Humanisme: Kemanusiaan yang Tidak Manusiawi

MUSTANIR.netSekarang kita masuk ke dalam persoalan yang jarang dibahas ketika humanisme dibicarakan, yaitu hubungan antara humanisme, dan kolonialisme atas bangsa-bangsa di luar Eropa, seperti Asia, Afrika, India, atau Amerika.

Sejarah kolonialisme seolah mendesak orang Barat untuk mengaku bahwa keagungan dan keluhuran ajaran-ajaran humanis mereka tentang kemanusiaan universal itu tidak diraih begitu saja lewat retorika mimbar yang serba intelektual dan bebas dominasi, melainkan lewat pertumpahan darah dan perampasan kebebasan penduduk tanah-tanah terjajah.

Kenyataan empirisnya tentu sangat kompleks, karena kemanusiaan menjadi berwajah ganda. Di satu sisi penjajahan dianggap bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan, di sisi lain atas nama kemanusiaan juga kombinasi antara pemberadaban dan penjajahan itu terjadi. Dapat dibayangkan bagaimana oposisi biner “beradab” dan “biadab” dimainkan di sini, sehingga hanya kriteria keberadaban bangsa penjajahlah yang menentukan kemanusiaan.

Penjajahan, sebuah pengkhianatan kemanusiaan dari kaum pencetus humanisme. Humanisme, sebarapa universalnya pun klaimnya, dengan demikian tetap berciri eksklusif, jika “kemanusiaan universal” dimaknai hanya oleh satu rezim tafsir yang menyingkirkan tafsir-tafsir lainnya. Keadaannya serupa dengan “Tuhan” dalam agama-agama yang meski dimaknai sebagai “Tuhan semua manusia”, secara praktis kerap diartikan sebagai “Tuhan agama kita” yang berbeda dengan “Tuhan agama mereka”.

Menurut konsep eksklusivistis itu, “manusia” adalah orang Eropa dengan peradaban humanistisnya yang rasional dan bukan mereka yang percaya takhayul di hutan Amazon, orang-orang negro yang dijual sebagai budak, atau penduduk Jawa yang tidak menghasilkan jenius-jenius sekelas Michelangelo, Newton, atau Hegel.

Nazisme dan komunisme adalah suatu humanisme, karena memandang manusia sebagai pusat sejarah, suatu subyek yang dapat mengubah sejarah melalui kebebasannya dan kemampuan-kemampuan kodratinya. Namun ketika manusia dipersempit pada ras atau kelas tertentu, humanisme mereka berubah menjadi teror yang mengalienasi, mengintimidasi, dan mendestruksi manusia konkret dengan kekhasan individual dan keragamannya.

Humanisme berubah menjadi naturalisme ketika kemampuan-kemampuan kodrati manusia dipersempit menjadi mekanisme naluriah untuk survival belaka. Dalam humanisme Kristiani manusia masih memiliki dimensi supranatural, yaitu kepercayaan pada Tuhan dan wahyu-Nya.

Humanisme ateistis menghapus Tuhan demi kebebasan. Kebebasan ini pada akhirnya juga dihapus dalam naturalisme. Itulah sebabnya mengapa modernitas kapitalis berupaya menghabisi ciri-ciri misterius manusia, termasuk iman dan kebebasannya, dengan memperlakukannya sebagai human resource, modal, atau bahkan komoditas yang bisa dipertukarkan dengan uang, sebagaimana terjadi dalam human trafficking.

Di satu pihak “kematian Tuhan” yang oleh Nietzsche dimaklumkan sebagai awal zaman nihilisme membuka peluang bagi manusia untuk bermain sebagai Tuhan. Di lain pihak, karena manusia tidak tahan untuk mengambil alih tempat Tuhan tanpa sesuatu di atasnya, maka ia pun menundukkan diri di bawah hukum-hukum alam yang menyangkal kebebasan manusia, seperti seleksi alam untuk memperoleh ras-ras unggul dan hukum sejarah tentang perjuangan kelas-kelas sosial.

Jika kita ikuti logika sejarah humanisme, kita dapat mengatakan bahwa kematian Tuhan yang dicanangkan oleh para ateis disusul dengan kematian manusia sendiri di dalam suatu rezim politis buatan tangan manusia.

Kita sedang menapaki suatu era yang menyangsikan gagasan besar tentang manusia. Kita memang menikmati hasil-hasil positif gerakan humanisme, seperti hak-hak asasi manusia, penghargaan terhadap  kebebasan, rasionalitas, dan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Pada saat yang sama kita tahu bahwa konsep kemanusiaan universal dan ciri keduniawian yang dibawa mengandung bahaya yang sama besarnya dengan konsep Tuhan dari agama mana pun. Dilema dalam humanisme itu mendesak kita untuk menimbang ulang makna manusia dan kemanusiaan dalam humanisme.

Heidegger melontarkan kritik terhadap humanisme. Menurutnya, manusia tidak dapat diringkus ke dalam sebuah hakikat atau substansi seperti zoon logon dan animal rationale karena ia adalah suatu Ek-sistenz. Artinya, manusia bukanlah suatu inti yang oleh humanisme modern disebut subyektivitas atau subyek, karena ia akan selalu berdiri di luar pusat itu.

Para kritikus humanisme melihat gagasan besar tentang kemanusiaan yang pernah dominan dalam peradaban modern tidak lagi sesuai dengan fakta kompleksitas masyarakat dewasa ini.

Mengapa?

Karena gagasan humanisme teoritis, menindas kemajemukan cara hidup. Seperti sudah disinggung di atas, kemanusiaan sebagai gagasan metafisis-—tidak jauh berbeda dengan Tuhan dengan eksistensi-Nya ditolak oleh para humanis ateistis-—meringkus kebebasan manusia konkret.

Humanisme, gagasan besar tentang manusia dan bakat-bakat kodratinya sebagai pusat pemaknaan seluruh kenyataan, telah dianggap bangkrut oleh para kritikusnya. Menurut para kritikusnya, humanisme tidak banyak mengubah keadaan karena pergantian teosentrisme ke antroposentrisme tidak beranjak ke luar dari cara berpikir yang sama yang berlangsung dalam wilayah metafisika itu sendiri.

Jika Feuerbach menyebut teologi sebuah antropologi, dalam humanisme, kita justru menemukan suatu teologi diam-diam yang menempatkan manusia pada takhta Tuhan. []

Sumber: Osyad M Sabilurrosyad

About Author

1 thought on “Humanisme: Kemanusiaan yang Tidak Manusiawi

  1. Se seu marido excluiu o histórico de bate – Papo, você também pode usar ferramentas de recuperação de dados para recuperar as mensagens excluídas. Aqui estão algumas ferramentas de recuperação de dados comumente usadas:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories