Indonesia Masih Terjajah, Hilirisasi Kekayaan Alam, Tetapi Tetap Asing Yang Kelola

jokowi-pusing

Indonesia Masih Terjajah, Hilirisasi Kekayaan Alam, Tetapi Tetap Asing Yang Kelola

Mustanir.com – Publik media sosial mengomentari pernyataan Presiden Jokowi yang mau memprioritaskan pengelolaan kekayaan alam na­sional di dalam negeri. Tweeps menilai, janji-janji itu banyak yang tidak sinkron. Yang kelola minyak, lebih banyak asing.

Warga pemilik akun media so­sial senang mendengar pemerintah berkeinginan melakukan hilirisasi atas seluruh sumber kekayaan alam nasional agar bernilai tambah. Diharapkan, Jokowi tidak sekadar pencitraan.

Akun @buton menilai, gembar-gembor Presiden Jokowi yang akan melakukan hilirisasi hasil kekayaan alam nasional hanya pencitraan belaka. Soalnya, banyak kebijakan pemerintah yang justru menurunkan nilai tambah dari kekayaan alam di bumi nusantara. “Lain di mulut lain di lapangan. Buktinya tetap izinkan konsentrat emas Papua diekspor. Izin asing diperpanjang lagi. Piye toh bos,” kicaunya.

Akun @bambang menganggap pernyataan bekas Gubernur DKI Jakarta yang akan mengelola keka­yaan alam nasional untuk kebutuhan dalam negeri aneh. Sebab, kebijakan anak buah Jokowi malah menjatuh­kan nilai kekayaan alam nasional. “Sudahlah jangan pencitraan. Lihat tuh anak buah Anda Menteri BUMN, malah apa-apa maunya impor dari China,” tudingnya.

Akun @darmo mengatakan, tidak ada gunanya program hilirisasi ke­kayaan alam di dalam negeri kalau yang mengelola kekayaan itu tetap pihak asing.

“Yang ngelola minyak aja Chevron yah sama aja bohong. Yang ada kita dibodoh-bodohin,” cuitnya.

Akun @milenium menilai, angan-angan Presiden Jokowi melakukan program hilirisasi sulit terwujud. Lantaran negara tidak punya modal untuk menjalankan program terse­but.

“Kelola kekayaan alam itu butuh duit banyak. APBN sudah habis buat gaji PNS. Ini paling cuma program sebatas harapan,” cuitnya.

Akun @kekdah bilang, percuma pemerintah mengelola kekayaan alam di dalam negeri kalau pada akhirnya hasilnya dijual ke luar negeri dengan harga sangat murah. “Hasil mineral diolah, tapi dijualnya mu­rah. Mending manyun saja negara ini,” komennya.

Akun @pipinvin mengatakan, kekayaan alam kelapa sawit saja yang sudah berhasil dikelola dengan baik oleh pengusaha di dalam negeri justru dipersulit penjualannya. “Ada sumber daya bagus buat mendapat­kan malah dipajakin gede. Nggak becus,” ketusnya.

Akun @wayan pesimistis bangsa Indonesia bisa memaksimalkan potensi kekayaan alam. Terlebih pe­merintahnya tidak punya usaha un­tuk maju dan mandiri. “Kerjaannya aja ngutang. Mental tempe,” kicaunya.

Akun @timol menyarankan, Presiden Jokowi tidak usah terlalu banyak janji menaikkan nilai jual kekayaan alam nasional. “Jangan ngomong doang bisanya,” sindirnya.

Akun @bkb mengklaim, di era pe­merintahan sekarang justru nilai jual kekayaan alam di sektor pertamban­gan, perminyakan, perkebunan dan pertanian babak belur. “Meringis hati kalau lihat kondisi sumber daya alam kita sekarang,” cuitnya.

Akun @zxc berkelakar, tidak mungkin Jokowi serius memikir­kan program hilirisasi kekayaan alam. Soalnya, waktunya sudah habis terbuang untuk blusukan dan menghadiri kegiatan seremonial. “Kerjanya kebanyakan hadirin un­dangan ini itu, sama bagi-bagi kartu sakti, haha,” kelakarnya.

Berbeda, akun @isnianto op­timistis pemerintahan Presiden Jokowi berhasil meningkatkan nilai jual kekayaan alam nasional. Dia berharap, semua pihak mendukung program Presiden. “Buktinya sudah ada walaupun belum banyak. Wajar karena beliau baru satu tahun men­jabat,” belanya.

Akun @putra mengatakan, bangsa Indonesia sesungguhnya bisa mak­mur kalau berhasil melakukan hiliri­sasi sumber daya alam. Menurutnya, banyak negara maju karena berhasil mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia.

“Jepang, Amerika, Eropa itu butuh kita. Makanya rakyat mendukung, cintailah produk dalam negeri. Rakyat jangan bisanya ngeluh sama ngomong doang,” belanya.

Presiden Jokowi kemarin meres­mikan mega proyek gas terinte­grasi Donggi Senoro di Banggai, Sulawesi Tengah (Sulteng) senilai US$ 5,6 miliar. Jokowi meneka­nkan setiap sumber daya alam yang ada harus mampu dimaksimalkan di dalam negeri untuk mendorong industri lokal agar menciptakan nilai tambah.

“Kita negara yang besar dengan kekayaan alam dengan bahan mentah yang macamnya banyak sekali, inilah yang harus dihilirsasi, ini harus ada pemikiran untuk reindustrialisasi besar-besaran,” kata Jokowi saat meresmikan Mega Proyek Gas Integrasi Pertamina, Banggai, Sulteng.

Jokowi mengatakan, hasil gas Donggi Senoro harus bisa diman­faakan oleh industri dalam negeri. Gas alam yang diolah menjadi LNGdi kilang Banggai Sulteng dipasok ke Aceh untuk keperluan industri dan pembangkit listrik PLN dan lainnya.

Jokowi mencontohkan proses nilai tambah sangat diperlukan Indonesia yang selama ini banyak menjual mentah sumber daya alam. Ia mencontohkan produk minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) harus diolah di dalam negeri, termasuk sektor mineral.

“Untuk bisa menopang itu harus ada energi yang dibangun, energi yang dipakai, dari mana, salah sa­tunya adalah yang diresmikan seka­rang. Maka itu proyek terintegrasi harus dibangun, di semua daerah. Energi yang terintegrasi dengan in­dustri. Ini akan berikan dampak be­sar bagi negara kita,” kata Jokowi.

Ia mendorong para pemerintah daerah menyiapkan kawasan-ka­wasan industri baru skala besar dan terintegrasi dengan sumber energi.

“Kalau menyiapkan jangan tang­gung-tanggung. Saya sudah sam­paikan yang dulu-dulu itu disiapkan hanya 10 -15 hektar itu buat apa, nggak menarik, 1000-2000 hektar itu baru menarik. Itu investor besar pasti yang datang,” tegas Jokowi. (rmol/adj)

Categories