
Muslim Berpaham Islam Tidak Terjebak oleh Ilusi Kebangsaan
MUSTANIR.net – Banyak Muslim hari ini terjebak dalam cara pandang yang memisahkan antara agama dan pengaturan kehidupan. Islam dipersempit sekadar menjadi ritual individual, sementara urusan politik, ekonomi, hukum, pendidikan, dan tata negara diserahkan kepada sistem buatan manusia.
Akibatnya, ketika negeri-negeri Muslim dilanda kemiskinan, korupsi, ketimpangan, penjajahan ekonomi, kerusakan moral, hingga ketidakadilan hukum, solusi yang terus ditawarkan hanyalah tambal sulam kebangsaan yang sejak awal lahir dari fondasi sekularisme. Padahal, seorang Muslim yang memahami agamanya secara benar akan menyadari bahwa sumber utama kerusakan bukan sekadar individu yang buruk, melainkan sistem hidup yang dibangun di atas pengabaian terhadap hukum Allah.
Islam tidak hadir hanya untuk mengatur masjid. Islam turun sebagai tatanan hidup yang sempurna. Allah tidak hanya memerintahkan shalat dan puasa, tetapi juga menetapkan aturan tentang kepemimpinan, ekonomi, peradilan, pendidikan, hubungan sosial, hingga politik luar negeri. Karena itu, ketika umat Islam menghadapi petaka sosial yang terus berulang, solusi hakikinya bukan sekadar pergantian rezim, kompromi politik, atau slogan nasionalisme, melainkan pengembalian kehidupan kepada tatanan Islam secara menyeluruh.
Nasionalisme selama ini dipropagandakan seolah menjadi jalan keselamatan. Padahal realitasnya, nasionalisme justru memecah belah umat Islam ke dalam sekat-sekat negara bangsa warisan kolonialisme. Umat yang seharusnya dipersatukan oleh akidah malah dipisahkan oleh bendera, batas wilayah, dan kepentingan geopolitik.
Atas nama cinta tanah air, kaum Muslim didorong menerima sistem ekonomi kapitalistik yang menindas, demokrasi yang melahirkan oligarki, dan hukum sekuler yang menyingkirkan syariat Allah dari ruang publik. [1]
Dalam kajian pascakolonial, konsep bangsa dan negara bangsa juga dipahami bukan sebagai entitas alamiah yang lahir secara murni dari kesadaran masyarakat, melainkan hasil konstruksi episteme kolonial yang dibentuk melalui narasi politik, pendidikan, peta wilayah, bahasa kekuasaan, dan rekayasa identitas kolektif. [2]
Kolonialisme modern tidak hanya menjajah wilayah fisik, tetapi juga membentuk cara berpikir kaum terjajah agar menerima batas-batas geopolitik dan identitas nasional sebagai sesuatu yang mutlak. Dari sinilah lahir ilusi kebangsaan: sebuah kesadaran semu yang membuat masyarakat merasa merdeka padahal tetap bergerak dalam kerangka sistem global warisan kolonial.
Karena dibangun di atas konstruksi manipulatif dan asas sekularisme, entitas kebangsaan pada akhirnya mustahil mampu menjadi jalan solutif bagi problem mendasar manusia, sebab ia sejak awal tidak bertumpu pada wahyu Allah, melainkan pada kepentingan politik dan rekayasa historis kekuasaan. [3]
Sejumlah akademisi dan penulis kontemporer juga menunjukkan bagaimana nasionalisme kerap diproduksi melalui penciptaan musuh imajiner, manipulasi sejarah, dan mobilisasi emosi massa demi melestarikan kekuasaan politik. Dalam kajian kritik sosial modern, nasionalisme bahkan dipandang dapat berubah menjadi instrumen pengalihan perhatian publik dari persoalan nyata seperti kemiskinan, pendidikan, dan ketimpangan sosial.
