
Ilusi Kemerdekaan: Pencapaian Paling Berbahaya dari Kolonialisme
MUSTANIR.net – Pencapaian paling berbahaya dari kolonialisme bukanlah sekadar bahwa ia menduduki tanah air kita, menjarah sumber daya kita, dan menggunakan perekonomian kita untuk melayani kepentingannya sendiri.
Sebaliknya, pencapaian yang sesungguhnya adalah bahwa sebelum meninggalkan tanah kita, kolonialisme berhasil membangun sebuah dunia yang sepenuhnya diciptakannya sendiri di dalam pikiran kita; sebuah cara berpikir yang terus bertahan jauh setelah kekuasaan kolonial secara formal berakhir.
Pasukan kolonial ditarik, bendera diturunkan, dan wajah-wajah baru memasuki ruang-ruang kekuasaan, tetapi peta kolonial berupa negara-bangsa tetap bertahan. Bukan sekadar petanya, melainkan juga konsep, kepentingan, identitas, dan berbagai pemisahan psikologis yang melekat pada peta tersebut terus bertahan.
Pada suatu masa, wilayah-wilayah yang merupakan bagian dari kesatuan politik dan peradaban yang luas dibagi menjadi entitas-entitas terpisah melalui batas-batas baru yang digambar ulang.
Batas-batas tersebut kemudian diubah dari sekadar garis geografis menjadi bagian dari identitas manusia.
Secara bertahap, muncul generasi yang menganggap seseorang yang hidup di seberang perbatasan sebagai “orang asing”, betapapun erat hubungan mereka dalam bahasa, agama, budaya, dan sejarah.
Hari ini, jika seorang Muslim mulai memandang Muslim lain seperti dirinya sebagai “orang asing” hanya karena mereka memiliki paspor yang berbeda, maka kita harus bertanya kepada diri sendiri:
Apakah perpecahan ini hanya terbatas pada peta, ataukah ia juga telah mengakar jauh di dalam pikiran kita?
Di sinilah tampak kecerdikan luar biasa sekaligus mengerikan dari kolonialisme: ia tidak sekadar membagi tanah air, tetapi juga menanamkan pembagian tersebut ke dalam pikiran manusia.
Kemudian, dibangunlah institusi-institusi yang terpisah untuk setiap negara baru, muncul kepentingan politik yang berbeda, prioritas ekonomi yang saling menyimpang, dan narasi-narasi nasional yang terpisah mulai dibentuk.
Pendidikan, media, dan wacana politik secara bertahap memperkuat gagasan bahwa identitas utama kita berada di dalam batas-batas negara kita dan bahwa cakupan loyalitas kita berakhir di sana.
Proses ini berlangsung begitu senyap sehingga kita nyaris tidak menyadarinya. Di sinilah kolonialisme meraih kemenangan yang paling berbahaya. Penjajahan asing terlihat, tetapi penjajahan pikiran tidak.
Ketika tentara asing hadir di suatu negeri, ketertundukan terlihat dengan jelas. Seragam tentara penjajah, benderanya, dan perintah-perintahnya terus mengingatkan masyarakat bahwa mereka tidak merdeka.
Namun, ketika sistem yang sama mulai beroperasi melalui institusi lokal, politik lokal, bahasa lokal, dan slogan-slogan lokal, penjajahan berubah wujud; dan pada akhirnya, penjajahan mulai tampak seperti kemerdekaan.
Karena itu, kemerdekaan yang sesungguhnya tidak sekadar berarti tentara asing meninggalkan tanah kita. Kemerdekaan juga bukan sekadar kebebasan untuk menurunkan satu bendera dan mengibarkan bendera lainnya.
Jika kita yang mengambil keputusan, tetapi prioritas dan standarnya ditentukan oleh pihak lain; jika institusinya milik kita, tetapi arah kebijakannya ditetapkan dari tempat lain; jika perekonomian kita tetap terikat pada kepentingan dan persyaratan kekuatan asing; jika sistem pendidikan kita terputus dari nilai-nilai peradaban kita sendiri; dan jika pemikiran politik kita tetap terkungkung dalam konsep-konsep yang sejak awal dirancang untuk memecah belah kita, maka kita harus mengajukan pertanyaan yang sulit:
Apakah kita benar-benar telah merdeka, atau sekadar berganti penguasa?
Tahap pertama dari kemerdekaan yang sesungguhnya adalah pembebasan pikiran. Kemerdekaan sejati dimulai ketika kita berhenti menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah disiapkan orang lain untuk kita dan mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan kita sendiri.
Untuk mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya, kita harus menentukan:
• Apa identitas kita?
• Di mana letak kepentingan kolektif kita?
• Siapa yang akan menentukan prioritas kita?
• Untuk tujuan apa perekonomian kita diabdikan?
• Kepentingan siapa yang akan diwakili oleh politik kita?
• Konsepsi tentang manusia seperti apa yang akan dibentuk oleh sistem pendidikan kita?
• Dan standar apa yang harus kita gunakan untuk menilai keputusan-keputusan politik kita?
Sebab, jika kita tidak membuat keputusan sendiri, pada akhirnya orang lain akan membuatkannya untuk kita. Dan jika kita tidak menentukan prioritas kita sendiri, orang lain akan menentukannya atas nama kita.
Bentuk penjajahan yang paling berbahaya adalah ketika orang yang dijajah kehilangan kemampuan bahkan untuk melihat rantai yang membelenggunya.
Dan tragedi penjajahan modern adalah bahwa ia tidak hadir dengan mengenakan rantai. Terkadang ia datang dalam bentuk utang, terkadang atas nama kepentingan bersama, terkadang dengan janji pembangunan, terkadang di bawah panji kebutuhan global, dan terkadang ia meresap ke dalam diri kita secara perlahan hingga akhirnya menjadi bagian dari cara berpikir kita sendiri.
Kemerdekaan tanah air memang penting, tetapi kemerdekaan pikiran jauh lebih penting.
Sebab, pikiran yang bahkan mempelajari makna kemerdekaan dari penjajahnya akan terus mengambil keputusan seperti orang yang terjajah meskipun hidup di tanah air yang merdeka, dengan tetap berpikir dalam kerangka intelektual yang sejak awal dirancang untuk mempertahankan ketertundukannya.
Kolonialisme akan mengalami kekalahan terbesarnya pada hari ketika kita tidak hanya melintasi batas-batas artifisial yang telah dibuatnya, tetapi juga berhasil menerobos batas-batas mental yang ditinggalkannya. []
Sumber: Amina SK
