dan pengedar narkoba sesuai dengan kadar narkoba yang dimiliki atau diproduksi atau telah beberapa kali terbukti menyalahgunakan narkoba demi kepentingan kemashalatan yang lebih besar.

Kedelapan: Pendapat para ulama, antara lain Syekh al-Islam Ibnu Taimiyah dan Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam al­Fiqh al­Islami wa Adillatuhu ( 7/ 5595), disebutkan bahwa orang yang kejahatannya di muka bumi tidak dapat dihentikan kecuali dengan dibunuh, maka ia boleh dibunuh.

Kesembilan: Beberapa Negara juga telah menerapkan hukuman mati bagi para pengedar Narkoba, diantaranya adalah Indonesia, Singapura¸ Malaysia, Vietnam, Iran, Saudi Arabia dan Cina. Hal ini menunjukkan bahwa pengedar narkoba telah meresahkan dan merusak masyarakat dunia, oleh karena itu mereka menetapkan hukuman mati bagi pengedar narkoba. Ini semua untuk menjaga jiwa dan akal manusia.

Kesepuluh: Indonesia dalam kondisi darurat narkoba, karena terdapat 5 juta pemakai narkoba, dan 2 juta jiwa di antaranya dalam keadaan parah sehingga tak bisa lagi direhabilitasi. Dan sekitar 40-50 orang tewas setiap harinya, jika dijumlah maka angka kematian akibat narkoba di Indonesia sekitar 14.400-18.000 jiwa. Selain itu, Indonesia adalah Negara ketiga pengguna narkoba terbesar di dunia. Oleh karena itu hukuman mati bagi pengedar narkoba sangat tepat untuk menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran. Wallahu A’lam. (ahmadzain/adj)

Categories