Sekat Buatan Imperialis: Ancaman Nasionalisme terhadap Kesatuan Umat Islam

MUSTANIR.net – Bahaya nasionalisme (al-qawmiyyah) serta patriotisme atau kewilayahan (al-wathaniyyah) merupakan persoalan krusial yang perlu dikaji secara mendalam.

Gagasan ini menegaskan bahwa nasionalisme bukan sekadar konsep politik biasa, melainkan racun pemikiran yang merusak akidah, memecah belah umat, dan memperpanjang cengkeraman imperialisme Barat di dunia Islam.

1. Ikatan Dangkal yang Setara dengan Naluri Hewani

Jika ditelaah hakikat ikatan sosial dalam diri manusia, nasionalisme dan patriotisme sebenarnya adalah ikatan yang sangat dangkal, bersifat emosional, dan tidak layak dijadikan landasan persatuan.

Sifat emosional dan mengabaikan akal: Ikatan kebangsaan berakar dari gharizah al-baqā’ (naluri mempertahankan diri) atau ikatan kesukuan dan darah. Ia muncul secara spontan saat ada ancaman dari luar, namun akan memudar begitu ancaman itu hilang.

Analogi dengan naluri hewan: Ikatan patriotisme atau kewilayahan disamakan dengan naluri hewan yang mempertahankan sarang dan wilayahnya dari gangguan luar. Ia tidak didasari pemikiran yang jernih atau pemahaman akidah yang matang, melainkan semata-mata dorongan naluriah.

2. Alat Imperialisme Barat untuk Memecah Belah Umat

Sejarah masuknya paham nasionalisme ke dunia Islam membuktikan bahwa ide ini adalah produk impor yang disusupkan oleh penjajah Barat untuk menghancurkan khilafah Utsmaniyah.

Menghancurkan ukhuwah Islamiyah: Islam menyatukan manusia di atas landasan akidah, melampaui batas ras, warna kulit, dan wilayah. Nasionalisme merusak persatuan ini dengan menanamkan fanatisme kebangsaan—seperti pan-Arabisme dan pan-Turkisme—sehingga seorang Muslim bisa merasa lebih dekat dengan sesama bangsanya yang kafir daripada dengan saudaranya yang seakidah di negeri lain.

Melegalkan sekat-sekat buatan penjajah: Nasionalisme melegitimasi pembentukan negara-negara bangsa (nation state) yang batas-batasnya dibuat oleh penjajah. Akibatnya, umat Islam terpecah belah dalam puluhan negara kecil yang lemah, mudah saling berselisih, dan gampang dikendalikan oleh kekuatan kapitalisme global.

3. Penghalang Kebangkitan Hakiki Umat Islam

Syarat utama kebangkitan sebuah bangsa (an-nahdhah) tidaklah terletak pada semangat emosional, melainkan pada pemikiran ideologis (al-mabda’). Nasionalisme justru menghambat jalan menuju kebangkitan tersebut.

Nasionalisme membawa kemunduran: Nasionalisme tidak memiliki sistem hukum, aturan, maupun pandangan hidup yang utuh untuk menyelesaikan persoalan manusia. Menjadikannya sebagai dasar bernegara hanya akan menjerumuskan umat ke dalam sistem sekularisme yang menjauhkan diri dari Islam.

Hukum syariat: Mengadopsi ikatan nasionalisme sama dengan mengabaikan kewajiban berpegang teguh pada syariat Allah. Mendirikan negara atau organisasi politik yang berasaskan nasionalisme hukumnya haram, karena satu-satunya ikatan yang sah menurut syariat adalah ikatan akidah Islam.

Wallāhu a’lam bish-shawāb. []

Sumber: Ahmad Zen T

About Author

Categories