Dengan kata lain, ilusi kebangsaan bekerja bukan hanya melalui propaganda identitas, tetapi juga melalui reproduksi rasa takut dan glorifikasi simbol-simbol nasional agar masyarakat tetap tunduk pada struktur kekuasaan yang eksploitatif. [4]
Muslim berpaham Islam tidak akan terjebak oleh ilusi kebangsaan karena ia memandang identitas tertingginya bukanlah bangsa, ras, ataupun batas geografis, melainkan akidah Islam. Ia memahami bahwa persatuan umat tidak dibangun di atas kesamaan tanah air, tetapi di atas kesamaan iman dan ketundukan kepada Allah.
Ketika nasionalisme dijadikan asas utama kehidupan politik, umat Islam perlahan diarahkan untuk menempatkan loyalitas kepada negara bangsa di atas loyalitas kepada agama. Dari sinilah lahir pembenaran terhadap sistem sekuler yang bertentangan dengan syariat, selama dianggap sesuai dengan kepentingan nasional. Akibatnya, banyak Muslim akhirnya lebih rela mempertahankan warisan sistem kolonial daripada memperjuangkan penerapan Islam secara kaffah.
Lebih ironis lagi, setiap seruan untuk kembali kepada Islam kaffah justru sering dicurigai sebagai ancaman bagi negara. Umat ditakut-takuti dengan stigma radikalisme agar tetap tunduk pada tatanan sekuler yang nyata-nyata gagal menyejahterakan mereka. Padahal kerusakan moral, ketimpangan ekonomi, eksploitasi sumber daya oleh korporasi asing, hingga dominasi utang global bukanlah lahir dari penerapan Islam, melainkan dari penerapan sistem kapitalisme yang terus dipelihara atas nama pembangunan nasional.
Muslim yang memahami Islam secara mendalam tidak akan terjebak pada ilusi solusi parsial. Ia memahami bahwa selama hukum manusia ditempatkan di atas hukum Allah, maka kezaliman akan terus diproduksi secara sistemis. Selama kehidupan diatur oleh asas manfaat dan kepentingan elite, maka rakyat hanya akan menjadi objek eksploitasi. Dan selama umat Islam lebih loyal kepada identitas kebangsaan daripada persaudaraan akidah, maka umat akan terus mudah dipecah dan dilemahkan.
Karena itu, menyerukan penerapan tatanan Islam bukan sekadar pilihan ideologis, melainkan konsekuensi keimanan. Islam bukan utopia yang mustahil diwujudkan, tetapi petunjuk hidup yang memang diturunkan untuk menjadi rahmat bagi manusia. Sejarah telah menunjukkan bahwa ketika Islam diterapkan sebagai sistem kehidupan, lahirlah peradaban yang memuliakan manusia dengan keadilan, ilmu pengetahuan, dan kepemimpinan yang tunduk kepada wahyu, bukan kepada kepentingan oligarki.
Maka, di tengah krisis multidimensi yang terus melanda negeri-negeri Muslim hari ini, seorang Muslim sejati tidak cukup hanya mengeluh terhadap keadaan. Ia harus berani menyuarakan kebenaran bahwa akar persoalan umat adalah absennya penerapan Islam secara menyeluruh. Dan solusi sejatinya bukan mempercantik wajah sistem sekuler-kebangsaan, melainkan mengembalikan kehidupan kepada tatanan Islam yang bersumber dari Allah, Rabb semesta alam.
WalLâhu a’lam. []
Sumber: Martin Sumari
[1] Ernest Gellner, Bangsa dan Nasionalisme, terj. Kurniawan Abdullah (Yogyakarta: IRCiSoD, 2021), hlm. 87–92.
[2] Benedict Anderson, Komunitas-Komunitas Terbayang: Renungan tentang Asal-Usul dan Penyebaran Nasionalisme, terj. Omi Intan Naomi (Yogyakarta: INSIST Press, 2008), hlm. 9–15.
[3] Frantz Fanon, Kaum Terkutuk di Muka Bumi, terj. Utuy Tatang Sontani (Yogyakarta: Narasi, 2019), hlm. 145–152.
[4] Nilesh Rathod, “The Illusion of Nationalism,” Times of India Readers’ Blog, 4 Februari 2020, diakses melalui timesofindia.indiatimes.com
